Pembunuhan Fakhrizadeh Dimaksudkan untuk Hambat Diplomasi dan Ciptakan Krisis Besar di Kawasan

loading...
Pembunuhan Fakhrizadeh Dimaksudkan untuk Hambat Diplomasi dan Ciptakan Krisis Besar di Kawasan
Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyatakan pembunuhan Fakhrizadeh merupakan langkah terorisme serta melanggar berbagai peraturan, konvensi dan kesepakatan internasional yang diakui oleh dunia. Foto/REUTERS
JAKARTA - Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyatakan pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh merupakan langkah terorisme serta melanggar berbagai peraturan, konvensi dan kesepakatan internasional yang diakui oleh dunia. Kedubes Iran menyebut, pembunuhan ini memiliki sejumlah tujuan, salah satunya adalah menciptakan krisis besar di kawasan.

Dalam siaran pers yang diterima Sindonews pada Kamis (3/12/2020), kedubes Iran mengatakan bahwa pembunuhan ini dilakukan dengan beberapa tujuan, pertama menghambat pendekatan diplomatik dan dialog untuk menyelesaikan perbedaan di tingkat regional dan internasional.

"Merampas hak sah dan wajar Republik Islam Iran atas penggunaan teknologi nuklir damai sebagaimana ditetapkan dalam peraturan internasional. Menciptakan krisis skala besar untuk semakin membuat kawasan Timur Tengah tidak stabil dan mempersulit penerapan perjanjian nuklir Iran," ucapnya.

Selama beberapa tahun terakhir, jelasnya, beberapa ilmuwan dan pahlawan nasional Iran telah menjadi sasaran dan dibunuh dalam berbagai serangan teroris. Mereka mengatakan, Iran dengan jelas menunjukkan bahwa pusat-pusat tertentu asing berada di balik pembunuhan-pembunuhan tersebut. ( Baca juga: Parlemen Iran Sahkan UU Pengayaan Uranium Dekati Level Senjata Nuklir )



"Pembunuhan baru-baru ini terhadap ilmuwan nuklir senior Iran juga memiliki ciri dan cara yang sama dengan tindakan pengecut lainnya yang pada biasanya dilakukan oleh Rezim Teroris Israel, yang telah membunuh sejumlah besar elit ilmiah di Iran dan di seluruh kawasan," ungkapnya.

"Sebuah konspirasi jahat yang telah dirancang oleh Rezim Zionis Israel yang merupakan satu-satunya pemilik senjata nuklir di kawasan untuk memicu kekacauan di wilayah Timur Tengah. Rezim ini sejak penandatanganan perjanjian nuklir antara Iran dan negara-negara 5 + 1 pada tahun 2015, terus menerus mencoba untuk membujuk Washington agar meninggalkan JCPOA dan mengembalikan sanksi paling parah sepanjang sejarah dan ilegal terhadap masyarakat Iran," sambungnya, menggunakan nama resmi kesepakatan nuklir.

Tindakan teror dan pembunuhan pengecut terhadap Fakhrizadeh, papar kedubes Iran, merupakan pelanggaran nyata terhadap aturan internasional dan prinsip moral dan kemanusiaan yang dilakukan terhadap Iran sebagai negara yang selama ini berada di garis terdepan dalam perang melawan terorisme demi membangun perdamaian dan stabilitas di kawasan dan dunia.



"Rakyat Iran berharap komunitas internasional dan negara-negara pembela HAM untuk mengutuk terorisme negara dan membangun konsensus agar melawan ketegangan di kawasan. Iran menyerukan kepada dunia internasional, khususnya Uni Eropa (UE), untuk meninggalkan standar ganda dan mengutuk tindakan terorisme yang berbasis negara ini," jelasnya.

"Tindakan teroris terhadap ilmuwan terkemuka Iran memperlihatkan keputusaan para musuh rakyat Iran yang berasal dari kelemahan, ketidakmampuan dan kekalahan mereka di kawasan dan di arena politik lainnya," ungkapnya. ( Baca juga: UE: Kematian Fakhrizadeh Tidak akan Hentikan Iran Dapatkan Senjata Nuklir )

Kedubes Iran menyebut, musuh-musuh Teheran yang buta hati, terutama mereka yang merancang, melakukan dan mendukung tindakan kriminal ini, harus mengetahui bahwa tindakan jahat seperti itu tidak akan mempengaruhi tekad dan keinginan bangsa Iran untuk melanjutkan jalan mereka yang mulia menuju kemajuan dan kejayaan.

"Iran memperingatkan terhadap tindakan petualangan apa pun dan menekankan pada hak sah dan wajarnya untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk membela rakyat serta mengamankan kepentingannya serta akan merespon pembunuhan ini pada waktu yang tepat," tukasnya.
(esn)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top