Dampak Covid-19, Kini Muncul Penyakit Langka pada Anak-Anak
Jum'at, 15 Mei 2020 - 12:10 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian Prof Russell Viner, Rektor Royal College of Paediatrics and Child Health mengatakan, mayoritas anak yang mengalami keadaan itu telah merespons perawatan dan semakin baik sehingga bisa kembali ke rumah. “Hal ini seharusnya tidak menghentikan para orang tua membiarkan anak-anak mereka keluar dari lockdown,” ungkap Viner. (Baca juga: Remaja Inggris Meninggal karena Penyakit Mirip Kawasaki Terkait Covid-19)
Menurutnya, pemahaman lebih lanjut mengenai penyakit peradangan “mungkin menjelaskan mengapa beberapa anak menjadi sangat sakit akibat Covid-19, sementara mayoritas tidak terdampak atau tidak menunjukkan gejala”. Anak-anak diperkirakan berjumlah 1% hingga 2% dari semua kasus positif virus korona—atau kurang dari 500 pasien di rumah sakit.
Michael Levin, profesor kedokteran spesialis anak dan kesehatan anak internasional di Imperial College London menjelaskan, kebanyakan anak-anak teruji negatif virus korona, namun teruji positif untuk pendeteksian antibodi. “Dengan demikian, kami berpikir bahwa biologi penyakit entah bagaimana melibatkan respons imunitas yang tidak biasa terhadap virus,” katanya. Bagaimanapun Profesor Levin menegaskan “ada banyak yang harus dipelajari” mengenai reaksi tersebut yang baru diketahui dua hingga tiga pekan. (Andika H Mustaqim)
Menurutnya, pemahaman lebih lanjut mengenai penyakit peradangan “mungkin menjelaskan mengapa beberapa anak menjadi sangat sakit akibat Covid-19, sementara mayoritas tidak terdampak atau tidak menunjukkan gejala”. Anak-anak diperkirakan berjumlah 1% hingga 2% dari semua kasus positif virus korona—atau kurang dari 500 pasien di rumah sakit.
Michael Levin, profesor kedokteran spesialis anak dan kesehatan anak internasional di Imperial College London menjelaskan, kebanyakan anak-anak teruji negatif virus korona, namun teruji positif untuk pendeteksian antibodi. “Dengan demikian, kami berpikir bahwa biologi penyakit entah bagaimana melibatkan respons imunitas yang tidak biasa terhadap virus,” katanya. Bagaimanapun Profesor Levin menegaskan “ada banyak yang harus dipelajari” mengenai reaksi tersebut yang baru diketahui dua hingga tiga pekan. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Lihat Juga :