Kisah ‘Anyone Can Cook’ Kenalkan Produk Indonesia ke Masyarakat Internasional
Kamis, 09 September 2021 - 14:17 WIB
loading...
A
A
A
Komunitas ACC juga memfasilitasi anggota yang sekiranya senang membagikan ilmu dan keterampilannya. Di antaranya dengan mengadakan kelas memasak, membuat kue dan juga kelas pembuatan sabun.
Bahkan di saat pandemi COVID-19 melumpuhkan kegiatan banyak pihak, komunitas ini sukses mengadakan “Online Food Bazaar: Festival Kuliner Indonesia” yang melibatkan delapan UKM, 17 menu dengan harga 45 dirham dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.
Saat ini anggota komunitas ACC mencapai 300 orang. Sebagian besar didominasi oleh ibu rumah tangga yang juga memiliki semangat untuk membanggakan Indonesia dengan melakukan diplomasi melalui kuliner. Diplomasi kuliner dipilih karena merupakan sarana promosi paling mudah yang dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Dia mencontohkan, jamu kunyit asam buatan Kristantinah Chika yang mendapat sambutan positif tidak hanya dari warga Indonesia tapi juga masyarakat internasional, baik itu warga negara Malaysia, India bahkan Portugal. Chika menuturkan bahwa dia tidak hanya ingin mengenalkan jamu sebagai minuman yang menyehatkan, namun juga warisan budaya bangsa.
“Di tengah kesibukan saya mengurus dua anak, saya menyempatkan diri untuk memproduksi jamu. Harapan saya, masyarakat internasional tahu bahwa Indonesia tidak hanya punya batik dan rendang tapi juga jamu,” katanya.
Demografi penduduk UEA yang 85% didominasi oleh pendatang dari berbagai negara menjadi kesempatan berharga bagi anggota komunitas ACC untuk belajar memperkaya wawasan tentang kebudayaan dan kuliner negara lain. Di antaranya Nenden Setiawati dan Fitri Mutia yang mengembangkan bisnis kulinernya ke tanah air.
Menggunakan merk dagang “Nenz Gourmet”, Nenden menjual berbagai macam kue dan roti yang sempat dia pelajari di Abu Dhabi. Begitu pula Syahfitri Mutia yang setelah 11 tahun menetap di Abu Dhabi, memutuskan untuk berkarya di ibu pertiwi. Cinnamon Roll, Nasi Kabsah dan Nasi Biryani buatan tangannya dapat dipesan melalui akun Instagram @feed.three.
Di luar bidang kuliner, Ken Debby, anggota ACC lainnya, merintis bisnis fashion dengan menggunakan kain batik sebagai bahan utamanya. Dia mengungkapkan bahwa produknya tidak hanya diminati oleh masyarakat Indonesia, tapi juga warga Prancis, Italia, Amerika Latin, dan lain sebagainya. Tidak kurang 15 perajin lokal yang terlibat dalam bisnis fashion miliknya.
Bahkan di saat pandemi COVID-19 melumpuhkan kegiatan banyak pihak, komunitas ini sukses mengadakan “Online Food Bazaar: Festival Kuliner Indonesia” yang melibatkan delapan UKM, 17 menu dengan harga 45 dirham dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.
Saat ini anggota komunitas ACC mencapai 300 orang. Sebagian besar didominasi oleh ibu rumah tangga yang juga memiliki semangat untuk membanggakan Indonesia dengan melakukan diplomasi melalui kuliner. Diplomasi kuliner dipilih karena merupakan sarana promosi paling mudah yang dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Dia mencontohkan, jamu kunyit asam buatan Kristantinah Chika yang mendapat sambutan positif tidak hanya dari warga Indonesia tapi juga masyarakat internasional, baik itu warga negara Malaysia, India bahkan Portugal. Chika menuturkan bahwa dia tidak hanya ingin mengenalkan jamu sebagai minuman yang menyehatkan, namun juga warisan budaya bangsa.
“Di tengah kesibukan saya mengurus dua anak, saya menyempatkan diri untuk memproduksi jamu. Harapan saya, masyarakat internasional tahu bahwa Indonesia tidak hanya punya batik dan rendang tapi juga jamu,” katanya.
Demografi penduduk UEA yang 85% didominasi oleh pendatang dari berbagai negara menjadi kesempatan berharga bagi anggota komunitas ACC untuk belajar memperkaya wawasan tentang kebudayaan dan kuliner negara lain. Di antaranya Nenden Setiawati dan Fitri Mutia yang mengembangkan bisnis kulinernya ke tanah air.
Menggunakan merk dagang “Nenz Gourmet”, Nenden menjual berbagai macam kue dan roti yang sempat dia pelajari di Abu Dhabi. Begitu pula Syahfitri Mutia yang setelah 11 tahun menetap di Abu Dhabi, memutuskan untuk berkarya di ibu pertiwi. Cinnamon Roll, Nasi Kabsah dan Nasi Biryani buatan tangannya dapat dipesan melalui akun Instagram @feed.three.
Di luar bidang kuliner, Ken Debby, anggota ACC lainnya, merintis bisnis fashion dengan menggunakan kain batik sebagai bahan utamanya. Dia mengungkapkan bahwa produknya tidak hanya diminati oleh masyarakat Indonesia, tapi juga warga Prancis, Italia, Amerika Latin, dan lain sebagainya. Tidak kurang 15 perajin lokal yang terlibat dalam bisnis fashion miliknya.
Lihat Juga :