Pengadilan Belanda: Harta Karun Emas Crimea Harus Dikembalikan ke Ukraina!

Rabu, 27 Oktober 2021 - 00:38 WIB
Pengadilan Belanda: Harta Karun Emas Crimea Harus Dikembalikan ke Ukraina!
Salah satu artefak dari harta karun emas Scythian milik museum Crimea. Pengadilan Belanda memutuskan harta karun emas itu harus dikembalikan ke Ukraina, bukan ke Rusia. Foto/Encyclopediaofukraine.com
A A A
AMSTERDAM - Pengadilan Belanda pada hari Selasa (26/10/2021) memutuskan bahwa harta karun emas yang digali di Crimea harus dikembalikan ke Ukraina . Putusan ini merupakan pukulan bagi untuk Rusia yang mengeklaim koleksi tersebut.

Crimea telah bergabung dengan Rusia setelah memisahkan diri dari Ukraina pada 2014. Kiev dan negara-negara Barat tidak mengakui penggabungan wilayah tersebut dan menganggap Moskow melakukan aneksasi atau pencaplokan wilayah.

Baca juga: Bawa Jet F-35, Kapal Induk Nuklir AS Carl Vinson Kembali ke Laut China Selatan

Baik Rusia maupun Ukraina sama-sama mengeklaim kepemilikan harta karun emas Scythian yang berasal dari abad ke-2 SM, yang dipinjamkan ke Museum Allard Pierson di Amsterdam.



Pameran museum "Crimea: Gold and Secrets of the Black Sea" dibuka pada Februari 2014, satu bulan sebelum Rusia merebut wilayah semenanjung Laut Hitam itu dari Ukraina.

Menurut laporan NOS, Pengadilan Banding Amsterdam memihak Kiev dan memutuskan bahwa koleksi lebih dari 2.000 barang, termasuk emas, harus dikembalikan ke Ukraina.

“Meskipun benda-benda itu berasal dari Crimea,” kata hakim, menurut sebuah video yang di-posting oleh kantor berita Rusia, RIA Novosti, “mereka adalah bagian dari warisan Ukraina setelah merdeka pada tahun 1991.”

Menurut RIA Novosti, hakim mengatakan putusannya dapat diajukan banding ke Mahkamah Agung Belanda.

Seorang pengacara untuk museum Crimea yang dikuasai Rusia mengatakan kepada RIA Novosti bahwa mereka memiliki waktu tiga bulan untuk mengajukan banding atas putusan tersebut, dalam hal ini pembahasan dapat berlangsung satu tahun lagi.
Halaman :
Mungkin Anda Suka
Komentar
Copyright © 2021 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1374 seconds (10.177#12.26)