Inggris dan Uni Eropa Capai Kesepakatan Brexit

Kamis, 24 Desember 2020 - 23:20 WIB
loading...
Inggris dan Uni Eropa...
PM Inggris Boris Johnson rayakan tercapainya kesepakatan Brexit. Foto/Financial Times
A A A
LONDON - Inggris dan Uni Eropa (UE) akhirnya mencapai kesepakatan terkait perjanjian perdagangan pasca- Brexit setelah terlibat negosiasi selama berbulan-bulan. Terobosan tersebut menghindari skenario "tanpa kesepakatan" yang sangat ditakuti karena akan memicu kekacauan ekonomi dan berisiko menjadi gangguan besar pada arus barang serta obat-obatan.

"Kesepakatan selesai," bunyi pernyataan yang dikeluarkan dari Downing Street, kantor Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

"Segala sesuatu yang dijanjikan publik Inggris selama referendum 2016 dan dalam pemilihan umum tahun lalu disampaikan melalui kesepakatan ini," sambung pernyataan itu seperti dilansir dari CNN, Kamis (24/12/2020).



Pembicaraan telah menemui jalan buntu selama berbulan-bulan setelah kedua belah pihak tidak dapat mencapai kesepakatan di berbagai bidang seperti kuota penangkapan ikan, bagaimana Inggris akan menggunakan bantuan negara untuk mendukung bisnis Inggris pasca-Brexit, dan pengawasan hukum atas kesepakatan apa pun yang dicapai.

Kecil kemungkinan kesepakatan itu akan diratifikasi secara resmi sebelum transisi Brexit berakhir, mengingat masih harus melalui serangkaian rintangan hukum.

Para pemimpin Uni Eropa, parlemen Eropa, dan pemerintah Inggris sekarang harus menyetujui perjanjian mereka sendiri.

Dokumen perjanjian pertama-tama akan diterjemahkan, ditinjau, dan disetujui oleh semua 27 negara anggota UE.(Baca juga: Langgar Kesepakatan Brexit, UE Seret Inggris ke Jalur Hukum )

Setelah semua negara anggota memberikan tanda tangan mereka, itu kemudian akan kembali ke Parlemen Eropa, di mana Anggota Parlemen Eropa (MEP) akan memberikan suara untuk meratifikasi kesepakatan tersebut.

Namun Parlemen Eropa mengatakan sudah terlambat untuk mengadakan sesi pemungutan suara darurat sebelum masa transisi berakhir pada 31 Desember.

Sebaliknya, mereka berencana untuk menerapkan perjanjian "sementara" UE-Inggris dengan anggota parlemen berkumpul kembali secara resmi untuk meratifikasi kesepakatan di Tahun Baru.

Sementara itu, mungkin juga akan ada pemungutan suara di parlemen Inggris untuk melegalkan kesepakatan tersebut.(Baca juga: PM Johnson: Inggris Memilih Brexit Bukan Karena Tekanan Rusia )

Meskipun kesepakatan perdagangan tidak membutuhkan persetujuan parlemen, diharapkan anggota parlemen Inggris kemungkinan akan mempercepat liburan Natal mereka untuk berdebat dan menyetujuinya.

Diperlukan waktu hingga 48 jam untuk membawa Parlemen kembali ke sesi sidang, namun diketahui dapat bergerak sangat cepat jika diperlukan.

Sementara kesepakatan itu menandai tonggak penting dalam empat setengah tahun sejak Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa, perjanjian itu tidak mungkin untuk mengakhiri tahun-tahun perdebatan politik yang beracun di Inggris.

Anggota parlemen Euroskeptik sudah mengatur upaya untuk memastikan bahwa kesepakatan tidak meninggalkan ruang bagi Inggris untuk kembali ke orbit UE. Sementara itu mereka yang pro-Eropa akan berharap bahwa di beberapa titik di masa depan, Inggris, mungkin di bawah kepemimpinan baru, akan dapat memperkuat hubungan dengan Brussel.(Baca juga: Menteri Inggris: Tak Ada Bukti Rusia Intervensi Referendum Brexit )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Hendak Beli Kepulauan...
AS Hendak Beli Kepulauan Chagos, Ini Tujuannya
PM Inggris: Rusia Akan...
PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
Rusia Ancam Armenia:...
Rusia Ancam Armenia: Tak Lagi Dipasok Minyak Murah Jika Nekat Gabung Uni Eropa!
Apa Itu Pax Silica?...
Apa Itu Pax Silica? Aliansi UE dan AS untuk Melawan Dominasi AI China
Blok Rusia Tekan Armenia:...
Blok Rusia Tekan Armenia: Pilih Tetap Jadi Sekutu atau Hengkang ke Uni Eropa!
PM Ceko Sebut Uni Eropa...
PM Ceko Sebut Uni Eropa Mengikuti Jejak Kemunduran Kekaisaran Romawi, Ini 3 Alasannya
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Laporan Media: AS Tekan...
Laporan Media: AS Tekan Oman untuk Putuskan Hubungan dengan Iran
Rudal Iran Hantam Kota...
Rudal Iran Hantam Kota Tiberias Israel, Picu Kerusakan
Rekomendasi
Istana Terima Tuntutan...
Istana Terima Tuntutan BEM SI Jateng Soal Kuatkan Rupiah, tapi...
TAUD Ajukan Penghentian...
TAUD Ajukan Penghentian Sidang Kasus Andrie Yunus ke Pengadilan Militer Jakarta
Helikopter S-300 Tak...
Helikopter S-300 Tak Berawak Jadi Senjata Anti-kapal Selam
Berita Terkini
AS Hendak Beli Kepulauan...
AS Hendak Beli Kepulauan Chagos, Ini Tujuannya
Iran Luncurkan Gelombang...
Iran Luncurkan Gelombang Kedua Serangan Rudal, Jenderal Tertinggi Israel Sembunyi di Bunker
Tak Hanya Iran, Houthi...
Tak Hanya Iran, Houthi Yaman Juga Tembakkan Rudal ke Israel
AS Serukan Korut Denuklirisasi,...
AS Serukan Korut Denuklirisasi, Adik Kim Jong-un: Mimpi Usang!
Sadisnya Tentara Israel...
Sadisnya Tentara Israel Tembak Mati Bayi Palestina di Tepi Barat, IDF Luncurkan Penyelidikan
Trump Marah dan Ngambek...
Trump Marah dan Ngambek pada Host NBC: Anda Curang atau Bodoh
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved