Malaysia Tak Takut Ancaman AS, PM Anwar Ibrahim Tetap Akan Usir Seluruh Warga Israel
Kamis, 23 Juli 2026 - 13:34 WIB
loading...
Malaysia tak gentar dengan ancaman AS, PM Anwar Ibrahim tetap akan usir setiap warga Israel yang terdeteksi berada di Malaysia. Foto/Wikipedia
A
A
A
KUALA LUMPUR - Perdana Menteri (PM) Anwar Ibrahim menegaskan Malaysia tidak akan terintimidasi untuk mengubah kebijakan yang telah berlaku selama beberapa dekade untuk menolak masuk setiap warga negara Israel. Dia tetap akan mengusir seluruh warga Israel jika diketahui berada di Malaysia.
Pernyataan Anwar itu sebagai respons atas ancaman para anggota parlemen AS bahwa Washington akan menangguhkan bantuan untuk Malaysia jika Anwar tidak mengubah kebijakan anti-Israel.
Baca Juga: AS Ancam Malaysia setelah PM Anwar Ibrahim Ingin Usir Seluruh Warga Israel
Menurut Anwar, Malaysia tidak melanggar hukum internasional apa pun hanya karena memiliki kebijakan seperti itu.
"Saya ingin menanggapi para anggota parlemen Amerika Serikat, setidaknya beberapa di antaranya, yang secara tegas menyatakan bahwa Malaysia melanggar hukum internasional dan tidak menghormati hak-hak bangsa-bangsa," katanya.
"Ini benar-benar tidak masuk akal karena, sejauh yang kami ketahui, kebijakan ini telah diadopsi oleh Malaysia selama beberapa dekade, yaitu kami menentang kehadiran warga negara Israel mana pun," lanjut dia, seperti dikutip dari The Star, Kamis (23/7/2026).
"Bukan orang Yahudi, tetapi warga negara Israel di sini karena mereka adalah bagian dari dan terlibat dalam pembunuhan, kejahatan, dan penindasan terus-menerus, penjajahan Palestina dan Gaza," imbuh dia.
Pada hari Selasa, beberapa anggota parlemen AS meminta pemerintah Presiden Donald Trump untuk meninjau hubungan keamanan dan ekonominya dengan Malaysia menyusul pernyataan Anwar yang ingin mendeportasi seluruh warga negara Israel dengan kewarganegaraan ganda jika ditemukan berada di Malaysia.
Dalam surat bersama, anggota Kongres AS; Greg Landsman, Josh Gottheimer, Jimmy Panetta, Dan Goldman, Debbie Wasserman Schultz, Jared Moskowitz, Brad Sherman, dan Jake Auchincloss mendesak Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk mengklarifikasi langkah-langkah yang harus diambil sebagai tanggapan atas pernyataan Anwar.
Para anggota Kongres AS mengatakan Malaysia menerima bantuan keamanan, termasuk program Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional (Imet), yang mendanai pelatihan militer profesional AS untuk personel militer Malaysia.
Ancaman penangguhan bantuan oleh para politisi Amerika itu terjadi setelah Anwar, pada 15 Juli, mengatakan Malaysia akan mendeportasi warga negara Israel yang terbukti memiliki kewarganegaraan ganda dan tinggal di negara tersebut.
Ini sebagai tanggapan atas seruan pemerintah Johor agar pihak berwenang menyelidiki Network School, komunitas teknologi di Forest City, menyusul klaim bahwa warga negara Israel dengan kewarganegaraan ganda tinggal di daerah tersebut.
Anwar mengatakan para anggota parlemen AS menggunakan kesempatan ini untuk mengancam pemerintah Malaysia dan dirinya.
"Ternyata mereka sama sekali tidak mengikuti perkembangan di mana banyak negara melarangnya (warga negara Israel memasuki sejumlah negara) dan bahwa Malaysia telah melarangnya selama beberapa dekade," kata Anwar.
"Pertama, mereka harus memahami bahwa ini adalah negara merdeka dan berdaulat, dan penentangan kami terhadap Israel disebabkan oleh tirani mereka, penjajahan mereka, dan pembunuhan harian mereka," ujarnya.
Anwar juga bertanya bagaimana para anggota parlemen AS dapat menyangkal fakta dan tidak mengatakan apa pun tentang pembunuhan anak-anak, warga negara, dan perempuan, penghancuran rumah, dan pendudukan suatu negara.
“Malaysia adalah negara merdeka dan kami bebas menyuarakan pendapat kami. Oleh karena itu, meskipun hal itu tidak menghentikan mereka untuk membuat ancaman, saya akan dengan tegas membela hak-hak warga Malaysia dan keputusan yang dibuat oleh rakyat Malaysia untuk tetap teguh melarang kehadiran warga negara Israel di Malaysia,” katanya.
Anwar mengatakan Malaysia akan terus bersuara meskipun beberapa negara telah bersikap selektif, sepenuhnya bungkam, dan diam terhadap kekejaman Israel.
