Setahun Setelah Pandemi Covid-19 Muncul di China, Inggris Mulai Vaksinasi

Selasa, 08 Desember 2020 - 15:55 WIB
loading...
Setahun Setelah Pandemi...
Inggris mulai melakukan vaksinasi Covid-19. Foto/USA Today
A A A
LONDON - Inggris menjadi negara Barat pertama yang mulai melakukan vaksinasi Covid-19 terhadap penduduknya, Selasa (8/12/2020). Vaksinasi ini dilakukan setahun setelah kemunculan penyakit pernapasan baru yang misterius itu di Wuhan, China.

Sekitar 50 rumah sakit di National Health Service (NHS) yang dikelola pemerintah Inggris mulai memberikan inokulasi kepada orang-orang berusia di atas 80 tahun yang dirawat di rumah sakit atau memiliki janji rawat jalan yang dijadwalkan, bersama dengan pekerja panti jompo.

Sedangkan bagi kelompok yang lain harus menunggu giliran.



Penerima pertama imunisasi itu adalah nenek Margaret Keenan, yang berusia 91 tahun minggu depan. Dia menerima suntikan di Rumah Sakit Universitas Coventry pada pukul 06:31 pagi waktu setempat.

"Ini adalah hadiah ulang tahun awal terbaik yang bisa saya harapkan karena itu berarti saya akhirnya dapat berharap untuk menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman saya di Tahun Baru setelah saya sendiri hampir sepanjang tahun," kata Keenan seperti dikutip dari USA Today.

Dia mengatakan merasa sangat istimewa menjadi orang pertama yang divaksinasi Covid-19.(Baca juga: WHO: Penemuan Vaksin Seharusnya Tidak Membuat Kewaspadaan Menurun )

Dosis pertama dari suntikanvaksin Covid-19 produksi Pzifer/BionTech itumencapai Inggris pada Kamis malam setelah melakukan perjalanan melalui Eurotunnel yang menghubungkan Inggris ke benua Eropa dari Belgia, tempat vaksin diproduksi. Sedangkan pengiriman pertama vaksin ke kelompok rumah sakit terpilih di Inggris dilakukan pada hari Minggu.

Inggris telah memesan 40 juta dosis vaksin, atau cukup untuk 20 juta orang - sekitar sepertiga dari populasi - karena diperlukan dua dosis, dengan jarak penyuntikan tiga hingga empat minggu. Karena permintaan global yang intens, Inggris telah diberi 800.000 dosis untuk memulainya.

Vaksinasi ini datang dengan komplikasi logistik yang terkait dengan cara penyimpanan vaksin: suhu sangat dingin, pada suhu minus 70 derajat Celcius. Sebagian besar rumah sakit memiliki fasilitas untuk menyimpan vaksin pada suhu itu.

Sebagian besar program vaksinasi Inggris diharapkan berlangsung tahun depan.(Baca juga: Moskow Mulai Vaksinasi Massal Covid-19 )

Inggris menyetujui vaksin untuk penggunaan umum lebih cepat daripada negara lain, sebuah langkah yang telah menarik beberapa keraguan dari pejabat kesehatan masyarakat, termasuk ahli penyakit menular Amerika Serikat (AS) Anthony Fauci. Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Fauci meminta maaf setelah dia sebelumnya menyarankan dalam segmen di Fox News bahwa Inggris "terburu-buru" menggunakan vaksin dan regulator tidak meninjaunya "secermat" seperti di AS.

"Proses kami membutuhkan lebih banyak waktu daripada di Inggris. Dan itulah kenyataannya," kata Fauci kepada BBC.

"Saya tidak bermaksud menyiratkan kecerobohan meskipun hasilnya seperti itu," kata direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular.

Badan Pengatur Produk Obat dan Kesehatan, regulator federal Inggris, mengatakan menyetujui vaksin setelah menilai data secara ketat dalam waktu sesingkat mungkin, tanpa mengorbankan ketelitian tinjauan.

Inggris minggu lalu menjadi negara pertama di Eropa yang melewati 60.000 kematian akibat Covid-19. AS dengan cepat mendekati 300.000 kematian.

Sebelumnya China dan Rusia telah memulai peluncuran massal vaksin virus Corona mereka sendiri, yang mereka klaim telah menunjukkan tingkat kemanjuran dan keamanan yang serupa dengan yang di Barat. Tetapi mereka telah melakukannya sebelum menyelesaikan uji klinis tahap akhir.(Baca juga: Moskow Sebut Seluruh Wilayah Rusia akan Gelar Vaksinasi Covid-19 Pekan Depan )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Eropa Terasa Dipanggang!...
Eropa Terasa Dipanggang! Suhu Mencapai 44 Derajat Celsius
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Siapa Andy Burnham?...
Siapa Andy Burnham? Kandidat Kuat PM Inggris yang Suka Bermain Bola
Keir Starmer, PM yang...
Keir Starmer, PM yang Baik, tapi Kenapa Dibenci?
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Jelang Penandatanganan...
Jelang Penandatanganan di Jenewa, AS Rahasiakan Nota Kesepahaman Iran dari Israel
Tok! Senat AS Sahkan...
Tok! Senat AS Sahkan Resolusi Hentikan Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Program Binawan Eropa...
Program Binawan Eropa Antarkan 36 Perawat Indonesia Berkarier di Eropa
Klasemen Akhir Grup...
Klasemen Akhir Grup B Piala Dunia 2026: Swiss dan Kanada Tembus 32 Besar, Qatar Tersingkir
Demam Piala Dunia, Patung...
Demam Piala Dunia, Patung Ikonik Yesus Sang Penebus di Brasil Diselimuti Jersey Samba
Berita Terkini
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Venezuela Diguncang...
Venezuela Diguncang Gempa M7,2 Berturut-turut, Korban Tewas Diperkirakan Ribuan Orang
AS dan Israel Jadi Sumber...
AS dan Israel Jadi Sumber Kerusakan, Iran Serukan Tatanan Baru Negara Islam
Eropa Terasa Dipanggang!...
Eropa Terasa Dipanggang! Suhu Mencapai 44 Derajat Celsius
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Infografis
Penyebab Kasus Covid-19...
Penyebab Kasus Covid-19 di Indonesia Naik, Salah Satunya Mutasi Virus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved