Kisah Ilmuwan Tanpa Kewarganegaraan Coba Temukan Vaksin Covid-19
Minggu, 03 Januari 2021 - 04:01 WIB
loading...
A
A
A
Meninggalkan keluarganya pada tahun 2018 adalah hal yang sangat memilukan. “Rasanya seperti mengucapkan selamat tinggal hampir untuk yang terakhir kalinya, karena saya tidak tahu kapan saya akan bertemu mereka lagi. Ketika saya melihat keluarga saya menangis, saya bertekad untuk melakukan sesuatu yang membuat mereka bangga," ungkapnya.
Rahhal mengatakan, perang telah meninggalkannya dengan luka fisik dan psikologis. Tetapi, ia memilih untuk tidak membicarakan pengalamannya. Dia tidak melarikan diri dari Suriah sebagai pengungsi, tetapi mendaftar untuk belajar di Jerman setelah mendapatkan gelar dalam ilmu farmasi dari Universitas Damaskus.
(Baca: Vaksin Covid-19 Bisa Digunakan jika Efektivitasnya di Atas 50% )
Ketekunan Rahhal telah membuatnya dinominasikan sebagai siswa internasional terbaik di Universitas Kassel, di mana dia menerima gelar master dalam ilmu nano bulan ini, dengan nilai tertinggi. Dia juga belajar bahasa Jerman, bekerja pada penelitian obat kanker dan membantu proyek mendongeng dwibahasa untuk anak-anak pengungsi.
Tapi, keadaan tanpa kewarganegaraan Rahhal terus membayangi hidupnya. Bahkan, tugas sederhana seperti memvalidasi kartu SIM telepon menjadi hal yang sulit dituntaskan. Otoritas Jerman yang bingung telah mengubah statusnya tiga kali, pertama mengkategorikannya sebagai tanpa kewarganegaraan, lalu sebagai waga Suriah, dan sekarang tidak ditentukan.
"Ketika Anda melihat ID Anda dan Anda melihat Anda adalah 'orang yang tidak ditentukan', itu benar-benar menyakitkan," katanya. Dokumennya menimbulkan kecurigaan di antara pejabat dan kenalannya.
“Jika saya mengatakan saya tanpa kewarganegaraan, saya khawatir jika orang akan berpikir saya telah melakukan sesuatu yang sangat buruk dalam hidup saya, sehingga kewarganegaraan saya dicabut,” tambahnya.
Rahhal mengatakan, perang telah meninggalkannya dengan luka fisik dan psikologis. Tetapi, ia memilih untuk tidak membicarakan pengalamannya. Dia tidak melarikan diri dari Suriah sebagai pengungsi, tetapi mendaftar untuk belajar di Jerman setelah mendapatkan gelar dalam ilmu farmasi dari Universitas Damaskus.
(Baca: Vaksin Covid-19 Bisa Digunakan jika Efektivitasnya di Atas 50% )
Ketekunan Rahhal telah membuatnya dinominasikan sebagai siswa internasional terbaik di Universitas Kassel, di mana dia menerima gelar master dalam ilmu nano bulan ini, dengan nilai tertinggi. Dia juga belajar bahasa Jerman, bekerja pada penelitian obat kanker dan membantu proyek mendongeng dwibahasa untuk anak-anak pengungsi.
Tapi, keadaan tanpa kewarganegaraan Rahhal terus membayangi hidupnya. Bahkan, tugas sederhana seperti memvalidasi kartu SIM telepon menjadi hal yang sulit dituntaskan. Otoritas Jerman yang bingung telah mengubah statusnya tiga kali, pertama mengkategorikannya sebagai tanpa kewarganegaraan, lalu sebagai waga Suriah, dan sekarang tidak ditentukan.
"Ketika Anda melihat ID Anda dan Anda melihat Anda adalah 'orang yang tidak ditentukan', itu benar-benar menyakitkan," katanya. Dokumennya menimbulkan kecurigaan di antara pejabat dan kenalannya.
“Jika saya mengatakan saya tanpa kewarganegaraan, saya khawatir jika orang akan berpikir saya telah melakukan sesuatu yang sangat buruk dalam hidup saya, sehingga kewarganegaraan saya dicabut,” tambahnya.
(esn)
Lihat Juga :