Raisi Terpilih Jadi Presiden Iran, Israel Nyalakan Tanda Bahaya
Minggu, 20 Juni 2021 - 10:20 WIB
loading...
A
A
A
Pemerintah baru Israel, yang dilantik pada hari Minggu, mengatakan akan keberatan dengan kebangkitan kembali kesepakatan nuklir 2015 antara kekuatan dunia dan Iran.
Israel melihat Iran yang bersenjata nuklir sebagai ancaman eksistensial. Namun Teheran membantah berusaha mendapatkan senjata nuklir.
Mengikuti garis kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintahan mantan perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan: “Lebih dari sebelumnya, program nuklir Iran harus segera dihentikan, dibatalkan seluruhnya dan dihentikan tanpa batas.”
“Program rudal balistik Iran harus dibongkar dan kampanye teror globalnya dilawan dengan keras oleh koalisi internasional yang luas,” sambung pernyataan itu.
Kesepakatan nuklir Iran 2015, yang mencabut sejumlah sanksi terhadap Iran selama menghentikan aktivitas nuklirnya, runtuh ketika mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan kesepakatan pada 2018, dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang melumpuhkan. Pemerintahan Biden sekarang mencoba mencari cara untuk dapat masuk kembali dalam kesepakatan itu.
Menanggapi sanksi yang diperketat, Iran meningkatkan kegiatan nuklirnya, dan saat ini memperkaya uranium pada tingkat tertinggi yang pernah ada - meskipun masih kurang dari apa yang dibutuhkan untuk membuat senjata tingkat nuklir.
Baca juga: Mengejutkan, Iran telah Produksi 6,5 Kg Uranium Pengayaan 60%
Israel melihat Iran yang bersenjata nuklir sebagai ancaman eksistensial. Namun Teheran membantah berusaha mendapatkan senjata nuklir.
Mengikuti garis kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintahan mantan perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan: “Lebih dari sebelumnya, program nuklir Iran harus segera dihentikan, dibatalkan seluruhnya dan dihentikan tanpa batas.”
“Program rudal balistik Iran harus dibongkar dan kampanye teror globalnya dilawan dengan keras oleh koalisi internasional yang luas,” sambung pernyataan itu.
Kesepakatan nuklir Iran 2015, yang mencabut sejumlah sanksi terhadap Iran selama menghentikan aktivitas nuklirnya, runtuh ketika mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meninggalkan kesepakatan pada 2018, dan memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang melumpuhkan. Pemerintahan Biden sekarang mencoba mencari cara untuk dapat masuk kembali dalam kesepakatan itu.
Menanggapi sanksi yang diperketat, Iran meningkatkan kegiatan nuklirnya, dan saat ini memperkaya uranium pada tingkat tertinggi yang pernah ada - meskipun masih kurang dari apa yang dibutuhkan untuk membuat senjata tingkat nuklir.
Baca juga: Mengejutkan, Iran telah Produksi 6,5 Kg Uranium Pengayaan 60%
(ian)
Lihat Juga :