Cerita 120 Tentara India Dikepung Pasukan China, Sebagian Dimutilasi

Sabtu, 20 Juni 2020 - 13:55 WIB
loading...
Cerita 120 Tentara India...
Orang-orang mengusung peti mati Satnam Singh, seorang prajurit India yang terbunuh dalam bentrok dengan pasukan China di Ladakh timur. Foto/REUTERS
A A A
NEW DELHI - Ada laporan mengejutkan dari pihak New Delhi terkait bentrok mematikan antara pasukan India dengan pasukan China di Ladakh timur Senin lalu.

Laporan itu menyebut sekitar 120 personel atau hampir satu kompi tentara New Delhi terperangkap dan dikepung oleh pasukan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Beijing. Para prajurit New Delhi diserang secara kejam, termasuk beberapa jasad tentara yang tewas dimutilasi. Laporan itu tidak merinci jumlah korban yang dimutilasi.

Laporan yang diterbitkan Indo-Asian New Service (IANS) tersebut mengutip sumber-sumber pemerintah dan mempelajari fakta di lapangan. Apa yang terjadi pada Senin lalu diklaim sebagai pertarungan tak seimbang dan bukan bentrok tangan kosong karena PLA menggunakan segala jenis senjata non-senjata api.

Sumber-sumber pemerintah New Delhi yang mengetahui rincian penjelasan tentang bentrok maut itu mengatakan pasukan Angkatan Darat India kalah jumlah ketika mereka diserang oleh pasukan PLA di titik patroli nomor 14 Jalur Kontrol Aktual (LAC) di Ladakh timur. (Baca: 43 Tentara China Tewas dan Terluka Saat Bentrok dengan India )

"Jumlah (personel tentara PLA) ditumpuk melawan pasukan Angkatan Darat India. Namun, pihak India memutuskan untuk melawan pasukan PLA. Tentara India kalah jumlah 1: 5 dari pasukan China," kata salah satu sumber pemerintah New Delhi.

Beijing juga disebut telah menggunakan drone pencitraan termal untuk melacak tentara New Delhi yang tersebar di medan berbahaya sebelum secara brutal menyerang mereka.

"Itu adalah serangan paling mematikan yang dilakukan terhadap personel Angkatan Darat India oleh personel militer China dalam ingatan kami," kata sumber lainnya di pemerintah New Delhi.

"Kami kalah jumlah," aku seorang perwira Angkatan Darat India, yang berbicara secara anonim tentang bentrokan yang berlangsung selama enam hingga tujuh jam, seperti dikutip dari Metro.co.uk, Sabtu (20/6/2020).

Seorang sumber pemerintah menyatakan bahwa Kolonel Santosh Babu yang telah tewas semula pergi untuk melihat apakah pasukan Beijing telah mundur dari posisi konflik, seperti yang dijanjikan oleh mereka. Namun, kata dia, Beijing ternyata menjebak para tentara India dan secara brutal menyerang mereka sampai pada level mutilasi.

Seorang pejabat militer New Delhi mengatakan tentara India pergi ke tempat di mana bentrokan terjadi tanpa bertindak permusuhan dan menunjukkan sikap ramah kepada pihak Beijing bahwa mereka ada di sana untuk memeriksa apakah perjanjian pengurangan eskalasi dipatuhi seperti yang dijanjikan.

"Tapi mereka menjebak dan melakukan serangan, tindakan murni biadab," kata pejabat tersebut kepada IANS. Beberapa prajurit Angkatan Darat India saat ini terluka parah dan sedang menjalani perawatan.

Pada hari Selasa, helikopter India terbang sekitar 16 kali untuk membawa jasad dan personel Angkatan Darat yang terluka dari lokasi serangan di Lembah Galwan. (Baca: Batang Besi Penuh Paku Ini Diduga Senjata dalam Bentrok India-China )

Militer New Delhi secara resmi mengonfirmasi 20 orang tentaranya, termasuk para perwira, tewas dalam bentrokan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan pasukan PLA di Lembah Galwan pada Senin malam. Militer juga mengatakan jumlah korban tewas bisa bertambah karena banyak prajurit terluka parah.

Pihak Beijing tak pernah bersedia mengonfirmasi jumlah tentaranya yang jadi korban dalam bentrok Senin lalu. Beijing tetap menolak kompromi atas wilayah perbatasan di Ladakh timur yang mereka nyatakan sebagai kedaulatannya.

Dua hari usai bentrok militer, Menteri Luar Negeri China Wang Yi melalui sambungan telepon dengan koleganya dari India, Subrahmanyam Jaishankar, menuntut New Delhi melakukan penyelidikan menyeluruh dan menghukum dengan keras mereka yang bertanggung jawab atas pecahnya bentrok.

"Pihak India sebaiknya tidak membuat penilaian yang salah terhadap situasi, lebih baik tidak meremehkan tekad kuat China untuk mengamankan wilayah kedaulatannya," kata Wang dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri China. (Simak juga infografis: AS Kerahkan 3 Kapal Induk ke Indo-Pasifik, Warning bagi China )
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Studi: Surplus Ekspor...
Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang
Standar Keselamatan...
Standar Keselamatan Kendaraan Listrik Baru China Lebih Ketat!
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Trump Sebut Aset Iran...
Trump Sebut Aset Iran Akan Dikendalikan AS, Ini Respons Keras Teheran
Rekomendasi
Cristiano Ronaldo Mengamuk,...
Cristiano Ronaldo Mengamuk, Portugal Pulangkan Uzbekistan
Haul Akbar Ploso, Gus...
Haul Akbar Ploso, Gus Muhaimin: Jangan Hanya Menonton, Santri Harus Jadi Solusi Bangsa
Ronaldo Raja Gol Portugal...
Ronaldo Raja Gol Portugal di Piala Dunia
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved