Biden Bentrok dengan Xi: China akan Santap Makan Siang Kita
Jum'at, 12 Februari 2021 - 16:18 WIB
loading...
A
A
A
Indo-Pasifik merupakan wilayah di mana Amerika Serikat (AS) dan China adalah saingan strategis utama.
Dia juga menyuarakan keprihatinan "mendasar" tentang praktik perdagangan "koersif dan tidak adil", serta tentang masalah hak asasi manusia (HAM), termasuk tindakan keras China di Hong Kong dan perlakuan terhadap Muslim di Xinjiang, dan tindakan Beijing yang semakin tegas di Asia, termasuk terhadap Taiwan.
Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan Biden juga menyatakan perhatiannya tentang kurangnya transparansi China atas virus corona.
Semua masalah HAM yang disebutkan Biden adalah yang oleh Beijing dikatakan pada AS agar menjauhinya.
“Xi mengatakan bahwa konfrontasi Biden akan menjadi bencana dan kedua belah pihak harus membangun kembali cara untuk menghindari kesalahan penilaian,” ungkap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China.
Xi mempertahankan nada garis keras di Hong Kong, Xinjiang dan Taiwan. Xi menyebut mereka masalah "kedaulatan dan integritas teritorial". Xi berharap Washington akan mendekat dengan hati-hati.
Pembicaraan lewat telepon itu adalah yang pertama antara para pemimpin China dan AS sejak Xi berbicara dengan mantan Presiden Donald Trump pada 27 Maret lalu, hampir 11 bulan lalu.
Sejak itu, hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia itu jatuh ke titik terendah.
Trump menyalahkan China karena memulai pandemi COVID-19. Trump pun meluncurkan serangkaian tindakan terhadap China, termasuk perang perdagangan dan sanksi terhadap pejabat serta perusahaan China yang dianggap sebagai ancaman keamanan.
Xi memberi selamat kepada Biden atas kemenangan pemilu dalam pesan pada November, meskipun Biden telah memanggilnya "preman" selama kampanye dan berjanji memimpin upaya internasional untuk "menekan, mengisolasi, dan menghukum China."
Pemerintahan Biden mengisyaratkan akan mempertahankan tekanan pada Beijing, dan telah mendukung tekad pemerintahan Trump bahwa China telah melakukan genosida di Xinjiang.
Dia juga menyuarakan keprihatinan "mendasar" tentang praktik perdagangan "koersif dan tidak adil", serta tentang masalah hak asasi manusia (HAM), termasuk tindakan keras China di Hong Kong dan perlakuan terhadap Muslim di Xinjiang, dan tindakan Beijing yang semakin tegas di Asia, termasuk terhadap Taiwan.
Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan Biden juga menyatakan perhatiannya tentang kurangnya transparansi China atas virus corona.
Semua masalah HAM yang disebutkan Biden adalah yang oleh Beijing dikatakan pada AS agar menjauhinya.
“Xi mengatakan bahwa konfrontasi Biden akan menjadi bencana dan kedua belah pihak harus membangun kembali cara untuk menghindari kesalahan penilaian,” ungkap Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China.
Xi mempertahankan nada garis keras di Hong Kong, Xinjiang dan Taiwan. Xi menyebut mereka masalah "kedaulatan dan integritas teritorial". Xi berharap Washington akan mendekat dengan hati-hati.
Pembicaraan lewat telepon itu adalah yang pertama antara para pemimpin China dan AS sejak Xi berbicara dengan mantan Presiden Donald Trump pada 27 Maret lalu, hampir 11 bulan lalu.
Sejak itu, hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia itu jatuh ke titik terendah.
Trump menyalahkan China karena memulai pandemi COVID-19. Trump pun meluncurkan serangkaian tindakan terhadap China, termasuk perang perdagangan dan sanksi terhadap pejabat serta perusahaan China yang dianggap sebagai ancaman keamanan.
Xi memberi selamat kepada Biden atas kemenangan pemilu dalam pesan pada November, meskipun Biden telah memanggilnya "preman" selama kampanye dan berjanji memimpin upaya internasional untuk "menekan, mengisolasi, dan menghukum China."
Pemerintahan Biden mengisyaratkan akan mempertahankan tekanan pada Beijing, dan telah mendukung tekad pemerintahan Trump bahwa China telah melakukan genosida di Xinjiang.
Lihat Juga :