Turki: Ada Negara NATO Ingin Perang Ukraina Berlarut-larut untuk Lemahkan Rusia
Jum'at, 22 April 2022 - 15:21 WIB
loading...
A
A
A
“Ada negara-negara di dalam NATO yang menginginkan perang Ukraina berlanjut. Mereka melihat kelanjutan perang sebagai pelemahan Rusia. Mereka tidak terlalu peduli dengan situasi di Ukraina,” kata Cavusoglu, seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (22/4/2022).
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan setelah panggilan telepon dengan para pemimpin G7 pada hari Selasa bahwa Barat bersatu dalam tidak membiarkan Rusia menang."Dan bertekad untuk terus mempersenjatai militer Ukraina sehingga dapat terus mempertahankan diri terhadap serangan [Rusia]," katanya.
Turki telah memutuskan untuk tidak bergabung dengan sanksi yang dipimpin AS terhadap Rusia karena sanksi itu sepihak.
"Tidak seperti sanksi mengikat yang diputuskan di PBB,” kata Cavusoglu.
Turki sendiri merupakan anggota NATO, meski kebijakannya selama ini kerap berseberangan dengan AS.
Ankara mengartikulasikan posisinya pada hari pertama konflik Ukraina, yaitu melanjutkan kontak diplomatik dengan kedua belah pihak, sebagai negara yang dipercaya kedua belah pihak.
Sementara Turki tidak berharap banyak setelah pembicaraan Rusia-Ukraina pertama di Antalya, namun harapannya tinggi setelah pembicaraan lanjutan di Istanbul.
Namun, Ukraina memilih mundur dari kesepakatan yang dicapai di Istanbul setelah gambar dugaan pembantaian di Bucha, yang ditudingkan Kiev dilakukan oleh pasukan Rusia. Moskow telah membantah tuduhan itu.
Cavusoglu juga menjelaskan permintaan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk jaminan keamanan dari NATO.
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan setelah panggilan telepon dengan para pemimpin G7 pada hari Selasa bahwa Barat bersatu dalam tidak membiarkan Rusia menang."Dan bertekad untuk terus mempersenjatai militer Ukraina sehingga dapat terus mempertahankan diri terhadap serangan [Rusia]," katanya.
Turki telah memutuskan untuk tidak bergabung dengan sanksi yang dipimpin AS terhadap Rusia karena sanksi itu sepihak.
"Tidak seperti sanksi mengikat yang diputuskan di PBB,” kata Cavusoglu.
Turki sendiri merupakan anggota NATO, meski kebijakannya selama ini kerap berseberangan dengan AS.
Ankara mengartikulasikan posisinya pada hari pertama konflik Ukraina, yaitu melanjutkan kontak diplomatik dengan kedua belah pihak, sebagai negara yang dipercaya kedua belah pihak.
Sementara Turki tidak berharap banyak setelah pembicaraan Rusia-Ukraina pertama di Antalya, namun harapannya tinggi setelah pembicaraan lanjutan di Istanbul.
Namun, Ukraina memilih mundur dari kesepakatan yang dicapai di Istanbul setelah gambar dugaan pembantaian di Bucha, yang ditudingkan Kiev dilakukan oleh pasukan Rusia. Moskow telah membantah tuduhan itu.
Cavusoglu juga menjelaskan permintaan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk jaminan keamanan dari NATO.
Lihat Juga :