Meninggal, Pemuda 20 Tahun Jadi Korban COVID-19 Termuda di Australia

Rabu, 04 Agustus 2021 - 15:28 WIB
loading...
Meninggal, Pemuda 20...
Meninggal akibat COVID-19, pemuda 20 tahun jadi korban termuda di Australia. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A A A
SYDNEY - Negara bagian Australia , New South Wales (NSW), melaporkan salah satu kematian termuda akibat COVID-19 di negara itu pada Rabu (4/8/2021). Laporan itu muncul ketika infeksi harian bertahan di dekat level tertinggi selama 16 bulan meskipun penguncian terhadap 5 juta orang di Sydney memasuki minggu keenam.

Pihak berwenang setempat mengatakan pria berusia 20-an tahun yang tidak disebutkan namanya itu dan tidak memiliki masalah kesehatan bawaan serta tidak divaksinasi meninggal di rumahnya di kota.

"Dia memburuk dengan cepat setelah sebelumnya mengeluh hanya gejala ringan," tambah mereka seperti dikutip dari Reuters.

Pria itu tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin Pfizer, karena Australia membatasi jenis itu untuk orang berusia di atas 40 tahun di tengah persediaan yang terbatas, sementara Canberra baru-baru ini memberi tahu orang-orang untuk menggunakan vaksin AstraZeneca saat kasus membengkak, setelah sebelumnya membatasinya pada orang di atas 60 tahun.

Kematian tersebut menyoroti risiko yang dihadapi kota terbesar di Australia, yang sedang berjuang untuk menahan wabah varian Delta yang sangat menular ketika kurang dari 20% penduduk Sydney divaksinasi.

Tahun lalu, negara bagian tetangga Victoria mengatakan seorang pria yang tidak disebutkan namanya juga berusia 20-an tahun telah meninggal karena COVID-19, meskipun seorang koroner masih menyelidiki penyebab pasti kematiannya.

Tidak jelas apakah pria Sydney itu tertular varian virus corona Delta tetapi sebagian besar kasus terbaru di New South Wales adalah tipe tersebut. Data awal menunjukkan Delta lebih menular dan kemungkinan menyebabkan efek yang lebih parah daripada varian virus Corona sebelumnya, meskipun para ahli lain memperingatkan lebih banyak temuan diperlukan.

Pemuda itu adalah satu dari dua kematian akibat COVID-19 yang dilaporkan di New South Wales dalam 24 jam terakhir. New South Wales juga mencatat 233 kasus baru, mendekati level tertinggi 16 bulan yang dilaporkan minggu lalu, dan Perdana Menteri Negara Bagian Gladys Berejiklian mengatakan jumlah kasus kemungkinan akan bertambah.

"Saya tidak akan mengesampingkan jumlah kasus tidak akan bertambah buruk, saya benar-benar berpikir mereka akan bertambah buruk," kata Berejiklian kepada wartawan di Sydney, ibu kota New South Wales.

"Jika Anda melihat jumlah orang yang menular di masyarakat, itu menunjukkan bahwa mungkin kita belum mencapai puncaknya," imbuhnya.

Setidaknya 68 dari 233 kasus baru tidak diisolasi untuk seluruh periode infeksi mereka.

Berejiklian berada di bawah tekanan kuat untuk melonggarkan pembatasan pergerakan yang mengancam akan mendorong Australia ke dalam resesi kedua dalam beberapa tahun. Namun, dia mengatakan setidaknya 50% dari populasi negara bagian perlu divaksinasi agar pembatasan dilonggarkan pada akhir Agustus.

Baca juga: Lockdown Diperketat, Tentara Patroli di Jalanan Sydney

Namun, banyak yang tetap waspada terhadap penggunaan vaksin AstraZeneca, yang paling banyak dari dua vaksin yang disetujui di negara ini, karena masalah pembekuan darah yang langka.

Selain itu, pemodelan pemerintah yang dirilis pada hari Selasa menunjukkan setidaknya 70% dari populasi negara bagian perlu diinokulasi untuk memperlambat penyebaran.

Pemodelan tersebut juga menunjukkan Australia harus mengintensifkan vaksinasi orang muda, yang cenderung menyebarkan virus lebih sering tetapi tidak dapat mengamankan vaksin Pfizer.

Pihak berwenang telah memperingatkan orang-orang untuk tidak menunggu peningkatan pasokan Pfizer yang diharapkan bulan depan karena jumlah kasus terbukti sulit untuk dikurangi dan tes limbah menunjukkan bahwa virus Corona mungkin telah menyebar ke utara.

New South Wales telah mengambil tindakan pencegahan agresif untuk menghentikan penyebaran virus Corona, termasuk menutup pinggiran kota yang berisiko tinggi dan meminta militer untuk membantu polisi menegakkan aturan penguncian.

Sebanyak 17 orang telah meninggal di Sydney selama wabah saat ini yang dimulai pada 16 Juni. Selama waktu itu, lonjakan telah mendorong total kasus di New South Wales menjadi lebih dari 4.000.

Secara nasional, Australia telah mencatat 927 kematian sejak awal pandemi, dengan lebih dari 35.000 kasus dari sekitar 25 juta orang.

Queensland pada hari Rabu melaporkan 16 kasus yang didapat secara lokal, sama seperti hari sebelumnya, mendorong pihak berwenang untuk menyatakannya sebagai wabah terburuk di negara bagian itu sejak awal pandemi dan memperingatkan bahwa penguncian di ibu kota Brisbane mungkin diperpanjang melampaui hari Minggu.

"Jika kami tidak melakukan sesuatu yang sangat, sangat, sangat istimewa di Queensland, kami akan memperpanjang penguncian," kata Kepala Petugas Kesehatan Queensland Jeannette Young kepada wartawan di Brisbane.

Baca juga: Setelah Sydney, Giliran Brisbane Lakukan Lockdown
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Australia Sita 100.000...
Australia Sita 100.000 Kecoak Selundupan, Harganya Rp2,5 Miliar
Negara Tetangga Indonesia...
Negara Tetangga Indonesia Ini dan Sekutunya Kembangkan Drone Bawah Laut
Alwi Farhan Juara Australia...
Alwi Farhan Juara Australia Open 2026, Indonesia Bawa Pulang 1 Gelar dan 2 Runner Up
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Zelensky Ajak Putin...
Zelensky Ajak Putin Bertemu di AS: Kalau Diminta Trump Dia Sulit Menolak
Rekomendasi
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan Hari Ini, Buyback Jadi Rp2,4 Juta per Gram
Kritisi Parpol Koalisi,...
Kritisi Parpol Koalisi, Deddy PDIP: Jika Tidak Nyaman dengan Situasi Politik, Silakan Keluar dari Pemerintahan
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Transportasi Umum dan Tempat Wisata Gratis juga Berlaku bagi Warga KTP Non-DKI
Berita Terkini
Meski IRGC Tutup Selat...
Meski IRGC Tutup Selat Hormuz, Perundingan Damai AS dan Iran Digelar di Swiss
Wabah Flu Serang Pangkalan...
Wabah Flu Serang Pangkalan AS, 159 Tentara Jatuh Sakit
Raja Charles Inggris...
Raja Charles Inggris Akan Ungkap Tagihan Pajak Pribadinya, Berapa Besar?
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
Infografis
Geser Taylor Swift,...
Geser Taylor Swift, Lucy Guo Jadi Wanita Terkaya Termuda di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved