Ibu Muda Ini Tinggalkan Bayinya Mati Kelaparan demi Pesta 6 Hari

Sabtu, 27 Maret 2021 - 10:43 WIB
loading...
Ibu Muda Ini Tinggalkan...
Verphy Kudi, Ibu remaja di Inggris yang meninggalnya bayinya mati kelaparan demi pesta enam hari berturut-turut. Foto/Eddir Mitchell/BBC
A A A
BRIGHTON - Seorang Ibu muda di Inggris meninggalkan bayinya yang berumur 20 bulan mati kelaparan demi pesta enam hari berturut-turut untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-18.

Verphy Kudi, yang sekarang berusia 19 tahun, terekam CCTV meninggalkan bayinya yang bernama Asiah sendirian di sebuah flat di Brighton, Inggris, pada hari ulang tahunnya.

Baca juga: Biden: China Tak Akan Bisa Kalahkan AS Jadi Negara Terkuat di Dunia

Data yang dikumpulkan oleh Polisi Sussex menunjukkan dia menghadiri pesta di London, Coventry dan Solihull selama enam hari berturut-turut.

Setelah pulang ke rumah, Kudi menelepon layanan darurat dan mengatakan bayinya tidak mau bangun.

Asiah dilarikan ke Royal Alexandra Children’s Hospital (Rumah Sakit Anak Royal Alexandra) di Brighton tetapi secara tragis dinyatakan meninggal pada saat kedatangan.

Pemeriksaan post-mortem dan tes forensik berikutnya menemukan bahwa bayi Asiah mengalami dehidrasi, kelaparan, dan meninggal karena diabaikan.

Ibu Pembunuh

Kudi, yang menangis di dock Pengadilan Lewes Crown selama penampilannya pekan lalu, kini telah mengaku bersalah atas pembunuhan antara 4 hingga 12 Desember lalu.

Dia dijadwalkan untuk diadili akhir tahun ini tetapi pembelaannya diterima oleh jaksa penuntut.

Mengutip laporan The Sun, Sabtu (27/3/2021), Ibu remaja itu akan dijatuhi hukuman pada 28 Mei mendatang sambil menunggu laporan psikologi—tetapi diperingatkan bahwa tanggal tersebut bisa diundur.

Baca juga: Biden Awalnya Tertawakan Tembakan Rudal Korut, tapi Kini Mengancam

Kudi telah mendekam di penjara sejak didakwa pada Oktober tahun lalu.

Tidak ada rincian lebih lanjut tentang bagaimana bayi yang tragis itu dibiarkan begitu lama oleh Ibunya yang diungkapkan pada sidang singkat kemarin.

Saat itu, Kudi tinggal di perumahan yang didukung untuk keluarga muda yang dikelola oleh organisasi YMCA atas nama Dewan Kota Brighton dan Hove.

Staf di unit tersebut menelepon polisi setelah meninjau rekaman CCTV setelah kematian bayi tersebut.

Asiah berada di bawah rencana perlindungan anak tetapi tidak ada pekerja sosial yang ditugaskan ketika dia meninggal.

Tinjauan pengamanan telah diluncurkan oleh Brighton and Hove Safeguarding Children Partnership (BHSCP).

Hakim Christine Laing memerintahkan agar semua catatan layanan sosial yang berkaitan dengan kasus ini diungkapkan kepada pembela sebelum terdakwa dijatuhi hukuman.

Berbicara setelah sidang, kakek Asiah, Muba Kudi, 59, berkata: “Hati saya sangat hancur."

“Putriku hilang. Dia telah hilang sejak usia 14 tahun," ujarnya.

BHSCP mengatakan: “Kami sangat sedih atas kematian tragis Asiah. Dalam peran kami dalam melindungi, kami akan bekerja dengan mitra kami untuk melihat apa yang telah terjadi dan melaksanakan Tinjauan Praktik Perlindungan Anak."

"Ini termasuk bekerja dengan mitra kami Polisi Sussex untuk memastikan peninjauan kami dilakukan untuk mendukung atau di samping tindakan mereka yang sedang berlangsung dalam kasus ini."

Petugas investigasi senior Inspektur Kepala Detektif Andy Wolstenholme berkata; “Ini adalah kasus yang sangat menyedihkan bagi tim saya dan saya untuk diselidiki, dan telah menyebabkan kesedihan yang besar di antara keluarga Verphy dan banyak agensi yang telah mendukung Verphy dan Asiah.”
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
3 Alasan PM Inggris...
3 Alasan PM Inggris Starmer Akan Mundur, Popularitasnya Terus Menurun
Raja Charles Inggris...
Raja Charles Inggris Akan Ungkap Tagihan Pajak Pribadinya, Berapa Besar?
Krisis Politik Inggris...
Krisis Politik Inggris Makin Parah, PM Keir Starmer Bersiap Mengundurkan Diri
Belajar dari Inggris,...
Belajar dari Inggris, Tembakau Alternatif Bisa Hentikan Kebiasaan Merokok
Israel Bombardir Lebanon...
Israel Bombardir Lebanon Selatan Tewaskan 16 Orang
Wapres AS Blak-blakan:...
Wapres AS Blak-blakan: Trump Tak Akur dengan Netanyahu soal Perang Iran
Rekomendasi
Abdul Rahman Golkar...
Abdul Rahman Golkar ke Deddy Sitorus: Krisis Batu Bara Bukan Persoalan Baru
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Dari Sopir Bus Mendadak...
Dari Sopir Bus Mendadak Jadi Pemimpin Negara? Ini Serunya Microdrama Love In A Fallen Nation di V+Short
Berita Terkini
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Infografis
Jusuf Muda Dalam, Menteri...
Jusuf Muda Dalam, Menteri yang Dihukum Mati karena Korupsi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved