Bergerak Melampaui Kesepakatan Paris, India Tingkatkan Ambisi Iklimnya

Kamis, 11 Februari 2021 - 03:03 WIB
loading...
Bergerak Melampaui Kesepakatan...
Warga mengambil air di lahan yang mengalami kekeringan di India. Foto/REUTERS
A A A
NEW DELHI - Lima tahun setelah Perjanjian Paris, India adalah salah satu dari sedikit negara berkembang yang tidak hanya memenuhi target “hijau” tetapi juga bercita-cita mencapai target iklim yang lebih ambisius.

Pada KTT Ambisi Iklim (Climate Ambition Summit) baru-baru ini, Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi memaparkan pendekatan India terhadap isu ini.

Modi berkata, “Kita harus mengarahkan pandangan kita lebih tinggi, bahkan seperti kita tidak melupakan masa lalu.”

Baca juga: Iran Bisa Cari Senjata Nuklir Jika Ditekan Seperti ‘Kucing Tersudut’

Dia menambahkan bahwa India tidak hanya akan mencapai target Perjanjian Paris, tetapi akan melampauinya.

Lihat infografis: Iran Luncurkan 340 Kapal Cepat Baru yang Dilengkapi Rudal

Pada KTT Aksi Iklim PBB (U.N. Climate Action Summit) 2019, Modi mengatakan bahwa satu ons tindak langsung bernilai lebih dari satu ton khotbah. “Kami mengambil langkah praktis di semua bidang, termasuk energi, industri, transportasi, pertanian, dan perlindungan ruang hijau, dalam perjalanan seluruh masyarakat kami untuk menjadi pemimpin dalam aksi iklim dan ambisi iklim,” papar Modi.

Lihat video: Hari Ketiga Banjir, Bantuan Belum Merata di Indramayu

India menyadari bahwa perubahan iklim tidak dapat dilakukan secara diam-diam. Hal ini membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, komprehensif dan holistik. Ini membutuhkan inovasi dan adopsi teknologi baru dan berkelanjutan. Sadar akan keharusan ini, India telah mengarusutamakan iklim dalam strategi pembangunan dan industrinya.



Energi adalah pusat dari semua strategi iklim. “Kami yakin India telah menjadi pembangkit tenaga energi bersih dan pemimpin dalam transisi energi dari sumber penghasil karbon dioksida ke sumber energi terbarukan dan bahan bakar non-fosil,” papar pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) India.

“Kami berniat untuk terus memanfaatkan potensi energi terbarukan India. Kapasitas energi terbarukan kami adalah yang terbesar keempat di dunia dan perluasan kapasitas yang sedang dilakukan juga salah satu yang terbesar di dunia. Sebagian besar akan datang dari sumber energi terbersih yaitu tenaga surya,” ungkap Kemlu India.

“Kami sudah melihat kemajuan. Kami awalnya berkomitmen untuk membangun energi terbarukan dengan kapasitas 175 GW pada tahun 2022,” papar Kemlu India.

Kemlu India menambahkan, “Kami telah melangkah lebih jauh dan berharap dapat melampaui 220 GW dalam dua tahun ke depan. Kami memiliki target yang lebih ambisius yaitu 450 GW pada 2030.”

“Kami berupaya memastikan bahwa 40% tenaga listrik di India berasal dari sumber bahan bakar non-fosil pada tahun 2030. Dorongan energi bersih ini sejalan dengan upaya paralel untuk mengurangi intensitas emisi ekonomi kita sebesar 33-35% (dari level 2005) pada 2030,” ujar pernyataan Kemlu India.

Skema Ujwalla – upaya nasional untuk menggunakan lampu LED – mengurangi emisi CO2 hingga 38,5 juta ton setiap tahun. Skema Ujjwala, di mana lebih dari 80 juta rumah tangga telah diberikan akses ke gas bersih untuk memasak, adalah salah satu inisiatif energi bersih terbesar di dunia.

