India Kecam Undang-Undang Perbatasan Darat China yang Baru
Kamis, 28 Oktober 2021 - 17:41 WIB
loading...
A
A
A
Wakil dekan Fakultas Hukum di bawah Universitas Renmin Tiongkok, Wang Xu, dikutip di surat kabar Global Times yang didukung pemerintah China mengatakan bahwa undang-undang tersebut akan berfungsi sebagai pedoman hukum bagi China dalam mengatasi semua kemungkinan sengketa perbatasan darat, termasuk konflik teritorial spesifik saat ini di perbatasan China-India.
Para pengamat mengatakan undang-undang baru itu merupakan indikasi bahwa kebuntuan militer di Himalaya kemungkinan akan berlarut-larut.
Baca juga: China Kerahkan Sistem Rudal S-400 Rusia di Dekat Ladakh, India Ketir-ketir
Menyebut undang-undang baru itu sebagai sinyal ketidakfleksibelan China, sebuah editorial di Times of India pada hari Selasa mengatakan bahwa itu berarti kebuntuan perbatasan mereka saat ini memiliki peluang kecil untuk resolusi yang memuaskan dan China tidak akan beranjak dari klaim perbatasannya karena tampaknya akan meresmikannya secara legal dengan membangun infrastruktur permanen dan sistem kontrol di daerah-daerah ini.
“Permusuhan yang lebih dingin mungkin akan menyusul,” editorial itu memperingatkan.
“China yang agresif, tidak fleksibel, dan suka berperang akan tetap ada di sini,” sambung editorial itu.
Para pengamat mengatakan undang-undang baru itu merupakan indikasi bahwa kebuntuan militer di Himalaya kemungkinan akan berlarut-larut.
Baca juga: China Kerahkan Sistem Rudal S-400 Rusia di Dekat Ladakh, India Ketir-ketir
Menyebut undang-undang baru itu sebagai sinyal ketidakfleksibelan China, sebuah editorial di Times of India pada hari Selasa mengatakan bahwa itu berarti kebuntuan perbatasan mereka saat ini memiliki peluang kecil untuk resolusi yang memuaskan dan China tidak akan beranjak dari klaim perbatasannya karena tampaknya akan meresmikannya secara legal dengan membangun infrastruktur permanen dan sistem kontrol di daerah-daerah ini.
“Permusuhan yang lebih dingin mungkin akan menyusul,” editorial itu memperingatkan.
“China yang agresif, tidak fleksibel, dan suka berperang akan tetap ada di sini,” sambung editorial itu.
(ian)
Lihat Juga :