Terkait Perbudakan di Indonesia dan Negara Lain, Raja Belanda Setop Pakai Kereta Emas
Jum'at, 14 Januari 2022 - 21:01 WIB
loading...
A
A
A
Duduk di sebelahnya adalah seorang pria yang menawarkan buku kepada seorang anak laki-laki, yang menurut pelukis karya itu, Nicolaas van der Waay, pada tahun 1896 dimaksudkan untuk menggambarkan hadiah "peradaban" Belanda kepada koloni-koloninya.
Dalam video resmi yang mengumumkan langkah tersebut, Raja Willem-Alexander menerima bahwa kereta itu menyinggung sejumlah besar orang dan meminta negara itu menghadapi warisan sejarah kolonialnya bersama-sama.
"Tidak ada gunanya mengutuk dan mendiskualifikasi apa yang telah terjadi melalui lensa zaman kita," papar dia.
“Melarang benda dan simbol sejarah saja tentu juga bukan solusi. Sebaliknya, diperlukan upaya bersama yang lebih mendalam dan memakan waktu lebih lama. Upaya yang menyatukan kita bukan memecah belah kita,” ungkap dia.
"Selama ada orang yang tinggal di Belanda yang merasakan sakitnya diskriminasi setiap hari, masa lalu akan tetap membayangi zaman kita," papar dia.
Kereta kencana itu telah tidak digunakan selama beberapa tahun dan telah berada di Museum Amsterdam sejak proyek restorasi yang panjang selesai tahun lalu.
Juru kampanye anti-rasisme di Belanda menyambut baik langkah tersebut, tetapi telah meminta raja untuk mengambil tindakan lebih lanjut untuk menghadapi warisan kolonialisme.
"Dia mengatakan masa lalu tidak boleh dilihat dari perspektif dan nilai-nilai masa kini," ujar Mitchell Esajas, salah satu pendiri The Black Archives di Amsterdam.
Dalam video resmi yang mengumumkan langkah tersebut, Raja Willem-Alexander menerima bahwa kereta itu menyinggung sejumlah besar orang dan meminta negara itu menghadapi warisan sejarah kolonialnya bersama-sama.
"Tidak ada gunanya mengutuk dan mendiskualifikasi apa yang telah terjadi melalui lensa zaman kita," papar dia.
“Melarang benda dan simbol sejarah saja tentu juga bukan solusi. Sebaliknya, diperlukan upaya bersama yang lebih mendalam dan memakan waktu lebih lama. Upaya yang menyatukan kita bukan memecah belah kita,” ungkap dia.
"Selama ada orang yang tinggal di Belanda yang merasakan sakitnya diskriminasi setiap hari, masa lalu akan tetap membayangi zaman kita," papar dia.
Kereta kencana itu telah tidak digunakan selama beberapa tahun dan telah berada di Museum Amsterdam sejak proyek restorasi yang panjang selesai tahun lalu.
Juru kampanye anti-rasisme di Belanda menyambut baik langkah tersebut, tetapi telah meminta raja untuk mengambil tindakan lebih lanjut untuk menghadapi warisan kolonialisme.
"Dia mengatakan masa lalu tidak boleh dilihat dari perspektif dan nilai-nilai masa kini," ujar Mitchell Esajas, salah satu pendiri The Black Archives di Amsterdam.
Lihat Juga :