NATO: AS Tarik Pasukan, Afghanistan Akan Jadi Sarang Teroris
Rabu, 18 November 2020 - 13:18 WIB
loading...
Foto/Ilustrasi/Sindonews
A
A
A
BRUSELLS - Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO , Jens Stoltenberg memperingatkan, penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Afghanistan kemungkinan akan mengubahnya menjadi "platform bagi teroris internasional."
"Afghanistan sekali lagi berisiko menjadi platform bagi teroris internasional untuk merencanakan dan mengatur serangan di tanah air kami," kata Stoltenberg dalam sebuah pernyataan yang datang setelah laporan awal Washington yang ingin memangkas jumlah pasukan AS yang masih dimilikinya di negara itu seperti dilansir dari Russia Today, Rabu (18/11/2020).
Pentagon mengumumkan mereka akan melanjutkan perintah Presiden Donald Trump untuk mengurangi pasukan di Irak dan Afghanistan, meninggalkan 2.500 tentara di setiap negara pada 15 Januari mendatang. Sementara pemotongan itu akan membuat sekitar 500 tentara meninggalkan Irak, sekitar 2.000 tentara AS akan pulang dari Afghanistan.
Berita tersebut tidak diterima dengan baik oleh sekretaris jenderal NATO, yang dengan cepat mencatat bahwa Afghanistan bisa menjadi tempat pementasan baru untuk kebangkitan kembali kekhalifahan Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS) setelah sebagian besar kelompok teroris itu dikalahkan di Suriah dan Irak.
Sementara mengakui bahwa pasukan NATO telah ditempatkan di Afghanistan selama hampir 20 tahun, Stoltenberg berpendapat bahwa harga untuk pergi terlalu cepat atau dengan cara yang tidak terkoordinasi bisa sangat tinggi.
"Afghanistan sekali lagi berisiko menjadi platform bagi teroris internasional untuk merencanakan dan mengatur serangan di tanah air kami," kata Stoltenberg dalam sebuah pernyataan yang datang setelah laporan awal Washington yang ingin memangkas jumlah pasukan AS yang masih dimilikinya di negara itu seperti dilansir dari Russia Today, Rabu (18/11/2020).
Pentagon mengumumkan mereka akan melanjutkan perintah Presiden Donald Trump untuk mengurangi pasukan di Irak dan Afghanistan, meninggalkan 2.500 tentara di setiap negara pada 15 Januari mendatang. Sementara pemotongan itu akan membuat sekitar 500 tentara meninggalkan Irak, sekitar 2.000 tentara AS akan pulang dari Afghanistan.
Berita tersebut tidak diterima dengan baik oleh sekretaris jenderal NATO, yang dengan cepat mencatat bahwa Afghanistan bisa menjadi tempat pementasan baru untuk kebangkitan kembali kekhalifahan Negara Islam (IS, sebelumnya ISIS) setelah sebagian besar kelompok teroris itu dikalahkan di Suriah dan Irak.
Sementara mengakui bahwa pasukan NATO telah ditempatkan di Afghanistan selama hampir 20 tahun, Stoltenberg berpendapat bahwa harga untuk pergi terlalu cepat atau dengan cara yang tidak terkoordinasi bisa sangat tinggi.
Lihat Juga :