Terlilit Skandal Pelecehan Seks, Gubernur New York Ogah Mundur

Kamis, 04 Maret 2021 - 10:44 WIB
loading...
Terlilit Skandal Pelecehan...
Gubernur New York Andrew Cuomo. Foto/REUTERS
A A A
NEW YORK - Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan dia tidak akan mengundurkan diri setelah serangkaian tuduhan pelecehan seksual yang dilontarkan kepadanya oleh wanita muda.

Namun dia menawarkan permintaan maaf baru dan berjanji untuk "sepenuhnya bekerja sama" dengan pemeriksaan oleh jaksa agung negara bagian.

"Saya tidak akan mengundurkan diri," ujar Cuomo dalam jumpa pers setelah dia menawarkan permintaan maaf yang emosional atas apa yang dia katakan sebagai perilaku yang membuat "orang merasa tidak nyaman."

Baca juga: AS Uring-uringan dengan Penyelidikan Kejahatan Perang ICC di Palestina

"Saya merasa tidak enak tentang itu dan terus terang saya malu karenanya," papar gubernur dari Partai Demokrat itu.

Baca juga: Arab Saudi Luncurkan Kampanye Baru Melawan Ikhwanul Muslimin

Dia juga membantah tuduhan dalam beberapa pekan terakhir bahwa pemerintahannya berusaha mengabaikan sejumlah penghuni panti jompo yang meninggal akibat COVID-19 sejak awal pandemi virus corona.

Lihat infografis: 2.882 Tentara Azerbaijan Tewas dalam Perang Nagorno-Karabakh

Cuomo mengatakan perilakunya terhadap perempuan yang menuduhnya melakukan pelanggaran tidak disengaja. Dia menyatakan tidak pernah menyentuh siapa pun secara tidak pantas.

Meski begitu, dia mengakui sudah "kebiasaan" baginya untuk mencium dan memeluk orang saat menyapa mereka.

"Saya memahami bahwa kepekaan telah berubah dan perilaku telah berubah dan saya mengerti, dan saya akan belajar darinya," tutur dia.

Tiga perempuan, termasuk dua mantan ajudannya, baru-baru ini melapor bahwa Cuomo telah melecehkan mereka secara seksual atau membuat pernyataan yang tidak pantas.

Lindsey Boylan pertama kali muncul pada Desember dengan mengatakan rayuan yang tidak diinginkan termasuk ciuman yang tidak diinginkan di bibir dilakukan Cuomo di kantornya di New York City. Tuduhan itu dibantah Cuomo.

Boylan, calon presiden wilayah Manhattan, menolak permintaan maaf gubernur dalam pesan Twitter pada Rabu. "Bagaimana warga New York bisa mempercayai Anda @NYGovCuomo untuk memimpin negara bagian kami jika Anda ‘tidak tahu’ ketika Anda bersikap tidak pantas dengan staf Anda sendiri?" tweet dia.

Investigasi Dimulai

Wanita kedua yang merinci kejadian yang dialaminya adalah Charlotte Bennett, mantan asisten eksekutif dan penasihat kebijakan kesehatan yang mengatakan kepada New York Times pada Februari bahwa Cuomo menghujani dia dengan berbagai pertanyaan tentang kehidupan romantisnya tahun lalu dalam apa yang dia pandang sebagai upaya untuk berhubungan seks dengannya.

Seorang wanita ketiga juga telah maju, memberi tahu New York Times bahwa Cuomo mendekati dan melakukan kontak fisik yang tidak diinginkan setelah bertemu dengannya di acara pernikahan pada 2019.

Menanggapi Bennett, Cuomo merilis pernyataan pada Minggu yang mengatakan bahwa dia kadang-kadang menggoda rekan kerja dan menyesal jika dia membuat orang tidak nyaman, dan kantornya memberikan rujukan yang diwajibkan oleh undang-undang negara bagian untuk Jaksa Agung New York Letitia James untuk menyelidiki keluhan tersebut.

Debra Katz, pengacara yang mewakili Christine Blasey Ford ketika dia menuduh Hakim Agung Brett Kavanaugh melakukan pelecehan seksual terhadapnya, sekarang mewakili Bennett.

Dalam pernyataan pada Rabu, Katz mengatakan permintaan maaf Cuomo "penuh dengan kebohongan."

Reuters tidak dapat segera menjangkau perwakilan untuk dua wanita lainnya.

“Saya minta maaf beberapa hari lalu. Saya minta maaf hari ini, besok saya minta maaf, lusa saya minta maaf,” ujar Cuomo, saat memohon kepada publik untuk mengetahui fakta-faktanya sebelum memberikan pendapat.

Keluhan tentang pelecehan seksual muncul setelah pertanyaan meningkat atas penanganan Cuomo terhadap pandemi virus corona tahun lalu yang berdampak buruk pada panti jompo.

Politisi negara bagian New York, banyak dari mereka sesama Demokrat, mengatakan Cuomo berusaha membungkam para pengkritiknya dan secara rutin memerintah melalui intimidasi.

Pada Januari, kantor James mengeluarkan laporan yang mengatakan departemen kesehatan negara bagian secara signifikan mengurangi data jumlah korban tewas di panti jompo dan menerapkan kebijakan yang mungkin telah mempengaruhi data jumlah kematian.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Tragis! 3 Anak Meninggal...
Tragis! 3 Anak Meninggal Dunia akibat Suhu Panas Ekstrem di Paris
Rekomendasi
Hajar Makau, Indonesia...
Hajar Makau, Indonesia Amankan Tiket Perempat Final Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2026
PNM Berikan Beasiswa...
PNM Berikan Beasiswa kepada 1.590 Anak dari Jenjang SD hingga Perguruan Tinggi
Demokrasi Belum Utuh...
Demokrasi Belum Utuh Jika Perempuan Masih Minim Keterwakilan
Berita Terkini
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved