Abaikan Kemarahan China, AS Setuju Jual 400 Rudal Harpoon ke Taiwan

Selasa, 27 Oktober 2020 - 14:46 WIB
loading...
Abaikan Kemarahan China,...
Rudal jelajah anti-kapal Harpoon Amerika Serikat. Foto/US Navy
A A A
WASHINGTON - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengizinkan penjualan 400 rudal jelajah anti-kapal Harpoon, bersama dengan peluncur mobile, radar, dan dukungan teknis terkait, ke Taiwan . Langkah Amerika ini mengabaikan kemarahan China yang sejak awal sangat menentang penjualan senjata ke pulau yang telah memerintah sendiri tersebut.

Nilai kesepkatan penjualan rudal Harpoon dan perangkat pendukungnya mencapai USD2,37 miliar. (Baca: AS-Jepang Latihan Perang Besar-besaran, Unjuk Kekuatan pada China )

Rudal Boeing Harpoon Block II akan melengkapi 100 Unit Transporter Peluncur Sistem Pertahanan Pantai Harpoon, 25 truk radar, empat rudal latihan, suku cadang, dan dukungan sebagai bagian dari kesepakatan.

Departemen Luar Negeri Amerika harus menyetujui penjualan senjata asing (FMS) sebelum kesepakatan dapat dicapai. Taiwan bermaksud menggunakan dananya sendiri untuk memperoleh rudal tersebut.

Penjualan rudal jelajah anti-kapal terjadi ketika ketegangan antara China dan Amerika Serikat meningkat terkait pandemi Covid-19, yang disalahkan oleh Presiden Trump pada China. Langkah Washington itu juga sebagai respons atas pengumuman hari ini bahwa China menjatuhkan sanksi kepada Boeing, Lockheed Martin dan Raytheon atas penjualan senjata Amerika ke Taiwan. (Baca: China Sanksi Perusahaan AS atas Penjualan Senjata ke Taiwan )

Pengumuman sanksi tersebut mendapat tanggapan yang tidak menyenangkan dari juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Morgan Ortagus, yang mengatakan dalam sebuah pernyataan melalui email bahwa sangat keterlaluan menargetkan perusahaan-perusahaan AS untuk melakukan kontrak dengan pemerintah Amerika Serikat.

“Upaya Beijing untuk membalas terhadap perusahaan AS dan asing atas penjualan mereka yang mendukung persyaratan pertahanan diri Taiwan yang sah tidak produktif,” kata Ortagus.

"Lebih buruk lagi, dalam kasus ini, Republik Rakyat China (RRC) memberikan sanksi kepada perusahaan karena melakukan bisnis dengan Pemerintah AS," ujarnya.

Ortagus mengindikasikan bahwa sanksi oleh China itu sebagai tanggapan atas penjualan dua sistem rudal yang tertunda dan sistem pengintaian udara kepada Taiwan yang diumumkan minggu lalu. (Baca: Dewan Cendekiawan Senior Saudi: Menghina Nabi Muhammad Hanya Melayani Ekstremis )

"Pada tanggal 21 Oktober, pemerintah memberi tahu Kongres tentang beberapa kemungkinan Penjualan Militer Asing ke Taiwan untuk rudal SLAM-ER, sistem roket HIMARS, dan pod pengintai MS-110," bunyi pernyataan Ortagus.

"Ini adalah penjualan FMS di manaBasisIndustri Pertahanan AS melakukan kontrak dengan Pemerintah AS," lanjut dia.

“Karena itu, RRC tampaknya menerapkan sanksi terhadap perusahaan AS karena melakukan kontrak dengan Pemerintah AS. Ini sepenuhnya tidak dapat diterima dan mencerminkan kurangnya pemahaman tentang sifat banyak kerja sama keamanan Amerika," imbuh dia seperti dikutip Defense News, Selasa (27/10/2020).

Taiwan telah memerintah sendiri setelah perang saudara China puluhan tahun silam. Namun, Beijing tidak mengakui pulau itu sebagai negara dan menganggapnya sebagai provinsinya yang membangkang. Beijing telah bersumpah menundukkan Taipei, bahkan dengan kekerasan militer jika perlu.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
Presiden FIFA Dicecar...
Presiden FIFA Dicecar Jurnalis soal Kekacauan Piala Dunia 2026, Jawaban Infantino Terkesan Meremehkan
Sengaja Targetkan Anak-Anak...
Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza
AS-Iran Saling Serang,...
AS-Iran Saling Serang, Trump Ancam Lenyapkan Iran
Rekomendasi
Deteksi Bibit Siklon...
Deteksi Bibit Siklon Tropis 96W, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Gelombang Tinggi
Rencana Batasan Tar-Nikotin...
Rencana Batasan Tar-Nikotin dan Penyeragaman Kemasan Dinilai Ancam Industri Kretek Nasional
Kejurnas Atletik 2026...
Kejurnas Atletik 2026 Resmi Bergulir, Jadi Ajang Lahirnya Generasi Baru Atlet Indonesia
Berita Terkini
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Teroris Ditembak Mati...
6 Teroris Ditembak Mati usai Serang Markas Rangers Pakistan, 4 Tentara Juga Tewas
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Update Gempa Kembar...
Update Gempa Kembar Guncang Venezuela: 1.430 Orang Tewas, 3.200 Luka, 50.000 Hilang
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Infografis
4 Senjata Andalan China,...
4 Senjata Andalan China, dari Robot Serigala hingga Rudal Hipersonik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved