Berebut Simpati Indonesia, Ukraina dan Rusia Gunakan Narasi Ulama Islam
Jum'at, 25 Maret 2022 - 17:31 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, Kepala Pusat Koordinasi Muslim Kaukasus Utara, Ismail Berdiyev, mengatakan bahwa perang tidak pernah baik dan tidak ada orang normal yang senang dengan perang. “Namun, apa yang terjadi sekarang di Ukraina sudah merupakan tindakan terpaksa,” tegas sang mufti.
“Kami berdoa agar prajurit-prajurit kita kembali ke rumahnya masing-masing dengan selamat, dan kami berdoa kepada (Allah) Yang Mahakuasa supaya pihak Ukraina meletakkan senjatanya dan, dengan demikian, muncul perdamaian,” kata Mufti Berdiyev.
Menurut Kepala Majelis Spiritual Muslim Rusia Albir Krganov, umat Islam telah menyaksikan apa yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir di “negara Ukraina yang bersaudara”. “Kami berempati kepada rakyat Ukraina dan memahami bahwa sekarang adalah waktu yang sangat sulit bagi mereka,” lanjutnya. “Namun, kita tidak bisa melupakan kekejaman apa yang dilakukan di sana oleh kaum ultranasionalis yang, misalnya, membakar orang hidup-hidup di Odessa.”
“Kami tidak ingin hal semacam itu terjadi di Rusia, tetapi sebenarnya ada upaya untuk melakukan itu, persiapan telah berlangsung, dan Ukraina telah dipersiapkan sebagai batu loncatan untuk menyerang negara kami,” kata sang mufti.
Sedangkan kebijakan pemerintah Indonesia tidak goyah, yakni menganut prinsip “bebas aktif”, yang artinya bebas karena tidak memihak salah satu blok dan aktif untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Pemerintah Indonesia, sejauh ini telah mengecam perang di Ukraina, tapi tidak secara langsung menyalahkan Rusia. Jakarta juga tidak ambil bagian dalam menjatuhkan sanksi terhadap Moskow. Oleh karena itu, pemerintah Presiden Vladimir Putin tidak memasukkan Indonesia dalam daftar 48 negara dan teritori asing yang tak bersahabat dengan Rusia.
Kedutaan Rusia juga berterima kasih kepada Indonesia karena tidak memusuhi Moskow.
“Kami berdoa agar prajurit-prajurit kita kembali ke rumahnya masing-masing dengan selamat, dan kami berdoa kepada (Allah) Yang Mahakuasa supaya pihak Ukraina meletakkan senjatanya dan, dengan demikian, muncul perdamaian,” kata Mufti Berdiyev.
Menurut Kepala Majelis Spiritual Muslim Rusia Albir Krganov, umat Islam telah menyaksikan apa yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir di “negara Ukraina yang bersaudara”. “Kami berempati kepada rakyat Ukraina dan memahami bahwa sekarang adalah waktu yang sangat sulit bagi mereka,” lanjutnya. “Namun, kita tidak bisa melupakan kekejaman apa yang dilakukan di sana oleh kaum ultranasionalis yang, misalnya, membakar orang hidup-hidup di Odessa.”
“Kami tidak ingin hal semacam itu terjadi di Rusia, tetapi sebenarnya ada upaya untuk melakukan itu, persiapan telah berlangsung, dan Ukraina telah dipersiapkan sebagai batu loncatan untuk menyerang negara kami,” kata sang mufti.
Sedangkan kebijakan pemerintah Indonesia tidak goyah, yakni menganut prinsip “bebas aktif”, yang artinya bebas karena tidak memihak salah satu blok dan aktif untuk mewujudkan perdamaian dunia.
Pemerintah Indonesia, sejauh ini telah mengecam perang di Ukraina, tapi tidak secara langsung menyalahkan Rusia. Jakarta juga tidak ambil bagian dalam menjatuhkan sanksi terhadap Moskow. Oleh karena itu, pemerintah Presiden Vladimir Putin tidak memasukkan Indonesia dalam daftar 48 negara dan teritori asing yang tak bersahabat dengan Rusia.
Kedutaan Rusia juga berterima kasih kepada Indonesia karena tidak memusuhi Moskow.
(min)
Lihat Juga :