Putin: Berbagai Peristiwa yang Terjadi di Donbass adalah Genosida

Rabu, 16 Februari 2022 - 13:39 WIB
loading...
Putin: Berbagai Peristiwa...
Pejuang Republik Rakyat Donetsk berlatih menembak di pinggiran Donetsk, Ukraina, 14 Desember 2021. Foto/REUTERS
A A A
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut berbagai peristiwa yang terjadi di wilayah Donbass Ukraina sebagai "genosida".

Sebelumnya pada hari itu, parlemen Rusia, Duma Negara, mengeluarkan permintaan resmi kepada Putin untuk mengakui Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk yang memproklamirkan kemerdekaan di timur Ukraina.

Putin juga mengomentari pengesahan Duma Negara Rusia yang memintanya mengakui dua republik yang memproklamirkan kemerdekaan di Donbass.

Baca juga: Makin Lancang, NATO Intai Kapal-kapal Perang Rusia di Laut Mediterania

Dia berharap kesepakatan Minsk masih mungkin dan belum terlambat untuk diterapkan.

Baca juga: Misteri Helikopter AS Mendarat di Perbatasan Ukraina-Polandia, Ini Penampakannya

Presiden Rusia kemudian mengkritik penolakan berulang kali Ukraina untuk menerapkan kesepakatan Minsk atau mengikuti resolusi yang dicapai sebagai bagian dari format Normandia dengan Jerman dan Prancis.

Baca juga: Meski Isu Invasi Rusia Gagal Total, AS Punya Teori Baru Plot Kudeta Ukraina

"Belum ada kemajuan dalam isu-isu mendasar seperti reformasi konstitusi, amnesti (untuk semua penduduk Donbass), pemilu lokal dan aspek hukum dari status khusus Donbass," ungkap Putin menyebutkan berbagai ketentuan kunci dari perjanjian Minsk 2015, dilansir Sputnik pada Rabu (16/2/2022).

Mengomentari lebih lanjut permintaan Duma, Putin mengatakan dia akan bertindak untuk kepentingan menyelesaikan masalah Donbass dan mengingat potensi implementasi perjanjian Minsk yang belum terealisasi.

Pemerintah Ukraina saat ini berkuasa sebagai hasil dari kudeta yang didukung Barat. Ukraina telah melancarkan perang melawan Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk yang memproklamirkan diri sejak 2014.

Wilayah Donbass memberontak karena khawatir hak penduduknya yang berbahasa Rusia untuk menggunakan bahasa apa pun yang mereka pilih, akan dilanggar oleh otoritas baru yang berpikiran nasionalis pro-Barat.

Ketakutan mereka terbukti benar beberapa tahun kemudian seiring memanasnya konflik di wilayah tersebut.

Meskipun gencatan senjata dinegosiasikan melalui mediasi internasional pada 2015, hanya sedikit kemajuan yang dicapai sejauh ini.

Pihak berwenang kedua republik secara teratur mengeluh bahwa Kiev telah melanggar gencatan senjata dan berusaha menyelesaikan konflik menggunakan cara militer.

Moskow, pada gilirannya, berulang kali mengutuk penolakan Kiev menerapkan perjanjian Minsk karena berbagai alasan.

Dalam salah satu contoh terbaru, Kiev memutuskan memperkenalkan rancangan undang-undang (RUU) di parlemen yang akan menolak amnesti bagi mereka yang telah berjuang untuk republik rakyat yang memproklamirkan diri setelah konflik berakhir.

Perjanjian Minsk menyatakan dengan jelas bahwa amnesti semacam itu harus diberikan kepada semua orang yang tinggal di daerah pemberontak begitu perdamaian tercapai.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Trump Ancam Ambil Alih...
Trump Ancam Ambil Alih Selat Hormuz, Sebut AS Malaikat Pelindung
Rekomendasi
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Ashanty Raih Gelar Doktor,...
Ashanty Raih Gelar Doktor, Wisuda Bersama Anang dan Azriel Hermansyah di Unair
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Berita Terkini
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Aktor Breaking Bad Giancarlo...
Aktor 'Breaking Bad' Giancarlo Esposito Masuk Islam saat Syuting di Arab Saudi
Iran Jawab Ancaman Trump:...
Iran Jawab Ancaman Trump: AS Sebaiknya Berhati-hati!
Trump Ancam Serang Iran...
Trump Ancam Serang Iran Sangat Keras Jika Tak Kendalikan Hizbullah!
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved