Tes Rudal Hipersonik Berujung Kegagalan, AS Semakin Tertinggal dari China dan Rusia
Jum'at, 22 Oktober 2021 - 06:40 WIB
loading...
Uji coba terbaru rudal hipersonik gagal, AS semakin tertinggal dari China dan Rusia. Foto/Ilustrasi
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) mengalami kemunduran dalam perlombaan rudal hipersonik dengan China dan Rusia . Saat dua negara pesaingnya dilaporkansukses melakukan uji coba rudal hipersonik, tes rudal terbaru yang dilakukan oleh AS justru berujung kegagalan.
Dalam sebuah pernyataan, Pentagon mengatakan tumpukan booster, yang merupakan roket yang digunakan untuk mempercepat proyektil ke kecepatan hipersonik, gagal dan uji proyektil, badan luncur hipersonik, tidak dapat dilanjutkan.
Karena roket gagal, Pentagon tidak dapat menguji badan luncur hipersonik, yang merupakan komponen kunci yang diperlukan untuk mengembangkan senjata hipersonik.
Uji coba itu dilakukan di Kompleks Pelabuhan Antariksa Pasifik di Kodiak, Alaska pada Kamis waktu setempat. Para petugas mulai melakukan peninjauan terhadap tes tersebut guna memahami penyebab kegagalan booster.
"Eksperimen dan pengujian -- baik yang berhasil maupun yang tidak berhasil -- adalah tulang punggung pengembangan teknologi kritis yang sangat kompleks dengan kecepatan luar biasa, seperti yang dilakukan departemen dengan teknologi hipersonik," terang Tim Gorman, juru bicara Pentagon, dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari CNN, Jumat (22/10/2021).
Terbang dengan kecepatan Mach 5 atau lebih cepat, senjata hipersonik sulit dideteksi, menimbulkan tantangan bagi sistem pertahanan rudal. Rudal hipersonik dapat melakukan perjalanan pada lintasan yang jauh lebih rendah daripada rudal balistik lengkung tinggi, yang dapat dengan mudah dideteksi. Hipersonik juga dapat bermanuver dan menghindari sistem pertahanan rudal.
“Tes terbang ini merupakan bagian dari rangkaian uji terbang yang sedang berlangsung seiring kami terus mengembangkan teknologi ini,” kata Gorman.
Dalam sebuah pernyataan, Pentagon mengatakan tumpukan booster, yang merupakan roket yang digunakan untuk mempercepat proyektil ke kecepatan hipersonik, gagal dan uji proyektil, badan luncur hipersonik, tidak dapat dilanjutkan.
Karena roket gagal, Pentagon tidak dapat menguji badan luncur hipersonik, yang merupakan komponen kunci yang diperlukan untuk mengembangkan senjata hipersonik.
Uji coba itu dilakukan di Kompleks Pelabuhan Antariksa Pasifik di Kodiak, Alaska pada Kamis waktu setempat. Para petugas mulai melakukan peninjauan terhadap tes tersebut guna memahami penyebab kegagalan booster.
"Eksperimen dan pengujian -- baik yang berhasil maupun yang tidak berhasil -- adalah tulang punggung pengembangan teknologi kritis yang sangat kompleks dengan kecepatan luar biasa, seperti yang dilakukan departemen dengan teknologi hipersonik," terang Tim Gorman, juru bicara Pentagon, dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari CNN, Jumat (22/10/2021).
Terbang dengan kecepatan Mach 5 atau lebih cepat, senjata hipersonik sulit dideteksi, menimbulkan tantangan bagi sistem pertahanan rudal. Rudal hipersonik dapat melakukan perjalanan pada lintasan yang jauh lebih rendah daripada rudal balistik lengkung tinggi, yang dapat dengan mudah dideteksi. Hipersonik juga dapat bermanuver dan menghindari sistem pertahanan rudal.
“Tes terbang ini merupakan bagian dari rangkaian uji terbang yang sedang berlangsung seiring kami terus mengembangkan teknologi ini,” kata Gorman.
Lihat Juga :