Militer Myanmar Jamin Pemilu Baru, Demonstran Blokir Layanan Kereta
Rabu, 17 Februari 2021 - 02:02 WIB
loading...
A
A
A
Dia juga mengatakan kebijakan luar negeri Myanmar tidak akan berubah, tetap terbuka untuk bisnis dan berbagai kesepakatan akan dilaksanakan.
Militer berharap jaminannya akan meredam kampanye oposisi harian terhadap junta serta penggulingan Suu Kyi dan pemerintahannya.
Selain demonstrasi di kota-kota besar di penjuru negeri yang beraneka ragam etnis, gerakan pembangkangan sipil telah memicu mogok kerja yang melumpuhkan banyak fungsi pemerintahan.
Kerusuhan telah menghidupkan kembali ingatan akan pecahnya konflik berdarah hampir setengah abad pemerintahan langsung militer yang berakhir pada 2011 ketika militer memulai proses penarikan diri dari politik.
Sementara kekerasan telah dibatasi kali ini, polisi melepaskan tembakan beberapa kali, kebanyakan dengan peluru karet, untuk membubarkan pengunjuk rasa.
“Enam orang terluka di pusat kota Maungmya pada Selasa (16/2) ketika polisi menembakkan peluru karet untuk membubarkan protes atas seorang guru yang ditangkap,” ujar seorang saksi mata.
Seorang wanita yang ditembak di kepala di Naypyitaw pekan lalu diperkirakan tidak akan selamat. Zaw Min Tun mengatakan seorang polisi tewas karena luka-luka yang dideritanya selama unjuk rasa.
Dia mengatakan para pengunjuk rasa memulai kekerasan sementara kampanye pembangkangan sipil merupakan intimidasi ilegal terhadap para pegawai negeri sipil (PNS).
“Kami akan menunggu dengan sabar. Setelah itu, kami akan bertindak sesuai hukum,” papar Zaw Min Tun.
Tentara telah memberikan wewenang untuk pencarian dan penahanan secara luas dan telah membuat amandemen hukum pidana yang bertujuan membungkam perbedaan pendapat dengan hukuman penjara yang berat.
Kereta Diblokir
Para pengunjuk rasa berbondong-bondong ke jalur kereta api sambil melambaikan spanduk untuk mendukung gerakan pembangkangan dan memblokir kereta antara Yangon dan kota selatan Mawlamyine.
"Lepaskan pemimpin kami segera," dan "Kekuasaan rakyat, berikan kembali," diteriakkan para demonstran dalam tayangan langsung yang disiarkan media.
Militer berharap jaminannya akan meredam kampanye oposisi harian terhadap junta serta penggulingan Suu Kyi dan pemerintahannya.
Selain demonstrasi di kota-kota besar di penjuru negeri yang beraneka ragam etnis, gerakan pembangkangan sipil telah memicu mogok kerja yang melumpuhkan banyak fungsi pemerintahan.
Kerusuhan telah menghidupkan kembali ingatan akan pecahnya konflik berdarah hampir setengah abad pemerintahan langsung militer yang berakhir pada 2011 ketika militer memulai proses penarikan diri dari politik.
Sementara kekerasan telah dibatasi kali ini, polisi melepaskan tembakan beberapa kali, kebanyakan dengan peluru karet, untuk membubarkan pengunjuk rasa.
“Enam orang terluka di pusat kota Maungmya pada Selasa (16/2) ketika polisi menembakkan peluru karet untuk membubarkan protes atas seorang guru yang ditangkap,” ujar seorang saksi mata.
Seorang wanita yang ditembak di kepala di Naypyitaw pekan lalu diperkirakan tidak akan selamat. Zaw Min Tun mengatakan seorang polisi tewas karena luka-luka yang dideritanya selama unjuk rasa.
Dia mengatakan para pengunjuk rasa memulai kekerasan sementara kampanye pembangkangan sipil merupakan intimidasi ilegal terhadap para pegawai negeri sipil (PNS).
“Kami akan menunggu dengan sabar. Setelah itu, kami akan bertindak sesuai hukum,” papar Zaw Min Tun.
Tentara telah memberikan wewenang untuk pencarian dan penahanan secara luas dan telah membuat amandemen hukum pidana yang bertujuan membungkam perbedaan pendapat dengan hukuman penjara yang berat.
Kereta Diblokir
Para pengunjuk rasa berbondong-bondong ke jalur kereta api sambil melambaikan spanduk untuk mendukung gerakan pembangkangan dan memblokir kereta antara Yangon dan kota selatan Mawlamyine.
"Lepaskan pemimpin kami segera," dan "Kekuasaan rakyat, berikan kembali," diteriakkan para demonstran dalam tayangan langsung yang disiarkan media.
Lihat Juga :