Langka, Israel Kecam Penindasan China terhadap Muslim Uighur
Kamis, 24 Juni 2021 - 06:23 WIB
loading...
Miniatur bendera nasional China dan Israel dipajang di acara pertemuan pejabat kedua negara di Tel Aviv, Israel. Foto/REUTERS/Baz Ratner/File Photo
A
A
A
TEL AVIV - Pemerintah Israel untuk pertama kalinya mengecam apa yang mereka sebut penindasan China terhadap komunitas muslim Uighur . Langkah langka pemerintah Zionis ini muncul setelah ada tekanan dari pemerintah Amerika Serikat (AS).
Israel menandatangani pernyataan bersama yang disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) yang mendesak China untuk mengizinkan pengamat independen mengakses wilayah Xinjiang barat.
Baca juga: Bagaimana 'Jet Tempur Tercanggih Rusia Su-57' Ada di Armada AL AS?
Menurut para ahli PBB, di Xinjiang barat itulah hampir satu juta orang Uighur dan komunitas minoritas lainnya telah ditahan secara tidak sah di kamp-kamp.
Pernyataan bersama—didukung oleh Australia, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Spanyol dan AS—mengutip laporan tentang penyiksaan atau perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat, sterilisasi paksa, kekerasan seksual dan berbasis gender dan pemisahan paksa anak dari orang tuanya.
Beijing telah berkali-kali membantah semua tuduhan penindasan terhadap komunitas Uighur dan menggambarkan kamp-kamp itu sebagai fasilitas pelatihan kejuruan untuk memerangi ekstremisme agama.
"Laporan yang dapat dipercaya menunjukkan bahwa lebih dari satu juta orang telah ditahan secara sewenang-wenang di Xinjiang dan bahwa ada pengawasan luas yang secara tidak proporsional menargetkan orang-orang Uighur dan anggota minoritas lainnya dan pembatasan kebebasan mendasar dan budaya Uighur," bunyi pernyataan bersama tersebut seperti dikutip Walla News, Rabu (23/6/2021).
Israel menandatangani pernyataan bersama yang disampaikan kepada Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) yang mendesak China untuk mengizinkan pengamat independen mengakses wilayah Xinjiang barat.
Baca juga: Bagaimana 'Jet Tempur Tercanggih Rusia Su-57' Ada di Armada AL AS?
Menurut para ahli PBB, di Xinjiang barat itulah hampir satu juta orang Uighur dan komunitas minoritas lainnya telah ditahan secara tidak sah di kamp-kamp.
Pernyataan bersama—didukung oleh Australia, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Spanyol dan AS—mengutip laporan tentang penyiksaan atau perlakuan atau hukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat, sterilisasi paksa, kekerasan seksual dan berbasis gender dan pemisahan paksa anak dari orang tuanya.
Beijing telah berkali-kali membantah semua tuduhan penindasan terhadap komunitas Uighur dan menggambarkan kamp-kamp itu sebagai fasilitas pelatihan kejuruan untuk memerangi ekstremisme agama.
"Laporan yang dapat dipercaya menunjukkan bahwa lebih dari satu juta orang telah ditahan secara sewenang-wenang di Xinjiang dan bahwa ada pengawasan luas yang secara tidak proporsional menargetkan orang-orang Uighur dan anggota minoritas lainnya dan pembatasan kebebasan mendasar dan budaya Uighur," bunyi pernyataan bersama tersebut seperti dikutip Walla News, Rabu (23/6/2021).
Lihat Juga :