Ini Alasan AS Tercengang dengan Uji Rudal Hipersonik China Berkemampuan Nuklir
Senin, 18 Oktober 2021 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
Sementara rudal itu meleset dari targetnya hampir 40 km, sumber-sumber tersebut mengatakan kepada The Financial Times bahwa tes tersebut menunjukkan bahwa China telah membuat kemajuan luar biasa pada senjata hipersonik dan jauh lebih maju daripada yang disadari oleh pejabat AS.
"Kami tidak tahu bagaimana mereka melakukan ini," kata salah satu sumber yang mengetahui tes senjata tersebut kepada The Financial Times.
Baca juga: Dokumen: Mata-mata Inggris Terlibat Pembantaian Massal PKI di Indonesia
Taylor Fravel, seorang ahli senjata nuklir China di Massachusetts Institute of Technology, mengatakan kepada The Financial Times bahwa teknologi tersebut dapat membantu China “meniadakan” atau membuat sistem pertahanan rudal canggih AS tak akan berguna.
Menurutnya, sistem pertahanan rudal Amerika hanya dirancang untuk menargetkan lintasan parabola tetap dari rudal balistik tradisional.
Mengomentari berita tersebut, Ryan Fedasiuk, seorang analis riset di Georgetown University’s Center for Security and Emerging Technology, menjelaskan signifikansinya.
“Elemen kendaraan luncur hipersonik sangat penting, bukan karena kecepatannya, yang melebihi Mach 5, seperti yang dilakukan hampir semua rudal balistik, tetapi karena profil penerbangannya yang rendah yang sangat bagus dalam menghindari sensor berbasis darat,” kata Fedasiuk dalam wawancara podcast.
“AS bergantung pada beberapa sensor ini untuk mengambil pandangan sudut lebar objek di luar angkasa, dan jika ini diluncurkan dalam krisis nyata, AS mungkin akan dapat mendeteksi peluncurannya tetapi tidak dapat memprediksi jalur penerbangannya dengan andal," paparnya.
"HGV [hypersonic glide vehicle] memiliki kemampuan manuver yang sangat tinggi di tengah penerbangan, sehingga sistem pertahanan rudal balistik yang diandalkan AS umumnya tidak mampu menyerang target semacam ini," imbuh dia.
"Kami tidak tahu bagaimana mereka melakukan ini," kata salah satu sumber yang mengetahui tes senjata tersebut kepada The Financial Times.
Baca juga: Dokumen: Mata-mata Inggris Terlibat Pembantaian Massal PKI di Indonesia
Taylor Fravel, seorang ahli senjata nuklir China di Massachusetts Institute of Technology, mengatakan kepada The Financial Times bahwa teknologi tersebut dapat membantu China “meniadakan” atau membuat sistem pertahanan rudal canggih AS tak akan berguna.
Menurutnya, sistem pertahanan rudal Amerika hanya dirancang untuk menargetkan lintasan parabola tetap dari rudal balistik tradisional.
Mengomentari berita tersebut, Ryan Fedasiuk, seorang analis riset di Georgetown University’s Center for Security and Emerging Technology, menjelaskan signifikansinya.
“Elemen kendaraan luncur hipersonik sangat penting, bukan karena kecepatannya, yang melebihi Mach 5, seperti yang dilakukan hampir semua rudal balistik, tetapi karena profil penerbangannya yang rendah yang sangat bagus dalam menghindari sensor berbasis darat,” kata Fedasiuk dalam wawancara podcast.
“AS bergantung pada beberapa sensor ini untuk mengambil pandangan sudut lebar objek di luar angkasa, dan jika ini diluncurkan dalam krisis nyata, AS mungkin akan dapat mendeteksi peluncurannya tetapi tidak dapat memprediksi jalur penerbangannya dengan andal," paparnya.
"HGV [hypersonic glide vehicle] memiliki kemampuan manuver yang sangat tinggi di tengah penerbangan, sehingga sistem pertahanan rudal balistik yang diandalkan AS umumnya tidak mampu menyerang target semacam ini," imbuh dia.
Lihat Juga :