Pendukungnya Serbu Capitol, Luksemburg Sebut Trump Pyromaniac

Rabu, 13 Januari 2021 - 09:18 WIB
loading...
Pendukungnya Serbu Capitol,...
Luksemburg menyebut Presiden AS Donald Trump kriminal dan pyromaniac setelah pendukungnya menyerbu gedung US Capitol. Foto/Deadline
A A A
LUKSEMBURG - Luksemburg , salah satu negara Eropa yang kecil, menolak kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo . Itu dilakukan setelah insiden penyerbuan gedung Capitol oleh pendukung Presiden Donald Trump .

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo terpaksa membatalkan perjalanannya ke Eropa pada menit-menit akhir setelah diplomat dan pejabat Uni Eropa menolak untuk bertemu dengannya, dan Menteri Luar Negeri Luksemburg Jean Asselborn tampaknya memimpin penolakan ini. Sekutu AS itu dilaporkan terlalu "malu" untuk bertemu dengan diplomat tertinggi AS itu.

Menteri Luar Negeri Luksemburg Jean Asselborn telah menusuk Presiden Donald Trump terkait kerusuhan di Capitol dalam sebuah wawancara pada 7 Januari lalu, memperjelas bahwa setiap kunjungan dari Pompeo dapat terbukti janggal.



"Trump adalah seorang kriminal, seorang pyromaniac politik yang harus dikirim ke pengadilan pidana. Dia adalah orang yang dipilih secara demokratis tetapi tidak tertarik pada demokrasi sedikit pun," kata Asselborn dalam wawancara dengan Radio RTL, menurut reporter France24 Philip Crowther.

"Tanggal 6 Januari 2021 adalah serangan 11/9 terhadap demokrasi itu sendiri, dan Trump adalah orang yang mendorongnya," imbuhnya seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (13/1/2021).

Untuk diketahui, menurut WikiPedia, pyromaniac adalah gangguan mental yang ditandai muncul dorongan kuat untuk sengaja menyulut api untuk meredakan ketegangan dan biasanya menimbulkan perasaan lega atau puas setelah melakukannya

"Orang-orang yang benar-benar bertanggung jawab adalah Trump dan anggota GOP (Partai Republik). Orang-orang seperti Ted Cruz dan orang-orang Republik terpilih lainnya bertanggung jawab karena mereka bertindak seperti anjing pudel Trump," Asselborn menambahkan.(Baca juga: Massa Pro-Trump Siapkan Pemberontakan Besar-besaran Jelang Pelantikan Biden )

Asselborn tidak sendirian di antara sekutu Eropa yang mengutuk Trump setelah pengepungan Capitol. Kanselir Jerman Angela Merkel, misalnya, menyalahkan Trump.

"Saya sangat menyesal bahwa sejak November, Presiden Trump tidak menerima kekalahannya, dan tidak melakukannya lagi kemarin," kata Merkel Kamis lalu, sehari setelah pengepungan.

"Dia memicu ketidakpastian tentang hasil pemilu, dan itu menciptakan suasana yang memungkinkan kejadian tadi malam," sambungnya.

Pompeo pertama-tama akan mengunjungi Luksemburg sebelum melakukan pertemuan dengan Uni Eropa. Namun tampaknya ia harus berjuang untuk melakukan pertemuan dengan pejabat mana pun. Perjalanan itu kemudian dibatalkan, diikuti dengan rencana kunjungan ke Brussel.

Batalnya perjalanan Eropa terakhir Mike Pompeo sebagai diplomat top AS adalah contoh lain efek domino dari peristiwa 6 Januari, ketika Trump memprovokasi massa pendukungnya untuk menyerbu gedung Capitol dalam apa yang merupakan percobaan kudeta.

Pengepungan Capitol adalah salah satu peristiwa paling dahsyat dalam sejarah AS, mewakili serangan mengejutkan di jantung demokrasi Amerika.

Di Washington, anggota parlemen dari kedua belah pihak mendorong Trump untuk dicopot dari jabatannya baik melalui Amandemen ke-25 atau pemakzulan.(Baca juga: DPR AS Bersiap Lakukan Voting untuk Memakzulkan Trump )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Analis Israel: Kesepakatan...
Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
14 Poin Perdamaian Iran...
14 Poin Perdamaian Iran dan AS, Ada Dana Rekonstruksi Senilai Rp5.316 Triliun yang Dibayar Negara-negara Arab
Trump Marahi Netanyahu:...
Trump Marahi Netanyahu: 'Mengapa Harus Lakukan Serangan Sialan Itu?'
Pesawat Terjun Payung...
Pesawat Terjun Payung Jatuh di AS, 12 Orang Tewas
Eks PM Israel Serukan...
Eks PM Israel Serukan Netanyahu Digulingkan dengan Tongkat dan Batu
Kapten Iran: Perang...
Kapten Iran: Perang Merampas Euforia Piala Dunia 2026
Indonesia Perkuat Kerja...
Indonesia Perkuat Kerja Sama Sosial Ekonomi Perbatasan dengan Malaysia
Momen Horor Mahasiswi...
Momen Horor Mahasiswi Tewas Main Rope Jump, Tali Belum Terpasang Terjun 40 Meter
Rekomendasi
Temui Gibran, Mahasiswa...
Temui Gibran, Mahasiswa Beri Tenggat Waktu 5 Hari ke Pemerintah untuk Realisasikan Tuntutan
Megawati Tegaskan Prabowo...
Megawati Tegaskan Prabowo Bukan Musuh: Itu Teman Saya
Hello Jadoo Tampil Perdana...
Hello Jadoo Tampil Perdana di Indonesia, Yuk Meriahkan Liburan Sekolah Bersama Animasi Populer Kesayanganmu
Berita Terkini
China Tangkap 2 Pemimpin...
China Tangkap 2 Pemimpin Gereja Bawah Tanah yang Berpengaruh, Apa Pemicunya?
Putin Mengamuk! Serangan...
Putin Mengamuk! Serangan Rusia Tewaskan 11 Orang dan Hancurkan Katedral Bersejarah
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
Dunia Sambut Positif...
Dunia Sambut Positif Perdamaian AS dan Iran, Hanya Israel yang Marah
Perdamaian Segera Terwujud,...
Perdamaian Segera Terwujud, Militer Iran: Keinginan Rakyat Sudah Dipaksakan kepada Musuh
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved