Maduro: Trump Izinkan CIA Lakukan Operasi Senyap di Venezuela
Rabu, 23 September 2020 - 15:43 WIB
loading...
Maduro mengatakan, Trump telah mengizinkan CIA untuk melancarkan operasi yang dia sebut rahasia dan teroris, yang menargetkan sejumlah orang di Venezuela. Foto/REUTERS
A
A
A
CARACAS - Presiden Venezuela , Nicolas Maduro kembali menyebut Amerika Serikat (AS) telah menjalankan operasi senyap di negaranya. Dia mengatakan, Presiden AS, Donald Trump telah mengizinkan CIA untuk melancarkan operasi yang dia sebut rahasia dan teroris, yang menargetkan sejumlah orang di Venezuela.
"Mereka telah memberi CIA lampu hijau untuk datang dengan agen langsung untuk operasi rahasia dan teroris melawan minyak, listrik, militer, target pemilihan dan tindakan rahasia kotor lainnya seperti yang digunakan oleh CIA," kata Maduro, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (23/9/2020).
Pernyataan itu datang di tengah serangkaian perkembangan yang menyusul penangkapan mata-mata AS di dekat kilang minyak terbesar Venezuela awal bulan ini. ( Baca juga: AS Jatuhkan Sanksi pada Maduro dan Iran, Venezuela Marah )
Menyusul penyelidikan atas masalah tersebut, Maduro mengklaim bahwa mata-mata itu, yang ditangkap bersama tiga orang lainnya di Falcón State, menjabat sebagai operator komunikasi di pangkalan CIA di Irak antara tahun 2006 dan 2016.
Dia juga mengulangi tuduhan terhadap Administrasi Penegakan Narkoba AS (DEA), yang dia klaim telah digunakan oleh Gedung Putih untuk menyerang Venezuela dan menggulingkan Caracas. ( Baca juga: Berpidato di Sidang Umum PBB, Jokowi Soroti Masalah Kedaulatan Wilayah )
“Telah menempatkan DEA sebagai agen operator penyerangan terhadap Venezuela, apa yang baru saat ini adalah DEA tidak terlibat dengan kelompok penyelundup narkoba Kolombia untuk menyerang Venezuela, hal yang baru adalah mereka telah menyetujui bahwa CIA terlibat dalam operasi serangan teroris terhadap Venezuela," katanya
"Mereka telah memberi CIA lampu hijau untuk datang dengan agen langsung untuk operasi rahasia dan teroris melawan minyak, listrik, militer, target pemilihan dan tindakan rahasia kotor lainnya seperti yang digunakan oleh CIA," kata Maduro, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (23/9/2020).
Pernyataan itu datang di tengah serangkaian perkembangan yang menyusul penangkapan mata-mata AS di dekat kilang minyak terbesar Venezuela awal bulan ini. ( Baca juga: AS Jatuhkan Sanksi pada Maduro dan Iran, Venezuela Marah )
Menyusul penyelidikan atas masalah tersebut, Maduro mengklaim bahwa mata-mata itu, yang ditangkap bersama tiga orang lainnya di Falcón State, menjabat sebagai operator komunikasi di pangkalan CIA di Irak antara tahun 2006 dan 2016.
Dia juga mengulangi tuduhan terhadap Administrasi Penegakan Narkoba AS (DEA), yang dia klaim telah digunakan oleh Gedung Putih untuk menyerang Venezuela dan menggulingkan Caracas. ( Baca juga: Berpidato di Sidang Umum PBB, Jokowi Soroti Masalah Kedaulatan Wilayah )
“Telah menempatkan DEA sebagai agen operator penyerangan terhadap Venezuela, apa yang baru saat ini adalah DEA tidak terlibat dengan kelompok penyelundup narkoba Kolombia untuk menyerang Venezuela, hal yang baru adalah mereka telah menyetujui bahwa CIA terlibat dalam operasi serangan teroris terhadap Venezuela," katanya
(esn)
Lihat Juga :