Pengamat Memprediksi Normalisasi Hubungan Saudi-Israel Hanya Masalah Waktu
Minggu, 11 Oktober 2020 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
"Pengumuman Saudi itu bersejarah. Tapi, kami masih memiliki jalan ke depan sebelum kami melihat normalisasi hubungan antara Israel dan Saudi. Alasan utama untuk ini adalah masalah Palestina," ucapnya, seperti dilansir Sputnik.
"Negara-negara Teluk pada umumnya dan Saudi pada khususnya sangat konsisten dalam sikap mereka terkait masalah ini dan apa yang mereka katakan jelas. Mereka memang menginginkan normalisasi dengan Israel, tetapi mereka juga ingin mengakhiri konflik Israel-Palestina dan mereka ingin melihat semacam proses perdamaian terjadi. Namun, sekarang tidak ada apa-apa," sambungnya.
Terakhir kali Israel dan Palestina duduk untuk pembicaraan adalah pada 2013-2014, ketika Menteri Luar Negeri AS saat itu, John Kerry mencoba membawa kedua pihak ke meja perundingan, sebuah upaya yang sebagian besar tidak berhasil.
Sejak kegagalan pembicaraan itu, Israel terus melanjutkan aktivitas permukimannya di Tepi Barat, membangun hampir 2.000 unit pemukiman di wilayah yang disengketakan pada tahun 2019, sedangkan Palestina terus berpegang pada kebijakan penghasutan mereka, yang menyebabkan kebuntuan dalam negosiasi.
Kebuntuan itulah yang membuat Netanyahu percaya bahwa Israel tidak boleh hanya duduk diam, menunggu Palestina datang ke meja perundingan. Sebaliknya, negara Yahudi harus menangani masalah dengan tangannya sendiri dan membangun aliansi dengan kekuatan regional, melewati Otoritas Palestina (PA).
"Negara-negara Teluk pada umumnya dan Saudi pada khususnya sangat konsisten dalam sikap mereka terkait masalah ini dan apa yang mereka katakan jelas. Mereka memang menginginkan normalisasi dengan Israel, tetapi mereka juga ingin mengakhiri konflik Israel-Palestina dan mereka ingin melihat semacam proses perdamaian terjadi. Namun, sekarang tidak ada apa-apa," sambungnya.
Terakhir kali Israel dan Palestina duduk untuk pembicaraan adalah pada 2013-2014, ketika Menteri Luar Negeri AS saat itu, John Kerry mencoba membawa kedua pihak ke meja perundingan, sebuah upaya yang sebagian besar tidak berhasil.
Sejak kegagalan pembicaraan itu, Israel terus melanjutkan aktivitas permukimannya di Tepi Barat, membangun hampir 2.000 unit pemukiman di wilayah yang disengketakan pada tahun 2019, sedangkan Palestina terus berpegang pada kebijakan penghasutan mereka, yang menyebabkan kebuntuan dalam negosiasi.
Kebuntuan itulah yang membuat Netanyahu percaya bahwa Israel tidak boleh hanya duduk diam, menunggu Palestina datang ke meja perundingan. Sebaliknya, negara Yahudi harus menangani masalah dengan tangannya sendiri dan membangun aliansi dengan kekuatan regional, melewati Otoritas Palestina (PA).
Lihat Juga :