Gulingkan Assad, Ahmed al-Sharaa Ingin Suriah Normalisasi Hubungan dengan Israel
Minggu, 27 April 2025 - 11:06 WIB
loading...
Presiden baru Suriah Ahmed al-Sharaa menyatakan Damaskus berupaya menormalisasi hubungan dengan Israel. Foto/Palestine Chronicle
A
A
A
DAMASKUS - Presiden baru Suriah Ahmed al-Sharaa mengatakan bahwa Damaskus berupaya menormalisasi hubungan dengan Israel. Demikian diungkap Anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Cory Mills kepada Bloomberg setelah pertemuan dengannya pekan lalu di Suriah.
Mills mengatakan dia mengadakan pembicaraan dengan Sharaa tentang persyaratan untuk mencabut sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS, serta kemungkinan perdamaian dengan Israel.
Sharaa memberi tahu Mills selama pertemuan mereka bahwa Suriah tertarik "dalam kondisi yang tepat" untuk bergabung dengan Abraham Accords (Perjanjian Abraham)—serangkaian perjanjian normalisasi yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya antara Israel dan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko.
Menurut Mills, Sharaa juga terbuka untuk mengklarifikasi bagaimana dia berencana untuk mengatasi keberadaan milisi asing yang masih beroperasi di Suriah dan menawarkan jaminan kepada Israel, yang tetap sangat tidak percaya kepada pemimpin Suriah dan menentang pelonggaran sanksi apa pun.
Baca Juga: Militer Israel Akan Duduki Wilayah Gaza, Lebanon, dan Suriah Tanpa Batas Waktu
Kepemimpinan baru Suriah yang dipimpin oleh kaum Islamis telah mendorong AS dan Eropa untuk sepenuhnya mencabut sanksi sehingga negara itu dapat memulai kembali ekonomi yang hancur akibat perang saudara selama lebih dari satu dekade.
Mills, yang bertugas di komite Urusan Luar Negeri dan Angkatan Bersenjata Dewan Perwakilan Rakyat, dan Anggota Kongres AS Marlin Stutzman dari Indiana, keduanya mendarat di Damaskus pada hari Jumat pekan lalu untuk bertemu dengan pejabat Suriah. Ini merupakan kunjungan pertama oleh anggota Parlemen Amerika ke negara yang dilanda perang tersebut sejak Bashar al-Assad digulingkan dari kekuasaan oleh serangan pemberontak yang dipimpin oleh kaum Islamis pada bulan Desember.
Mills bertemu dengan Sharaa, yang masih dikenai sanksi AS dan PBB atas hubungannya sebelumnya dengan al-Qaeda, pada Jumat malam, di mana keduanya membahas sanksi AS dan Iran selama sekitar 90 menit.
Mills mengatakan kepada Bloomberg bahwa dia akan membawakan Presiden Donald Trump sepucuk surat dari Sharaa, tanpa memberikan rincian tentang isinya, dan bahwa dia akan memberi pengarahan kepada presiden AS dan Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz setelah perjalanannya.
"Saya optimis dengan penuh kehati-hatian dan berupaya untuk menjaga dialog terbuka," kata Mills.
Mills dan Stutzman, keduanya anggota Partai Republik pendukung Trump, mengunjungi beberapa bagian ibu kota Suriah yang hancur akibat perang, bertemu dengan para pemimpin agama Kristen, dan mengatakan bahwa mereka berencana untuk bertemu dengan menteri pemerintah Suriah lainnya.
"Ada peluang di sini—peluang ini datang sekali seumur hidup," kata Stutzman kepada Reuters.
"Saya tidak ingin Suriah didorong ke pelukan China, atau kembali ke pelukan Rusia dan Iran," imbuh dia.
Bulan lalu, AS memberi Suriah daftar persyaratan yang harus dipenuhi sebagai imbalan atas keringanan sanksi sebagian—termasuk menyingkirkan milisi asing dari peran kepemimpinan—tetapi pemerintahan Trump tidak banyak terlibat dengan para penguasa baru tersebut.
