Mencuri karena Lapar, Wanita dan Anak Diikat ke Tiang Lampu di Ukraina

Rabu, 23 Maret 2022 - 09:48 WIB
loading...
Mencuri karena Lapar,...
Sejumlah wanita dan anak-anak diikat ke tiang lampu dan wajahnya dicat di kota Lviv, Ukraina. Foto/telegram
A A A
KIEV - Foto orang-orang di Ukraina yang diikat di tiang lampu dan disemprot dengan pewarna antiseptik hijau muncul di media sosial pada Senin (21/3/2022).

Menurut laporan, foto-foto itu diambil di kota Lviv, Ukraina. Para korban dilaporkan adalah orang Roma atau juga dikenal sebagai Gipsi.



Beberapa orang, termasuk remaja dan keluarga dengan wanita dan anak-anak, dilaporkan diikat ke tiang lampu dengan lakban.

Wajah mereka disemprot dengan pewarna antiseptik yang dikenal sebagai “zelyonka” di negara-negara bekas Soviet.

Baca juga: AS Kirim Rudal Patriot dalam Jumlah Besar ke Arab Saudi, Bujuk Soal Minyak?

Zat berwarna hijau itu sangat sulit untuk dibersihkan dan dapat menyebabkan luka bakar kimia pada mata.

Baca juga: Gawat, AS Bahas Kemungkinan Penggunaan Senjata Nuklir dalam Krisis Ukraina

Menurut media lokal, para korban dihukum karena mencoba mencuri dari penumpang di bus. Namun, ada klaim di media sosial bahwa mereka hanya mencoba mencuri makanan, karena mereka kelaparan setelah melarikan diri dari Kiev.

Baca juga: Rusia Beri Jawaban Tegas pada Gagasan Referendum Zelensky

Beberapa pengguna media sosial mengatakan hukuman berat itu karena kewarganegaraan korban.

Tindakan keji itu dituduhkan pada anggota Pasukan Pertahanan Teritorial, cabang sukarelawan militer Ukraina yang baru-baru ini didirikan. Pria berseragam dan bertopeng terlihat dalam gambar dari lokasi itu.

Lviv yang terletak di Ukraina barat dekat perbatasan Polandia, sejauh ini sebagian besar terhindar dari konflik yang sedang berlangsung di negara itu.

Pada pertengahan Maret, Rusia mengebom pangkalan tentara bayaran di Yavoriv di luar kota.

Moskow mengatakan hingga 180 orang asing yang pergi berperang untuk Kiev tewas di sana. Ukraina menyebutkan jumlah korban tewas 35 orang.

Laporan penganiayaan terhadap warga asing dan minoritas oleh kelompok radikal juga terjadi di bagian lain Ukraina sejak serangan Rusia dimulai pada akhir Februari.

Ada insiden siswa Afrika ditolak masuk ke kereta api dan bus yang membawa pengungsi ke luar negeri.

Keturunan Afrika yang berhasil mencapai perbatasan dengan Polandia dilarang oleh penjaga perbatasan untuk berdiri di barisan yang sama dengan warga negara Ukraina. Mereka disebut N-word, dan bahkan ada yang dipukuli.

Uni Afrika telah mengecam insiden ini sebagai "sangat rasis dan melanggar hukum internasional."

Warga India yang belajar di Ukraina mengatakan kepada media Rusia tentang perlakuan serupa yang diskriminatif.

Mereka juga mengeluh karena diusir dari tempat perlindungan bom, dengan penduduk setempat mengatakan kepada mereka bahwa mereka tidak akan membantu mereka karena India tidak membantu Ukraina dalam konflik.

Moskow mengirim pasukan ke negara tetangga bulan lalu menyusul kebuntuan tujuh tahun atas kegagalan Kiev menerapkan ketentuan perjanjian Minsk, dan pengakuan Rusia atas kemerdekaan republik Donbass di Donetsk dan Lugansk.

Protokol Minsk yang ditengahi Jerman dan Prancis dirancang untuk mengatur status wilayah di dalam negara Ukraina.

Rusia kini menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan NATO.

Tujuan lain dari operasi militer adalah untuk "mendenazifikasi" negara itu, menurut Moskow.

Kiev bersikeras bahwa serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim pihaknya merencanakan untuk merebut kembali kedua republik dengan paksa.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Serangan Drone Terbesar...
Serangan Drone Terbesar Ukraina Membakar Kilang Minyak Moskow, Rusia Janji Balas Dendam
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
Kisah Anjing Lucu Curi...
Kisah Anjing Lucu Curi Perhatian selama Piala Dunia 2026, Punya Arti Spesial buat Pemiliknya
Rekomendasi
Komnas HAM Diminta Awasi...
Komnas HAM Diminta Awasi Dugaan Kriminalisasi dan Penahanan Sulaiman
Raisa Duet dengan Sung...
Raisa Duet dengan Sung Si-kyung Bawakan Lagu 'Heaven Knows'
UU Polri Baru Dinilai...
UU Polri Baru Dinilai Perkuat Transformasi Polri dan Dukung Asta Cita
Berita Terkini
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
Infografis
7 Gejala Awal Penyakit...
7 Gejala Awal Penyakit Ginjal yang Terlihat di Kaki dan Tangan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved