Moncef Mohamed Slaoui, Ilmuwan Muslim Pimpin Tim Vaksin Covid di AS
Selasa, 19 Mei 2020 - 07:17 WIB
loading...
A
A
A
Slaoui mengaku baru-baru ini telah melihat data awal uji klinis vaksin corona. “Data itu membuat saya percaya diri bahwa kita akan memproduksi ratusan juta dosis vaksin pada akhir 2020,” tegas Slaoui saat jumpa pers beberapa waktu lalu di Gedung Putih.
Dari Maroko, kabar penunjukan Slaoui sebagai orang penting dalam program pencarian vaksin virus corona disambut meriah. Meskipun Slaoui bukan lagi warga negara Maroko, tetapi itu sebagai bukti kesuksesan pendidikan Maroko yang mampu menciptakan orang hebat dalam peradaban manusia. “Slaoui lahir, dibesarkan, dan dididik di Maroko hingga dia meraih gelar diploma,” kata Samir Bennis, pendiri Morocco World News.
Prestasi ini juga menunjukkan bahwa Slaoui mengalami momen penting dalam kehidupannya dan proses pendidikan di Maroko. “Kualitas pendidikan di sekolah Maroko mampu mengantarkan Slaoui menjadi orang genius. Dia tidak menjalani sekolah dasar dan menengah di Belgia atau di AS, tetapi di Maroko,” katanya.
Stasiun televisi Samaa melaporkan, Presiden Trump dikenal memiliki sentimen negatif dalam berbagai kebijakan terhadap warga muslim di dunia. Namun, dalam kondisi darurat, Trump sendiri yang menunjuk seorang muslim untuk program yang bisa menentukan keberlangsungan warga AS ke depan khususnya dan dunia pada umumnya. “Itu suatu hal yang sedikit ironis,” demikian laporan Samaa. (Baca juga: Indonesia Masuk 63 Negara yang Dukung Penyelidikan Asal-Usul Covid-19)
Berdasarkan tiga sumber yang mengetahui pemilihan Slaoui, mantan pemimpin divisi vaksin GlaxoSmithKline tersebut akan menjabat sebagai therapeutics czar pemerintahan Trump. Slaoui yang mengundurkan diri dari perusahaan farmasi pada 2017 tersebut kini dikenal sebagai venture capitalist, yakni membantu dan mengordinasi pengembangan vaksin dan obat Covid-19. Dia akan mengordinasikan hal itu pada Departemen Pertahanan dan Kesehatan AS.
Menteri Kesehatan AS Alex Azar, Koordinator Gugus Tugas Gedung Putih Deborah Birx, dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner merupakan tokoh yang mewawancarai Slaoui dan kandidat lainnya. Di antara pesaing Slaoui yakni mantan Direktur Institute Nasional Kesehatan Elias Zerhouni.
Dari Maroko, kabar penunjukan Slaoui sebagai orang penting dalam program pencarian vaksin virus corona disambut meriah. Meskipun Slaoui bukan lagi warga negara Maroko, tetapi itu sebagai bukti kesuksesan pendidikan Maroko yang mampu menciptakan orang hebat dalam peradaban manusia. “Slaoui lahir, dibesarkan, dan dididik di Maroko hingga dia meraih gelar diploma,” kata Samir Bennis, pendiri Morocco World News.
Prestasi ini juga menunjukkan bahwa Slaoui mengalami momen penting dalam kehidupannya dan proses pendidikan di Maroko. “Kualitas pendidikan di sekolah Maroko mampu mengantarkan Slaoui menjadi orang genius. Dia tidak menjalani sekolah dasar dan menengah di Belgia atau di AS, tetapi di Maroko,” katanya.
Stasiun televisi Samaa melaporkan, Presiden Trump dikenal memiliki sentimen negatif dalam berbagai kebijakan terhadap warga muslim di dunia. Namun, dalam kondisi darurat, Trump sendiri yang menunjuk seorang muslim untuk program yang bisa menentukan keberlangsungan warga AS ke depan khususnya dan dunia pada umumnya. “Itu suatu hal yang sedikit ironis,” demikian laporan Samaa. (Baca juga: Indonesia Masuk 63 Negara yang Dukung Penyelidikan Asal-Usul Covid-19)
Berdasarkan tiga sumber yang mengetahui pemilihan Slaoui, mantan pemimpin divisi vaksin GlaxoSmithKline tersebut akan menjabat sebagai therapeutics czar pemerintahan Trump. Slaoui yang mengundurkan diri dari perusahaan farmasi pada 2017 tersebut kini dikenal sebagai venture capitalist, yakni membantu dan mengordinasi pengembangan vaksin dan obat Covid-19. Dia akan mengordinasikan hal itu pada Departemen Pertahanan dan Kesehatan AS.
Menteri Kesehatan AS Alex Azar, Koordinator Gugus Tugas Gedung Putih Deborah Birx, dan penasihat Gedung Putih Jared Kushner merupakan tokoh yang mewawancarai Slaoui dan kandidat lainnya. Di antara pesaing Slaoui yakni mantan Direktur Institute Nasional Kesehatan Elias Zerhouni.
Lihat Juga :