Tindakan dan keberlanjutan iklim sedang dibawa ke dalam skema pemerintah di berbagai sektor.

“Misi Kota Cerdas kami bekerja dengan 100 kota untuk membantu mereka menjadi lebih berkelanjutan dan mudah beradaptasi dengan tantangan perubahan iklim,” ujar Kemlu India.

Program Udara Bersih Nasional India bertujuan mengurangi polusi udara (PM2.5 dan PM10) sebesar 20-30% dalam empat tahun ke depan.

Misi Jal Jeevan, yang bertujuan menyediakan air minum yang aman dan memadai melalui sambungan keran rumah tangga individu pada tahun 2024 ke semua rumah tangga di pedesaan India, memiliki fokus keberlanjutan yang kuat.

Lebih banyak pohon ditanam dan lahan kritis sedang direklamasi untuk menciptakan “penyerap” karbon yang dapat menyerap 2,5-3 milyar ton CO2.

“Kami juga bekerja cepat untuk menciptakan jaringan transportasi ramah lingkungan, untuk mengimbangi sektor yang terkenal dengan emisi pencemarnya terutama di kota-kota besar kami,” papar Kemlu India.

India sedang membangun infrastruktur masa depan seperti sistem angkutan massal, jalan raya hijau, dan saluran air. Rencana mobilitas listrik nasional menciptakan ekosistem e-mobilitas elektronik dengan tujuan agar lebih dari 30% dari semua kendaraan di jalan-jalan India menjadi kendaraan listrik.

“Inisiatif ini untuk kebaikan kita sendiri karena India adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim,” ujar Kemlu India.

Kemlu India menyatakan, “Kami menyadari bahwa jalan masih panjang tetapi upaya ini sudah membuahkan hasil. Intensitas emisi India telah berkurang 21% selama periode 2005-2014. Selama dekade berikutnya, kami mengharapkan pengurangan yang lebih besar.”

India berkeinginan menjadi warga dunia yang bertanggung jawab di ruang iklim. “Kami tidak hanya melampaui komitmen Perjanjian Paris kami. Kami mengadopsi instrumen inovatif untuk memajukan kerjasama internasional dalam aksi iklim,” papar Kemlu India.

“Kami telah membentuk organisasi internasional seperti Aliansi Tenaga Surya Internasional (International Solar Alliance) dan Koalisi untuk Infrastruktur Tahan Bencana (Coalition for Disaster Resilient Infrastructure) yang bekerja untuk menciptakan jalur global rendah karbon,” ungkap Kemlu India.

Lebih dari 80 negara telah bergabung dengan Aliansi Tenaga Surya Internasional, menjadikannya salah satu badan internasional yang tumbuh paling cepat.

Kombinasi aksi nasional dan kewarganegaraan internasional yang bertanggung jawab ini menjadikan India unik di antara negara-negara berkembang dan menempatkannya di jalur untuk mewujudkan ambisinya menjadi pemimpin dalam pemikiran dan aksi terkait iklim.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
India Protes setelah...
India Protes setelah Kapal Minyak Pembawa 24 Warganya Dihantam Rudal AS di Dekat Oman
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Unpad, UB, dan UT Bantu...
Unpad, UB, dan UT Bantu Pelaku UMK Terdampak Bencana di Sumut lewat Program PMKI 2026
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
Putin: Ukraina Minta...
Putin: Ukraina Minta Serangan ke Wilayah Lebih Dalam Dihentikan
Rekomendasi
Argentina Bawa 500 Kg...
Argentina Bawa 500 Kg Daging Sapi Premium, Tradisi Barbeku Jadi Senjata Messi Cs di Piala Dunia 2026
Lindungi Bursa Saham...
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
Kejutan, Jerman Kebobolan...
Kejutan, Jerman Kebobolan Lawan Paraguay di Babak Pertama
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Infografis
15 Jurusan UI yang Sepi...
15 Jurusan UI yang Sepi Peminat, Referensi Tingkatkan Peluang Lolos SNBP 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved