Raisi Terpilih Jadi Presiden Iran, Israel Nyalakan Tanda Bahaya

Minggu, 20 Juni 2021 - 10:20 WIB
loading...
Raisi Terpilih Jadi...
Israel menyebut Ebrahim Raisi adalah presiden Iran paling ekstrem dan akan meningkatkan aktivitas nuklir. Foto/Kolase/Sindonews
A A A
TEL AVIV - Israel bereaksi atas kemenangan Ebrahim Raisi dalam pemilihan presiden Iran . Israel mengatakan masyarakat internasional harus memiliki keprihatinan serius dengan terpilihnya Raisi. Israel mengatakan Raisi adalah presiden paling ekstrem dan akan meningkatkan aktivitas nuklir Iran .

“Presiden baru Iran, yang dikenal sebagai Jagal Teheran, adalah seorang ekstremis yang bertanggung jawab atas kematian ribuan orang Iran. Dia berkomitmen pada ambisi nuklir rezim dan kampanye teror globalnya,” kata Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid di Twitter yang dikutip dari Arab News, Minggu (20/6/2021).

Sementara pendapat yang sama juga diungkapkan juru bicara kementerian luar negeri Israel Lior Haiat dalam utas Twitter yang kritis.

"Dia adalah tokoh ekstremis, yang berkomitmen pada program nuklir militer Iran yang berkembang pesat," katanya seperti dikutip dari BBC.

Dalam utas Twitter-nya, Lior Haiat menyebut Raisi sebagai "jagal Teheran", mengacu pada eksekusi massal ribuan tahanan politik pada tahun 1988.

Baca juga: Ulama Ebrahim Raisi Menjadi Presiden Baru Iran

Raisi adalah salah satu dari empat hakim, yang kemudian dikenal sebagai "komite kematian", yang diduga menghukum mati sekitar 5.000 pria dan wanita, kata Amnesty International. Namun, dalam kicauannya, Haiat mengatakan lebih dari 30.000 orang tewas, jumlah yang juga dirujuk oleh kelompok hak asasi manusia Iran.

Ebrahim Raisi dinyatakan sebagai pemenang pemilu presiden iran pada Sabtu, dalam perlombaan yang secara luas dipandang dirancang untuk kemenangannya.

Raisi adalah hakim tertinggi Iran dan memiliki pandangan ultra konservatif. Ia akan dilantik pada Agustus mendatang dan menjadi presiden Iran pertama yang menjabat saat berada di bawah sanksi Amerika Serikat (AS) dan telah dikaitkan dengan ekskusi tahanan politik di masa lalu.

Dalam sebuah pernyataan setelah kemenangannya, dia berjanji untuk memperkuat kepercayaan publik kepada pemerintah, dan menjadi pemimpin bagi seluruh bangsa.

"Saya akan membentuk pemerintahan yang bekerja keras, revolusioner dan anti korupsi," katanya seperti dikutip media pemerintah.

Baca juga: Ebrahim Raisi: Presiden Iran Pertama yang Menjabat di Bawah Sanksi AS

Iran dan Israel telah lama berada dalam "perang bayangan", yang mengakibatkan kedua negara ambil bagian dalam aksi balas dendam, tetapi sejauh ini menghindari konflik habis-habisan. Namun belakangan, permusuhan antara keduanya kembali meningkat.

Situasinya rumit, tetapi salah satu sumber ketegangan terbesar adalah aktivitas nuklir Iran.

Iran menyalahkan Israel atas pembunuhan ilmuwan nuklir utamanya tahun lalu dan serangan terhadap salah satu pabrik pengayaan uraniumnya pada April.

Sementara itu, Israel tidak percaya bahwa program nuklir Iran adalah murni damai, dan yakin itu bekerja untuk membangun senjata nuklir.

Pemerintah baru Israel, yang dilantik pada hari Minggu, mengatakan akan keberatan dengan kebangkitan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara kekuatan dunia dan Iran.

Israel melihat Iran yang bersenjata nuklir sebagai ancaman eksistensial. Namun Teheran membantah berusaha mendapatkan senjata nuklir.

Mengikuti garis kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintahan mantan perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan: “Lebih dari sebelumnya, program nuklir Iran harus segera dihentikan, dibatalkan seluruhnya dan dihentikan tanpa batas.”

“Program rudal balistik Iran harus dibongkar dan kampanye teror globalnya dilawan dengan keras oleh koalisi internasional yang luas,” sambung pernyataan itu.

Kesepakatan nuklir Iran 2015, yang mencabut sejumlah sanksi terhadap Iran selama menghentikan aktivitas nuklirnya, runtuh ketika mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan kesepakatan pada 2018, dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang melumpuhkan. Pemerintahan Biden sekarang mencoba mencari cara untuk dapat masuk kembali dalam kesepakatan itu.

Menanggapi sanksi yang diperketat, Iran meningkatkan kegiatan nuklirnya, dan saat ini memperkaya uranium pada tingkat tertinggi yang pernah ada - meskipun masih kurang dari apa yang dibutuhkan untuk membuat senjata tingkat nuklir.

Baca juga: Mengejutkan, Iran telah Produksi 6,5 Kg Uranium Pengayaan 60%
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
ANCAMAN KERAS IRAN!...
ANCAMAN KERAS IRAN! Kirim Pesan Menghancurkan, Tantang AS Perang Terbuka!
WHO: Gelombang Panas...
WHO: Gelombang Panas Eropa Sebabkan 1.300 Kematian, Terbanyak di Prancis
Penembakan di Fasilitas...
Penembakan di Fasilitas Remaja, 6 Orang Tewas
Rekomendasi
Kejutan! Maroko Singkirkan...
Kejutan! Maroko Singkirkan Belanda Lewat Drama Adu Penalti
Suasana Jelang Putusan...
Suasana Jelang Putusan Nadiem, Polisi Berjaga, Papan Dukungan, hingga Mitra Gojek Padati PN Tipikor
Sidang Lanjutan Praperadilan...
Sidang Lanjutan Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban
Berita Terkini
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved