Presiden Assad dan Ibu Negara Suriah Positif COVID-19

loading...
Presiden Assad dan Ibu Negara Suriah Positif COVID-19
Presiden Suriah Bashar al-Assad dan Ibu Negara Asma di tempat pemungutan suara 19 Juli 2020. Foto/REUTERS
DAMASKUS - Presiden Suriah Bashar al-Assad dan Ibu Negara Asma dinyatakan positif COVID-19 setelah menunjukkan gejala ringan.

“Pemimpin Suriah dan istrinya, dalam keadaan sehat dan akan terus bekerja dalam isolasi di rumah,” ungkap pernyataan kantor Assad.

Sebelumnya, Ibu Negara Suriah mengumumkan kesembuhannya dari kanker payudara pada 2019.

Baca juga: Video Ungkap Drone 'Samad' Buatan Iran Diluncurkan Houthi ke Arab Saudi

Suriah telah mengalami peningkatan tajam infeksi virus corona sejak pertengahan Februari, menurut anggota komite penasihat virus corona pemerintah Suriah pekan lalu ketika negara itu memulai kampanye vaksinasi.



Lihat infografis: Terancam, AS Kerahkan AN/TWQ-1 Avenger di Suriah dan Irak

Pejabat kesehatan dan bantuan mengatakan masih sulit mengukur skala penuh wabah mengingat kurangnya fasilitas pengujian di negara yang hancur akibat perang selama satu dekade.

Lihat infografis: Tentara Myanmar Takut dengan Pakaian Dalam Perempuan

Hingga Minggu, Kementerian Kesehatan Suriah melaporkan 10.374 infeksi dan 1.063 kematian terkait populasi sekitar 18 juta jiwa.

Assad bergabung dalam daftar pemimpin dunia yang terus bertambah yang dites positif COVID-19, bersama Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan mantan Presiden AS Donald Trump.



Petugas kesehatan mengatakan pihak berwenang meremehkan wabah itu selama sebagian besar tahun lalu.

Data resmi tetap rendah karena rumah sakit kewalahan menangani pandemi itu.

Pemerintah membantah telah meremehkan data kasus virus corona dan mengakui dalam dua bulan terakhir bahwa negara itu berada di ambang lonjakan besar.

Pemerintah Suriah menyeru warga memakai masker, mengambil tindakan sanitasi dan menghindari keramaian.

Para pejabat dan pengusaha mengatakan pemerintah yang terkena sanksi tidak dapat melakukan lockdown penuh karena keadaan ekonomi yang mengerikan dan meningkatnya kemiskinan.

Setelah satu dekade perang yang menewaskan ratusan ribu orang dan memaksa jutaan orang mengungsi, militer Assad telah merebut kembali sebagian besar wilayah dengan bantuan Rusia dan Iran.
(sya)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top