Perusahaan Farmasi Siap Produksi Satu Miliar Vaksin Covid-19 Tahun Depan
Selasa, 12 Mei 2020 - 07:02 WIB
loading...
A
A
A
Tidak hanya itu, Indonesia juga sudah mengembangkan suplemen untuk meningkatkan daya tubuh terhadap Covid-19. Saat ini suplemen yang berasal dari berbagai bahan herbal itu tengah diuji klinis di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet.
“Update dari plasma konvalensen, ternyata sudah dikembangkan di beberapa RS dan sudah ada protokol nasional untuk melakukan clinical trial di lebih banyak rumah sakit di Indonesia. Sehingga, diharapkan bisa naikkan tingkat kesembuhan pasien,” tuturnya. Bambang juga mengatakan pendekatan stemcell untuk bisa memperbaiki jaringan paru-paru yang rusak akibat Covid-19 sudah mulai dikembangkan.
Diplomasi Vaksin
Penggagas Kongres Diaspora Indonesia dan Penggagas Indonesia Diaspora Network Dino Patti Djalal mengungkapkan, untuk menangani pandemi Covid-19 di Indonesia juga perlu kerja sama internasional satu di antaranya dengan diplomasi vaksin. “Untuk menangani Covid-19 tidak bisa hanya lockdown atau PSBB, tapi juga harus ada kerja sama internasional,” ungkap Dino dalam diskusi melalui sambungan telekonferensi dari Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta (11/5).
Kerja sama internasional saat ini, kata Dino, dengan meningkatkan diplomasi vaksin Covid-19. “Kemudian kita juga harus meningkatkan diplomasi vaksin. Karena yang kita khawatirkan adalah masih ada satu tahun mungkin ya difinalkan, kemudian baru bisa diproduksi dan semua negara akan rebutan,” ucapnya.
Jika tidak gencar melakukan diplomasi vaksin, dikhawatirkan akan sulit untuk mendapatkan vaksin ketika sudah diproduksi. “Dan mungkin yang akan terkena yang paling sulit mendapatkan negara-negara berkembang. Nah, pertanyaannya, Indonesia ngantrenya ke berapa nih nanti pada saat vaksin mulai didistribusikan?” tanya Dino.
Dino pun menegaskan Indonesia harus segera mengencangkan diplomasi vaksin dengan negara internasional. “Sementara ekonomi akan semakin melambat bahkan mungkin kita akan memasuki situasi krisis. Jadi kita harus mengencangkan diplomasi vaksin ini,” katanya.
Selain itu, kata Dino, Indonesia juga harus berperan untuk menjadikan WHO sebagai platform untuk saling kerja sama dalam mengatasi pandemi Covid-19. “Jangan menjadikan WHO tempat bersaing secara negatif,” ujarnya. Dino melihat sekarang sudah mulai ada jalinan kerja sama baik di ASEAN, G-20, maupun PBB. (Andika H Mustaqim/Dita Angga/Binti Mufarida)
“Update dari plasma konvalensen, ternyata sudah dikembangkan di beberapa RS dan sudah ada protokol nasional untuk melakukan clinical trial di lebih banyak rumah sakit di Indonesia. Sehingga, diharapkan bisa naikkan tingkat kesembuhan pasien,” tuturnya. Bambang juga mengatakan pendekatan stemcell untuk bisa memperbaiki jaringan paru-paru yang rusak akibat Covid-19 sudah mulai dikembangkan.
Diplomasi Vaksin
Penggagas Kongres Diaspora Indonesia dan Penggagas Indonesia Diaspora Network Dino Patti Djalal mengungkapkan, untuk menangani pandemi Covid-19 di Indonesia juga perlu kerja sama internasional satu di antaranya dengan diplomasi vaksin. “Untuk menangani Covid-19 tidak bisa hanya lockdown atau PSBB, tapi juga harus ada kerja sama internasional,” ungkap Dino dalam diskusi melalui sambungan telekonferensi dari Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha BNPB, Jakarta (11/5).
Kerja sama internasional saat ini, kata Dino, dengan meningkatkan diplomasi vaksin Covid-19. “Kemudian kita juga harus meningkatkan diplomasi vaksin. Karena yang kita khawatirkan adalah masih ada satu tahun mungkin ya difinalkan, kemudian baru bisa diproduksi dan semua negara akan rebutan,” ucapnya.
Jika tidak gencar melakukan diplomasi vaksin, dikhawatirkan akan sulit untuk mendapatkan vaksin ketika sudah diproduksi. “Dan mungkin yang akan terkena yang paling sulit mendapatkan negara-negara berkembang. Nah, pertanyaannya, Indonesia ngantrenya ke berapa nih nanti pada saat vaksin mulai didistribusikan?” tanya Dino.
Dino pun menegaskan Indonesia harus segera mengencangkan diplomasi vaksin dengan negara internasional. “Sementara ekonomi akan semakin melambat bahkan mungkin kita akan memasuki situasi krisis. Jadi kita harus mengencangkan diplomasi vaksin ini,” katanya.
Selain itu, kata Dino, Indonesia juga harus berperan untuk menjadikan WHO sebagai platform untuk saling kerja sama dalam mengatasi pandemi Covid-19. “Jangan menjadikan WHO tempat bersaing secara negatif,” ujarnya. Dino melihat sekarang sudah mulai ada jalinan kerja sama baik di ASEAN, G-20, maupun PBB. (Andika H Mustaqim/Dita Angga/Binti Mufarida)
(ysw)
Lihat Juga :