AS Dilaporkan Tolak Permintaan Israel Percepat Pasokan Pesawat Tanker

Kamis, 16 Desember 2021 - 00:43 WIB
loading...
AS Dilaporkan Tolak...
Pesawat tanker AS, KC-46, tengah melakukan pengisian bahan bakar di udara. Foto/AF.mil
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menolak untuk mempercepat pengiriman dua pesawat tanker ke Israel , di tengah ketidaksepakatan antara Washington dan Tel Aviv tentang bagaimana menangani program nuklir Iran .

Media AS The New York Times mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya melaporkan Washington mengatakan kepada Tel Aviv bahwa pesawat tanker KC-46 Angkatan Udara AS tengah dipesan kembali dan pesawat itu tidak mungkin dikirim sebelum akhir 2024 seperti dinukil Sputnik, Kamis (16/12/2021).

Klaim itu muncul setelah Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengajukan permintaan terkait pesawat tanker KC-46 selama pertemuannya dengan koleganya dari AS Lloyd Austin di Washington pekan lalu.

Maret lalu, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan hingga delapan pesawat tanker KC-46 dan peralatan yang relevan ke Israel dengan perkiraan biaya USD2,4 miliar.

Baca juga: Iran Pamer Hoveizeh, Rudal Jelajah yang Mampu Capai Israel

Pesawat KC-46 akan menggantikan pesawat tanker Ram (Boeing 707) Israel yang diperlukan untuk misi jarak jauh dan hampir berusia 60 tahun. Menurut The New York Times, KC-76 terbukti sangat penting untuk menyerang fasilitas nuklir Iran mengingat karakteristik pesawat tanker yang memungkinkan tiga jet untuk mengisi bahan bakar sekaligus dalam waktu tiga hingga empat menit.

Adapun kunjungan Gantz ke Washington, dilaporkan untuk memberitahu pejabat AS bahwa ia ingin menetapkan batas waktu ketika Pasukan Pertahanan Israel (IDF) harus menyelesaikan persiapan guna melancarkan serangan terhadap Iran untuk mencegah Teheran mendapatkan senjata nuklir.

Dia berbicara setelah Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mendesak masyarakat internasional akhir bulan lalu untuk tidak menyerah pada "pemerasan nuklir" Iran.

Ia juga tidak setuju untuk memulihkan perjanjian nuklir Iran , yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA), topik yang saat ini sedang dibahas di pembicaraan Wina.

Baca juga: Netanyahu: Kesalahan Besar Jika Israel Beri Tahu AS sebelum Serang Iran

Bennett berpendapat bahwa Teheran akan menuntut pencabutan semua sanksi, sementara diduga tidak memberikan imbalan apa pun dalam putaran baru negosiasi di Wina.

Sementara itu, Iran menggarisbawahi tidak memaksakan prasyarat atau kondisi baru apa pun selama pembicaraan Wina dan hanya ingin melihat pemulihan persyaratan awal perjanjian nuklir.

Pada 2015, China, Prancis, Rusia, Inggris, AS, Uni Eropa, dan Iran meneken JCPOA, yang dirancang untuk mencabut sanksi Amerika terhadap Iran dengan imbalan membatasi program nuklir Teheran.

Pada Mei 2018, AS secara sepihak menarik diri dari kesepakatan dan memberlakukan kembali sanksi keras terhadap Teheran. Sebagai tanggapan, Iran mengumumkan pengurangan bertahap kewajibannya berdasarkan perjanjian pada 2019, mengabaikan pembatasan penelitian nuklir, sentrifugal, dan tingkat pengayaan uranium.

Baca juga: Trump: Netanyahu Tak Pernah Berniat Berdamai dengan Palestina
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Tolak Klaim AS, Iran...
Tolak Klaim AS, Iran Tegaskan Aset yang Dicairkan Tidak untuk Beli Produk Pertanian Amerika
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
AS Bidik Tuan Rumah...
AS Bidik Tuan Rumah Piala Dunia 2038
Sebulan Ditahan di Libya,...
Sebulan Ditahan di Libya, Tiga Aktivis Pro Palestina Akhirnya Bebas
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
Jokowi Pede PSI Masuk...
Jokowi Pede PSI Masuk Parlemen Senayan di Pemilu 2029
Urutan Mandi Wajib Setelah...
Urutan Mandi Wajib Setelah Haid yang Benar agar Sah Melaksanakan Ibadah Fardhu Lagi
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
Berita Terkini
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved