Disuruh Barat Kutuk Invasi Rusia, PM Pakistan Marah: Apakah Kami Budakmu?

Senin, 07 Maret 2022 - 17:29 WIB
loading...
Disuruh Barat Kutuk...
Perdana Menteri Pakistan Imran Khan. Foto/REUTERS
A A A
ISLAMABAD - Pada 1 Maret, kepala 22 misi diplomatik asing untuk Pakistan, termasuk negara-negara anggota Uni Eropa (UE) mengeluarkan surat bersama untuk pemerintah Pakistan.

Isi surat bersama itu meminta Pakistan mendukung resolusi Majelis Umum PBB (UNGA) yang mengecam operasi khusus Rusia di Ukraina.

Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan tak dapat menyembunyikan kemarahannya terhadap tindakan negara-negara Barat tersebut.

Baca juga: Ukraina Sebut 20.000 Tentara Bayaran Segera Datang, Tapi Siapa Mereka?

Dia mengecam utusan Barat yang mengunjungi ibu kota negaranya, Islamabad, yang meminta Pakistan mengecam operasi militer khusus Rusia di Ukraina pekan lalu.

Baca juga: 4 Sniper Perempuan Rusia Paling Mematikan, Nomor 1 Habisi 309 Nyawa

PM Imran Khan menanyakan apakah mereka mengira Pakistan adalah "budak" mereka, menurut laporan Reuters atas tanggapannya pada Minggu (6/3/2022).

Baca juga: Profil Ramzan Kadyrov, Presiden Chechnya Pendukung Invasi Rusia di Ukraina

"Apa pendapatmu tentang kami? Apakah kami budakmu ... bahwa apa pun yang kamu katakan, kami akan lakukan?" tegas Khan berkomentar saat berbicara di acara politik, dilansir Sputnik pada Senin (7/3/2022).

Ketika UNGA memberikan suara untuk mengadopsi resolusi yang mengutuk operasi khusus Rusia untuk mendemilitarisasi dan mendenazifikasi Ukraina, Pakistan abstain dari pemungutan suara, dan begitu pula saingan politiknya di kawasan itu, India.

"Saya ingin bertanya kepada duta besar Uni Eropa: Apakah Anda menulis surat seperti itu ke India?" Khan berkata, sesuai terjemahan yang dirilis.



Khan juga dilaporkan mengatakan bahwa Eropa telah gagal mengutuk India atas Kashmir, wilayah pegunungan di mana Pakistan dan India telah berperang dua kali.

Perdana Menteri Khan menambahkan bahwa Pakistan telah menderita sebagai akibat dari bantuan Islamabad kepada aliansi NATO di Afghanistan, dan alih-alih terima kasih, dia malah menerima kecaman.

Khan dan pemerintahannya dikritik setelah melanjutkan kunjungan ke Moskow pada akhir Februari, tak lama sebelum operasi khusus di Ukraina diumumkan.

Dia bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin hanya beberapa jam setelah peluncuran operasi di Ukraina.

Namun, pada Minggu, Khan dilaporkan mengatakan bahwa, “Pakistan berteman dengan Rusia, dan kami juga berteman dengan Amerika; kami berteman dengan China dan Eropa; kami tidak berada di kubu mana pun."

Dia melanjutkan dengan mengatakan Pakistan akan tetap "netral" dan berkolaborasi dengan mereka yang bekerja untuk mengakhiri konflik Ukraina.

Pada Jumat, juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Pakistan dilaporkan menyatakan pada konferensi pers bahwa "bukan praktik diplomatik biasa" bagi utusan diplomatik untuk membuat permintaan publik seperti surat mereka, "dan kami telah menjelaskannya."



“Kami mencatat itu dan dalam pertemuan berikutnya dengan sekelompok duta besar, kami menyatakan keprihatinan kami tentang hal itu, karena seperti yang saya katakan, diplomasi tidak harus dilakukan, dan saya pikir mereka telah menyadarinya,” tegas juru bicara Kemlu Pakistan.

Beberapa utusan Eropa yang membagikan pernyataan bersama di Twitter dilaporkan menghapus tweet beberapa waktu setelahnya. Mereka tampaknya malu tweet itu jadi bahan ejekan netizen.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 920 Orang Tewas, Hampir 50 Ribu Masih Hilang
Viral! Pesawat Boeing...
Viral! Pesawat Boeing 777-200 Qatar Airways Terbang Sangat Rendah, ternyata...
Rekomendasi
Kejutan, Jerman Kebobolan...
Kejutan, Jerman Kebobolan Lawan Paraguay di Babak Pertama
Gaya Hidup Sehat, Konsumen...
Gaya Hidup Sehat, Konsumen Perkotaan Kian Selektif Pilih Pangan Harian
Besok Komisi I DPR Tetapkan...
Besok Komisi I DPR Tetapkan 7 Anggota KIP 2026-2030
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Infografis
Jika Diinvasi Barat,...
Jika Diinvasi Barat, Rusia Pastikan Gunakan Senjata Nuklir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved