Penjara Guayaquil, Tempat Paling Mematikan di Dunia: Napi Dimutilasi Jadi Rutinitas

Jum'at, 03 Desember 2021 - 16:04 WIB
loading...
Penjara Guayaquil, Tempat...
Penjara Guayaquil di Ekuador menjadi tempat paling mematikan di dunia dengan mutilasi antar-napi menjadi rutinitas dalam perang antargeng. Foto/REUTERS
A A A
GUAYAQUIL - Penjara Guayaquil di Ekuador tercatat sebagai penjara paling mematikan di dunia. Perang antargeng kriminal yang diwarnai pemenggalan dan mutilasi narapidana (napi) sudah menjadi rutinitas di fasilitas tahanan tersebut.

Dua komite PBB telah meminta Ekuador untuk menjamin keamanan di penjara negara itu, di mana lebih dari 300 narapidana tewas sejak awal 2020 dalam kekerasan geng.

Baca juga: Diduga Terlibat Hubungan Intim dengan Wanita, Uskup Agung Paris Mundur

Pakar independen dari Komite Menentang Penyiksaan dan Sub-komite Pencegahan Penyiksaan mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa mereka terkejut dengan kekerasan besar-besaran yang terus berlanjut di penjara-penjara Ekuador.

“Ekuador memiliki kewajiban untuk memastikan keamanan di dalam penjaranya dengan memberikan pelatihan yang tepat kepada petugas penjara dalam jumlah yang cukup dan mengembangkan strategi untuk mengurangi kekerasan di antara narapidana,” kata Claude Heller, yang memimpin Komite Menentang Penyiksaan, seperti dikutip AFP, Jumat (3/12/2021).

Pada 29 November, Presiden Ekuador Guillermo Lasso memperpanjang keadaan darurat di penjara negara itu selama satu bulan lagi.

Keputusan presiden mengatur “mobilisasi” polisi dan tentara untuk memperkuat dan membangun kembali ketertiban dan kontrol di semua penjara negara.

Kepala negara mengumumkan keadaan darurat di penjara negara itu pada 29 September setelah kematian 119 narapidana di sebuah fasilitas di Guayaquil, pembantaian terburuk di Amerika Latin.

Beberapa tahanan dimutilasi, dipenggal atau dibakar. Pada 14 November, 62 tahanan lainnya tewas di penjara yang sama dalam kekerasan antargeng baru terkait dengan perdagangan narkoba.

Pada tahun 2016, Komite PBB Menentang Penyiksaan, sebuah badan yang terdiri dari 10 ahli independen, telah menyatakan keprihatinannya tentang seringnya episode kekerasan antar-tahanan di penjara Ekuador, setelah meninjau situasi di negara itu.

“Selain mengatasi masalah kepadatan penduduk dan mengakhiri pengelolaan sendiri tempat-tempat penahanan para tahanan, negara perlu menyediakan mekanisme pencegahan nasionalnya dengan sumber daya yang cukup untuk memungkinkannya berfungsi dengan baik,” kata Suzanne Jabbour, ketua subkomite.

Baca juga: Gabungan 4.000 Pangeran, Kekayaan Keluarga Kerajaan Arab Saudi Kalahkan Orang Terkaya Sejagat

Subkomite, yang terdiri dari 25 ahli independen, berencana untuk mengunjungi negara itu dalam beberapa bulan mendatang. Terakhir, mereka mengunjungi negara itu pada tahun 2014.

Menurut data resmi, 65 penjara Ekuador 30 persen penuh sesak. Segala jenis senjata, narkoba dan handphone beredar dalam jumlah besar.

Terletak di antara Kolombia dan Peru, produsen utama kokain dunia, dan digunakan sebagai zona transit untuk pengiriman ke Amerika Serikat dan Eropa, Ekuador menghadapi peningkatan kejahatan terkait narkoba.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ghana Sahkan RUU Anti-LGBT,...
Ghana Sahkan RUU Anti-LGBT, Membela Gay Bakal Dipenjara 5 Tahun
Eks PM Thailand Thaksin...
Eks PM Thailand Thaksin Shinawatra Dibebaskan dari Penjara, Korupsi tapi Dihukum Ringan
Ingin Buka Lagi Penjara...
Ingin Buka Lagi Penjara Alcatraz, Trump Minta Dana Rp2,6 Triliun
Viral, Eks Pangeran...
Viral, Eks Pangeran Andrew Duduk Lemas usai Dibebaskan dari Penjara Terkait Skandal Epstein
Anggota DPR Ini Dipenjara...
Anggota DPR Ini Dipenjara 8 Bulan karena Mengkritik Presiden
Hong Kong Hukum Bos...
Hong Kong Hukum Bos Apple Daily Jimmy Lai 20 Tahun Penjara, Kritiknya Dicap Kolusi dengan Asing
Wajah Baru Lapas Indonesia,...
Wajah Baru Lapas Indonesia, Dirjen Pemasyarakatan: Tak Lagi Sekadar Penjara
Skandal Kerajaan, Putra...
Skandal Kerajaan, Putra dari Putri Mahkota Norwegia Divonis Penjara atas Tuduhan Pemerkosaan
Trump Sebut Israel Bisa...
Trump Sebut Israel Bisa Hancur dalam 24 Jam jika Iran Punya Senjata Nuklir
Rekomendasi
Sony Sonjaya Diperiksa...
Sony Sonjaya Diperiksa 18 Juni, Kejagung Dalami 26 Tokoh Terkait Kasus Korupsi MBG
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
71 Kali Gempa Susulan...
71 Kali Gempa Susulan Terjadi Pascagempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
Berita Terkini
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
7 Fakta Unik Cape Verde,...
7 Fakta Unik Cape Verde, Negara Kecil yang Bikin Spanyol Frustrasi di Piala Dunia 2026
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved