Laksamana AS: Perang Nuklir dengan Rusia atau China Kemungkinan Nyata
Jum'at, 05 Februari 2021 - 14:37 WIB
loading...
A
A
A
Tetapi Richard dilaporkan menulis di jurnal US Naval Institute Proceedings bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah memodernisasi kemampuan nuklir rezimnya, dan telah berinvestasi dalam senjata baru.
Menurut The Times, Richard memperingatkan investasi Kremlin termasuk pembom baru, rudal balistik antarbenua, rudal balistik yang diluncurkan kapal selam, dan kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir.
Rezim Putin juga dilaporkan telah mengembangkan sistem peringatan nuklir dan kemampuan komando dan kontrol, serta kendaraan luncur hipersonik dan torpedo bersenjata nuklir.
Peringatan tentang hubungan dengan Moskow dan Beijing muncul setelah Trump membongkar kesepakatan Nuklir dengan Iran di bawah kepemimpinan pendahulunya Barack Obama.
Trump telah menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor dengan memfokuskan upaya diplomasi nuklirnya di Korea Utara, melakukan pembicaraan dengan pemimpin Kim Jong-un.
Iran menekan Biden untuk memulihkan kesepakatan setelah dia bersumpah untuk menghabiskan hari-hari pertamanya berkuasa membalikkan banyak kebijakan Trump.
Pembunuhan Jenderal Qassem Solemeini oleh pemerintahan Trump telah memicu periode ketegangan tinggi antara Barat dan kekuatan Teluk pada awal tahun lalu.
Militer Iran mengakui secara keliru menembak jatuh sebuah pesawat penumpang Ukraine Airlines di atas Teheran, menewaskan semua penumpang, hanya beberapa hari setelah jenderalSoleimani dibunuh.
Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas, tak lama sebelum dunia dilanda krisis virus corona.
Menurut The Times, Richard memperingatkan investasi Kremlin termasuk pembom baru, rudal balistik antarbenua, rudal balistik yang diluncurkan kapal selam, dan kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir.
Rezim Putin juga dilaporkan telah mengembangkan sistem peringatan nuklir dan kemampuan komando dan kontrol, serta kendaraan luncur hipersonik dan torpedo bersenjata nuklir.
Peringatan tentang hubungan dengan Moskow dan Beijing muncul setelah Trump membongkar kesepakatan Nuklir dengan Iran di bawah kepemimpinan pendahulunya Barack Obama.
Trump telah menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor dengan memfokuskan upaya diplomasi nuklirnya di Korea Utara, melakukan pembicaraan dengan pemimpin Kim Jong-un.
Iran menekan Biden untuk memulihkan kesepakatan setelah dia bersumpah untuk menghabiskan hari-hari pertamanya berkuasa membalikkan banyak kebijakan Trump.
Pembunuhan Jenderal Qassem Solemeini oleh pemerintahan Trump telah memicu periode ketegangan tinggi antara Barat dan kekuatan Teluk pada awal tahun lalu.
Militer Iran mengakui secara keliru menembak jatuh sebuah pesawat penumpang Ukraine Airlines di atas Teheran, menewaskan semua penumpang, hanya beberapa hari setelah jenderalSoleimani dibunuh.
Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas, tak lama sebelum dunia dilanda krisis virus corona.
(min)
Lihat Juga :