China pada G7: Era Kelompok 'Kecil' Atur Dunia Sudah Lewat

loading...
China pada G7: Era Kelompok Kecil Atur Dunia Sudah Lewat
China dengan tegas memperingatkan para pemimpin G7 bahwa hari-hari ketika kelompok negara-negara "kecil" memutuskan nasib dunia sudah lama berlalu. Foto/REUTERS
BEIJING - China dengan tegas memperingatkan para pemimpin G7 bahwa hari-hari ketika kelompok negara-negara "kecil" memutuskan nasib dunia sudah lama berlalu. Ini adalah respon balik China, atas keputusan G7 untuk ambil langkah-langkah anti-Beijing.

"Hari-hari ketika keputusan global didikte oleh sekelompok kecil negara sudah lama berlalu," kata juru bicara Kedutaan Besar China di London, seperti dilansir Reuters pada Minggu (13/6/2021).

"Kami selalu percaya bahwa negara, besar atau kecil, kuat atau lemah, miskin atau kaya, adalah sama dan bahwa urusan dunia harus ditangani melalui konsultasi oleh semua negara," sambungnya. Baca juga: Disebut Pengganggu Oleh G7, China Kesal

Kebangkitan kembali Cina sebagai kekuatan global terkemuka dianggap sebagai salah satu peristiwa geopolitik paling signifikan akhir-akhir ini, di samping jatuhnya Uni Soviet pada 1991 yang mengakhiri Perang Dingin.

G7, yang para pemimpinnya bertemu di Inggris, telah mencari tanggapan yang koheren terhadap meningkatnya ketegasan Presiden Xi Jinping setelah kebangkitan ekonomi dan militer China yang spektakuler selama 40 tahun terakhir.

Para pemimpin kelompok itu ingin menggunakan pertemuan mereka untuk menunjukkan kepada dunia bahwa negara demokrasi terkaya dapat menawarkan alternatif bagi pengaruh China yang semakin besar. Baca juga: Negara G7 Sepakat Perjuangkan Target Lestarikan 30 Persen Lautan pada 2030



Kelompok itu diketahui mendukung rencana global baru untuk membantu negara-negara miskin membangun infrastruktur. Rencana global, yang digagas Amerika Serikat (AS), adalah upaya untuk menantang Inisiatif Sabuk dan Jalan China.

Pemerintahan Presiden AS, Joe Biden mengatakan, para pemimpin G7 menyetujui peluncuran rencana Build Back Better World (B3W). Rencana ini akan membantu mempersempit kesenjangan infrastruktur senilai USD 40 triliun di negara berkembang.
(ian)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top