Cerita Trump Marah-marah Ingin Bunuh Assad, Membuat AS dan Suriah Nyaris Perang
Kamis, 18 Februari 2021 - 12:25 WIB
loading...
A
A
A
Kesepakatan untuk menghentikan Iran membuat senjata nuklir adalah hasil dari negosiasi yang melelahkan selama satu dekade oleh AS, Rusia, China dan Eropa.
Tapi Trump mengecam perjanjian itu sebagai "hal memalukan" bagi AS, mengecam baik pemerintah Iran maupun Obama.
Mantan Presiden AS tersebut mengeklaim kesepakatan nuklir Iran memberi rezim Teheran miliaran dollar untuk mendanai terorisme dan akhirnya menarik AS keluar dari perjanjian itu pada Mei 2018.
Pertimbangan Trump tentang penarikan pasukan dari Suriah juga menjadi sorotan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan diberi nomor "pribadi" Trump dan sering menghubunginya.
Menurut Fiona Hill, mantan Direktur untuk Rusia di Dewan Keamanan Nasional, mereka bahkan harus membawa penerjemah ke lapangan golf untuk berbicara dengan Trump saat dia bermain.
Trump membuat pengumuman pada Oktober 2019 yang menyatakan dia menarik pasukan AS keluar dari Suriah, tetapi dia dengan cepat berubah pikiran.
Itu menjadi tema berulang dari kepresidenannya, ketika Trump membalikkan tanggapan terhadap drone AS yang ditembak jatuh oleh Iran pada 2019 di perairan internasional.
Trump menandatangani serangan terhadap target militer Iran, kemudian membatalkan serangan udara pembalasan yang direncanakan dengan menit-menit terakhir menjelang serangan.
Perubahan menit terakhir terjadi karena seorang anggota staf Gedung Putih mengadang Trump dengan perkiraan korban yang tidak akurat.
Kesabaran mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton sangat teruji, yang menyebabkan pengunduran dirinya.
"Di sini kami benar-benar melakukannya sesuai dengan buku. Dan tiba-tiba seseorang tiba-tiba berlari dan membalikkannya 180 derajat," kata Bolton.
"Itu bukan pertanyaan apakah akan membatalkannya atau tidak. Dalam skenario lain, orang ini bisa saja kabur dan keputusannya bisa saja untuk membalikkan serangan," ujarnya.
"Ini bukan hasil dari pengambilan keputusan yang kacau, ini adalah pengambilan keputusan yang kacau, yang pasti membuat Amerika Serikat berada pada risiko yang lebih besar."
Tapi Trump mengecam perjanjian itu sebagai "hal memalukan" bagi AS, mengecam baik pemerintah Iran maupun Obama.
Mantan Presiden AS tersebut mengeklaim kesepakatan nuklir Iran memberi rezim Teheran miliaran dollar untuk mendanai terorisme dan akhirnya menarik AS keluar dari perjanjian itu pada Mei 2018.
Pertimbangan Trump tentang penarikan pasukan dari Suriah juga menjadi sorotan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan diberi nomor "pribadi" Trump dan sering menghubunginya.
Menurut Fiona Hill, mantan Direktur untuk Rusia di Dewan Keamanan Nasional, mereka bahkan harus membawa penerjemah ke lapangan golf untuk berbicara dengan Trump saat dia bermain.
Trump membuat pengumuman pada Oktober 2019 yang menyatakan dia menarik pasukan AS keluar dari Suriah, tetapi dia dengan cepat berubah pikiran.
Itu menjadi tema berulang dari kepresidenannya, ketika Trump membalikkan tanggapan terhadap drone AS yang ditembak jatuh oleh Iran pada 2019 di perairan internasional.
Trump menandatangani serangan terhadap target militer Iran, kemudian membatalkan serangan udara pembalasan yang direncanakan dengan menit-menit terakhir menjelang serangan.
Perubahan menit terakhir terjadi karena seorang anggota staf Gedung Putih mengadang Trump dengan perkiraan korban yang tidak akurat.
Kesabaran mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton sangat teruji, yang menyebabkan pengunduran dirinya.
"Di sini kami benar-benar melakukannya sesuai dengan buku. Dan tiba-tiba seseorang tiba-tiba berlari dan membalikkannya 180 derajat," kata Bolton.
"Itu bukan pertanyaan apakah akan membatalkannya atau tidak. Dalam skenario lain, orang ini bisa saja kabur dan keputusannya bisa saja untuk membalikkan serangan," ujarnya.
"Ini bukan hasil dari pengambilan keputusan yang kacau, ini adalah pengambilan keputusan yang kacau, yang pasti membuat Amerika Serikat berada pada risiko yang lebih besar."
(min)
Lihat Juga :