Stutzman mengatakan warga Suriah di Damaskus berbicara kepadanya tentang serangan Israel terhadap negara itu, yang telah menargetkan lokasi militer di selatan serta di sekitar ibu kota. Israel juga telah mengirim pasukan darat ke zona penyangga di Suriah selatan dan telah berulang kali menyatakan ketidakpercayaannya terhadap Sharaa.
Mills mengatakan dia mengadakan pembicaraan dengan Sharaa tentang persyaratan untuk mencabut sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS, serta kemungkinan perdamaian dengan Israel.
Sharaa memberi tahu Mills selama pertemuan mereka bahwa Suriah tertarik "dalam kondisi yang tepat" untuk bergabung dengan Abraham Accords (Perjanjian Abraham)—serangkaian perjanjian normalisasi yang dinegosiasikan oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya antara Israel dan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko.
Menurut Mills, Sharaa juga terbuka untuk mengklarifikasi bagaimana dia berencana untuk mengatasi keberadaan milisi asing yang masih beroperasi di Suriah dan menawarkan jaminan kepada Israel, yang tetap sangat tidak percaya kepada pemimpin Suriah dan menentang pelonggaran sanksi apa pun.
Baca Juga: Militer Israel Akan Duduki Wilayah Gaza, Lebanon, dan Suriah Tanpa Batas Waktu
Kepemimpinan baru Suriah yang dipimpin oleh kaum Islamis telah mendorong AS dan Eropa untuk sepenuhnya mencabut sanksi sehingga negara itu dapat memulai kembali ekonomi yang hancur akibat perang saudara selama lebih dari satu dekade.
Mills, yang bertugas di komite Urusan Luar Negeri dan Angkatan Bersenjata Dewan Perwakilan Rakyat, dan Anggota Kongres AS Marlin Stutzman dari Indiana, keduanya mendarat di Damaskus pada hari Jumat pekan lalu untuk bertemu dengan pejabat Suriah. Ini merupakan kunjungan pertama oleh anggota Parlemen Amerika ke negara yang dilanda perang tersebut sejak Bashar al-Assad digulingkan dari kekuasaan oleh serangan pemberontak yang dipimpin oleh kaum Islamis pada bulan Desember.
Mills bertemu dengan Sharaa, yang masih dikenai sanksi AS dan PBB atas hubungannya sebelumnya dengan al-Qaeda, pada Jumat malam, di mana keduanya membahas sanksi AS dan Iran selama sekitar 90 menit.
Mills mengatakan kepada Bloomberg bahwa dia akan membawakan Presiden Donald Trump sepucuk surat dari Sharaa, tanpa memberikan rincian tentang isinya, dan bahwa dia akan memberi pengarahan kepada presiden AS dan Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz setelah perjalanannya.
"Saya optimis dengan penuh kehati-hatian dan berupaya untuk menjaga dialog terbuka," kata Mills.
Mills dan Stutzman, keduanya anggota Partai Republik pendukung Trump, mengunjungi beberapa bagian ibu kota Suriah yang hancur akibat perang, bertemu dengan para pemimpin agama Kristen, dan mengatakan bahwa mereka berencana untuk bertemu dengan menteri pemerintah Suriah lainnya.
"Ada peluang di sini—peluang ini datang sekali seumur hidup," kata Stutzman kepada Reuters.
"Saya tidak ingin Suriah didorong ke pelukan China, atau kembali ke pelukan Rusia dan Iran," imbuh dia.
Bulan lalu, AS memberi Suriah daftar persyaratan yang harus dipenuhi sebagai imbalan atas keringanan sanksi sebagian—termasuk menyingkirkan milisi asing dari peran kepemimpinan—tetapi pemerintahan Trump tidak banyak terlibat dengan para penguasa baru tersebut.
Stutzman mengatakan warga Suriah di Damaskus berbicara kepadanya tentang serangan Israel terhadap negara itu, yang telah menargetkan lokasi militer di selatan serta di sekitar ibu kota. Israel juga telah mengirim pasukan darat ke zona penyangga di Suriah selatan dan telah berulang kali menyatakan ketidakpercayaannya terhadap Sharaa.
Lihat Juga :