Tak Takut Dibunuh China, Duterte Ogah Tunduk soal Laut China Selatan

Sabtu, 15 Mei 2021 - 14:47 WIB
loading...
A A A
Dalam rekaman pidatonya, Duterte berkata: “Kami memiliki pendirian di sini. Dan saya ingin menyatakannya di sini dan sekarang lagi, bahwa kapal kami yang ada di Pag-asa dan di tempat lain, kami tidak akan mundur satu inci pun."

"Anda (China) bisa membunuh saya tapi di sini saya tinggal, di sinilah persahabatan kita akan berakhir," ujar Duterte, seperti dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (15/5/2021).

Dia bereaksi terhadap kritik bahwa kedekatan pemerintahannya dengan China telah memungkinkan Beijing berulang kali melanggar ZEE Filipina.

Ketika menjabat sebagai presiden pada tahun 2016, Duterte mengumumkan bahwa dia merencanakan pemisahan dari Amerika Serikat—sekutu tradisional Filipina—demi China. Dia saat itu mengatakan bahwa dia mengesampingkan kemenangan Filipina dalam kasus arbitrase tentang Laut China Selatan di hadapan pengadilan internasional dengan imbalan perdagangan dan investasi dengan China.

Dia mendapat kritik pekan lalu karena mengatakan penghargaan landmark pada tahun 2016 hanyalah "selembar kertas" yang bisa dia buang ke tempat sampah. Namun dalam pidatonya di televisi, dia mengatakan bahwa dia percaya pada keseluruhan putusan arbitrase itu.

Seorang pejabat tinggi pemerintah, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, menggambarkan kebijakan tersebut dengan menyatakan: “Kembangkan hubungan persahabatan dengan China sambil menegaskan kedaulatan Filipina. Ini adalah kombinasi kerja sama sebanyak mungkin dan pushback kapan pun diperlukan."

Presiden Duterte dalam beberapa kesempatan mengatakan adalah bodoh untuk menentang klaim China atas Laut China Selatan karena itu akan berarti perang. Namun, baru-baru ini dia menegaskan bahwa China mengendalikan Laut Filipina Barat, yang mana Manila memiliki ZEE di sana.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Beijing: Asing Mata-matai...
Beijing: Asing Mata-matai China, Gunakan Kura-kura dan Ikan yang Dipasang Sensor
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Trump Sebut Kesepakatan...
Trump Sebut Kesepakatan Damai dengan Iran Akan Ditandatangani pada Minggu, Ini Respons Teheran
Trump Sebut Israel Bisa...
Trump Sebut Israel Bisa Hancur dalam 24 Jam jika Iran Punya Senjata Nuklir
Rekomendasi
Kisah Mas Rushh Bangun...
Kisah Mas Rushh Bangun Personal Branding lewat Konten Keluarga
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Revisi UU Hak Cipta...
Revisi UU Hak Cipta Dikhawatirkan Bebani UMKM hingga Startup
Berita Terkini
Siapa Pihak yang Berpotensi...
Siapa Pihak yang Berpotensi Menggagalkan Kesepakatan Perdamaian Iran dan AS?
Inggris Akan Pasok Uranium...
Inggris Akan Pasok Uranium ke Ukraina dan Jatuhkan Sanksi Baru terhadap Rusia
Momen Terakhir Wanita...
Momen Terakhir Wanita Tewas dalam Bungee Jumping 39 Meter: 'Bernapas Terengah-engah'
Posisi Iran Jadi Pemenang,...
Posisi Iran Jadi Pemenang, Israel Tetap Berstatus Pecundang
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Kesepakatan Damai AS...
Kesepakatan Damai AS dan Iran Simbol Kekalahan Fatal PM Netanyahu, Ini 3 Alasannya
Infografis
3 Alasan Sananta Tak...
3 Alasan Sananta Tak Dipanggil Timnas Lawan Bahrain dan China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved