Polandia Umumkan Latihan Militer Besar-besaran, Warga Diminta Maklum

Sabtu, 30 April 2022 - 00:30 WIB
loading...
Polandia Umumkan Latihan...
Tentara berlutut di dekat tank dalam operasi militer. Foto/nato
A A A
WARSAWA - Polandia mengumumkan latihan militer besar-besaran yang akan datang. Pemerintah memperingatkan warga akan peningkatan lalu lintas dan "konvoi kendaraan militer" yang bergerak di seluruh negeri.

“Latihan akan dimulai pada 1 Mei dan berlanjut hingga akhir bulan,” ungkap militer Polandia dalam pernyataan pada Kamis.

“Kendaraan militer akan ditemukan di jalan raya, jalan bebas hambatan, dan jalan nasional,” papar militer.

Baca juga: Salinan Manifesto Hitler Mein Kampf Ditemukan di Pangkalan Batalion Azov

“Konvoi kedatangan dan perjalanan juga akan digunakan peserta latihan, yaitu untuk berlatih penerimaan dan penyebaran pasukan sekutu, untuk mengoordinasikan kegiatan lintas batas, dan untuk bekerja sama dengan negara tuan rumah,” papar militer, tanpa merinci "negara tuan rumah" mana yang sebenarnya mungkin terlibat dalam manuver tersebut.

Baca juga: 42 Terluka dalam Bentrokan di Masjid Al-Aqsa Pada Jumat Terakhir Ramadhan

Kendaraan militer akan bergerak di seluruh negeri terutama pada malam hari untuk meminimalkan dampak pada lalu lintas sipil.

Baca juga: Putin Bersumpah Respons Cepat Jika Ada yang Intervensi di Ukraina

Namun, beberapa manuver akan dilakukan pada siang hari, mendesak warga Polandia untuk menghindari merekam konvoi militer.

“Kami mengimbau masyarakat, mari kita lindungi data, terutama dalam situasi saat ini. Tolong jangan mempublikasikan informasi dan foto yang menunjukkan pergerakan pasukan dan lokasi mereka, tanggal dan waktu perjalanan konvoi militer, (atau) data keberangkatan dan pendaratan pesawat militer,” ungkap militer.

Militer menyatakan, mengunggah data tersebut ke web mungkin berdampak negatif terhadap “keamanan dan pertahanan” negara.

Pengumuman itu muncul ketika Direktur Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) Sergey Naryshkin menuduh Warsawa bersiap menduduki bagian barat Ukraina, yang dianggap Polandia sebagai "milik secara historis" di dalamnya.

“Potensi penyatuan kembali Polandia dengan Ukraina barat akan dilakukan dengan kedok pengerahan misi penjaga perdamaian ke negara itu dengan dalih melindungi Kiev dari agresi Rusia," tuduh Naryshkin.

“Warsawa saat ini sedang merundingkan rincian operasi dengan pemerintah AS,” ungkap Naryshkin.

Dia menambahkan operasi itu akan dieksekusi tanpa mandat NATO. “Polandia juga mencari negara lain untuk menjadi sukarelawan dan mengambil bagian dalam serangan itu, tetapi sejauh ini gagal mendapatkan sekutu untuk usahanya,” papar dia.

Selain itu, intelijen Polandia dikatakan sedang mencari politisi Ukraina yang "dapat diandalkan" untuk membentuk penyeimbang pro-Warsawa untuk nasionalis Ukraina.

Polandia dengan tegas membantah berusaha mencaplok bagian barat Ukraina, menolak tuduhan Naryshkin sebagai "operasi informasi melawan Polandia dan AS" yang dimaksudkan untuk menabur "ketidakpercayaan" antara Warsawa dan Kiev.

“Kebohongan tentang dugaan rencana Polandia menyerang Ukraina barat telah diulang selama beberapa tahun. Kampanye ini secara khusus diintensifkan setelah dimulainya invasi Rusia ke Ukraina,” ujar Stanislaw Zaryn, juru bicara Koordinator Badan Khusus Kementerian Polandia.

Polandia telah menjadi salah satu pendukung utama Kiev di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.

Polandia menjadi pusat utama pengiriman persenjataan Barat untuk militer Ukraina. Negara itu juga memasok peralatan militer era Soviet ke Kiev dari persediaannya sendiri.

Rusia menyerang negara tetangga pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina mengimplementasikan ketentuan perjanjian Minsk, yang pertama kali ditandatangani pada 2014, dan pengakuan akhirnya Moskow atas republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.

Protokol Minsk yang ditengahi Jerman dan Prancis dirancang untuk memberikan status khusus kepada daerah-daerah yang memisahkan diri di dalam negara Ukraina.

Kremlin sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS.

Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan telah membantah klaim pihaknya berencana merebut kembali kedua republik dengan paksa.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
6 Fakta NATO Jelang...
6 Fakta NATO Jelang KTT Ankara, Memiliki 3,3 Juta Prajurit dan Anggaran Militer Terbesar di Dunia
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Malaysia Tuntut Kompensasi...
Malaysia Tuntut Kompensasi Rp4,6 Triliun setelah Batal Dapatkan Rudal Canggih NSM Norwegia
Iran Tuduh NATO Terlibat...
Iran Tuduh NATO Terlibat Perang Gabungan AS-Israel Gara-gara Pengakuan Sekjen Mark Rutte
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 920 Orang Tewas, Hampir 50 Ribu Masih Hilang
Ngeri! Suhu Paris Lebih...
Ngeri! Suhu Paris Lebih Panas daripada Makkah
Rekomendasi
Ujian Tahun Pertama...
Ujian Tahun Pertama Kepengurusan AMKI, Mencari Bentuk di Tengah Industri Media
Jepang Gunakan Polisi...
Jepang Gunakan Polisi Wanita Berbasis AI untuk Memerangi Penipuan Identitas
Prabowo Respons Usulan...
Prabowo Respons Usulan Tambahan Beasiswa Doktor bagi Dosen: Akan Kita Tindak Lanjuti
Berita Terkini
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
Infografis
Membangkang, Panglima...
Membangkang, Panglima Israel Tolak Perintah Serang Gaza Besar-besaran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved