Hidupkan Perundingan Perdamaian Palestina
Kamis, 03 Desember 2020 - 11:15 WIB
loading...
Patroli tentara Israel di Jalur Gaza. Raja Abdullah dari Yordania dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menggelar pertemuan billateral di Aqaba, Yordania, kemarin berharap perundingan perdamaian konflik Palestina-Israel dapat kembali didukung pemerin
A
A
A
AMMAN - Raja Abdullah dari Yordania dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menggelar pertemuan billateral di Aqaba, Yordania, kemarin. Kedua pemimpin itu sangat berharap perundingan perdamaian konflik Palestina-Israel dapat kembali didukung pemerintah Amerika Serikat (AS) yang sebentar lagi akan diambil alih presiden terpilih Joe Biden pada 2021.
Raja Abdullah mengatakan sangat mendukung pernyataan Palestina. Dia juga patut optimis mengingat Biden bertindak lebih dewasa, diplomatik, dan halus dibandingkan presiden Donald Trump. Sebelumnya, Raja Abdullah menyayangkan sikap yang diambil Trump dan Israel yang bertindak sepihak dalam mengatasi berbagai isu di kawasan Palestina, terutama di Tepi Barat. (Baca: Kemampuan Drone Turki dan Azerbaijan Makin Ditakuti Eropa)
“Yang Mulai Raja Abdullah menekankan bahwa Yordania akan mendukung dan memberikan bantuan kepada Palestina sepenuhnya dalam mengejar hak mereka untuk menjadi negara merdeka,” ungkap Kerajaan Yordania, dikutip Reuters. “Saat berbicara melalui sambungan telepon, beliau juga meminta Biden mendukung solusi dua negara dalam menyelesaikan konflik Palestina.”
AS di bawah Trump melucuti seluruh perundingan perdamaian yang dicapai selama beberapa dekade, mulai dari mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel hingga perizinan pencaplokan Tepi Barat oleh Israel. Langkah itu memicu protes di Palestina dan negara berpenduduk muslim lainnya. Selain itu, para ahli menilai pendekatan gamblang Trump telah mematikan perundingan damai.
Para diplomat AS mengatakan Yordania merupakan negara sahaba dan juga menjadi negara pertama yang mengucapkan selamat kepada presiden terpilih AS, termasuk kepada Biden. Raja Abdulllah mengatakan kebijakan Trump yang selalu mengamini kebijakan sayap kanan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah menuai konflik dan menjauhkan perdamaian. (Baca juga: Nasehat Menghadapi Ujian dan Fitnah Akhir Zaman)
Rencana perdamaian yang diusung Trump juga selalu berpihak kepada Israel. Palestina bahkan tidak dianggap, diperhatikan, dan diberikan hak. Selain merugikan Palestina, rencana perdamaian Trump juga merugikan negara lain yang berdekatan dengan Palestina. Dengan meluasnya pencaplokan tanah di Tepi Barat, warga lokal juga sempat direncanakan bermigrasi menuju kawasan Yordania.
Wilayah Tepi Barat awalnya merupakan wilayah Yordania, termasuk Yerusalem Timur. Namun, kawasan itu jatuh ke tangan Israel setelah Yordania kalah dalam Perang Arab-Israel pada 1967. Saat itu, banyak warga Palestina bermigrasi menuju Yordania. Meski berbeda wilayah, Yordania memiliki hubungan darah dengan Palestina.
Raja Abdullah mengatakan sangat mendukung pernyataan Palestina. Dia juga patut optimis mengingat Biden bertindak lebih dewasa, diplomatik, dan halus dibandingkan presiden Donald Trump. Sebelumnya, Raja Abdullah menyayangkan sikap yang diambil Trump dan Israel yang bertindak sepihak dalam mengatasi berbagai isu di kawasan Palestina, terutama di Tepi Barat. (Baca: Kemampuan Drone Turki dan Azerbaijan Makin Ditakuti Eropa)
“Yang Mulai Raja Abdullah menekankan bahwa Yordania akan mendukung dan memberikan bantuan kepada Palestina sepenuhnya dalam mengejar hak mereka untuk menjadi negara merdeka,” ungkap Kerajaan Yordania, dikutip Reuters. “Saat berbicara melalui sambungan telepon, beliau juga meminta Biden mendukung solusi dua negara dalam menyelesaikan konflik Palestina.”
AS di bawah Trump melucuti seluruh perundingan perdamaian yang dicapai selama beberapa dekade, mulai dari mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel hingga perizinan pencaplokan Tepi Barat oleh Israel. Langkah itu memicu protes di Palestina dan negara berpenduduk muslim lainnya. Selain itu, para ahli menilai pendekatan gamblang Trump telah mematikan perundingan damai.
Para diplomat AS mengatakan Yordania merupakan negara sahaba dan juga menjadi negara pertama yang mengucapkan selamat kepada presiden terpilih AS, termasuk kepada Biden. Raja Abdulllah mengatakan kebijakan Trump yang selalu mengamini kebijakan sayap kanan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah menuai konflik dan menjauhkan perdamaian. (Baca juga: Nasehat Menghadapi Ujian dan Fitnah Akhir Zaman)
Rencana perdamaian yang diusung Trump juga selalu berpihak kepada Israel. Palestina bahkan tidak dianggap, diperhatikan, dan diberikan hak. Selain merugikan Palestina, rencana perdamaian Trump juga merugikan negara lain yang berdekatan dengan Palestina. Dengan meluasnya pencaplokan tanah di Tepi Barat, warga lokal juga sempat direncanakan bermigrasi menuju kawasan Yordania.
Wilayah Tepi Barat awalnya merupakan wilayah Yordania, termasuk Yerusalem Timur. Namun, kawasan itu jatuh ke tangan Israel setelah Yordania kalah dalam Perang Arab-Israel pada 1967. Saat itu, banyak warga Palestina bermigrasi menuju Yordania. Meski berbeda wilayah, Yordania memiliki hubungan darah dengan Palestina.
Lihat Juga :