“Malaysia adalah negara merdeka dan kami menjalankan hak-hak kami dan bangga mengatakan bahwa warga Malaysia menghormati martabat pria dan wanita dan menghargai semangat kemanusiaan," paparnya.
"Kami akan terus melanjutkan kebijakan ini dan kami tidak akan mengizinkan warga negara Israel untuk menginjakkan kaki di Malaysia,” imbuh dia.
Ditanya tentang pernyataan para anggota parlemen AS bahwa tindakan juga harus diambil terhadap Malaysia karena mempertahankan hubungan dengan Hamas, Anwar mengatakan dia telah membahas hal ini selama pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump.
“Selama pertemuan kami, saya mengatakan kepadanya bahwa saya memang bertemu dengan pemimpin Hamas untuk menyampaikan simpati kepada keluarga mereka, yang baru saja menderita akibat pengeboman dan pembunuhan istri, anak-anak, dan keluarga mereka," paparnya, mengacu pada invasi brutal Israel.
“Jadi, ini bukan hal yang aneh,” imbuh Anwar.
Anwar mengatakan bahwa kejadian tersebut seharusnya tidak memengaruhi hubungan Malaysia dengan AS karena Malaysia masih menyambut warga negara AS serta bisnis dan investasi perdagangan.
“Kami menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat seperti halnya dengan negara-negara lain, tetapi tidak mungkin bagi kami untuk menjadi begitu lemah hati sehingga kami tidak berani mengutuk tindakan berlebihan dalam hal pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah, termasuk mereka yang berada di Palestina dan Gaza,” tegasnya.
Pernyataan Anwar itu sebagai respons atas ancaman para anggota parlemen AS bahwa Washington akan menangguhkan bantuan untuk Malaysia jika Anwar tidak mengubah kebijakan anti-Israel.
Baca Juga: AS Ancam Malaysia setelah PM Anwar Ibrahim Ingin Usir Seluruh Warga Israel
Menurut Anwar, Malaysia tidak melanggar hukum internasional apa pun hanya karena memiliki kebijakan seperti itu.
"Saya ingin menanggapi para anggota parlemen Amerika Serikat, setidaknya beberapa di antaranya, yang secara tegas menyatakan bahwa Malaysia melanggar hukum internasional dan tidak menghormati hak-hak bangsa-bangsa," katanya.
"Ini benar-benar tidak masuk akal karena, sejauh yang kami ketahui, kebijakan ini telah diadopsi oleh Malaysia selama beberapa dekade, yaitu kami menentang kehadiran warga negara Israel mana pun," lanjut dia, seperti dikutip dari The Star, Kamis (23/7/2026).
"Bukan orang Yahudi, tetapi warga negara Israel di sini karena mereka adalah bagian dari dan terlibat dalam pembunuhan, kejahatan, dan penindasan terus-menerus, penjajahan Palestina dan Gaza," imbuh dia.
Pada hari Selasa, beberapa anggota parlemen AS meminta pemerintah Presiden Donald Trump untuk meninjau hubungan keamanan dan ekonominya dengan Malaysia menyusul pernyataan Anwar yang ingin mendeportasi seluruh warga negara Israel dengan kewarganegaraan ganda jika ditemukan berada di Malaysia.
Dalam surat bersama, anggota Kongres AS; Greg Landsman, Josh Gottheimer, Jimmy Panetta, Dan Goldman, Debbie Wasserman Schultz, Jared Moskowitz, Brad Sherman, dan Jake Auchincloss mendesak Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk mengklarifikasi langkah-langkah yang harus diambil sebagai tanggapan atas pernyataan Anwar.
Para anggota Kongres AS mengatakan Malaysia menerima bantuan keamanan, termasuk program Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional (Imet), yang mendanai pelatihan militer profesional AS untuk personel militer Malaysia.
Ancaman penangguhan bantuan oleh para politisi Amerika itu terjadi setelah Anwar, pada 15 Juli, mengatakan Malaysia akan mendeportasi warga negara Israel yang terbukti memiliki kewarganegaraan ganda dan tinggal di negara tersebut.
Ini sebagai tanggapan atas seruan pemerintah Johor agar pihak berwenang menyelidiki Network School, komunitas teknologi di Forest City, menyusul klaim bahwa warga negara Israel dengan kewarganegaraan ganda tinggal di daerah tersebut.
Anwar mengatakan para anggota parlemen AS menggunakan kesempatan ini untuk mengancam pemerintah Malaysia dan dirinya.
"Ternyata mereka sama sekali tidak mengikuti perkembangan di mana banyak negara melarangnya (warga negara Israel memasuki sejumlah negara) dan bahwa Malaysia telah melarangnya selama beberapa dekade," kata Anwar.
"Pertama, mereka harus memahami bahwa ini adalah negara merdeka dan berdaulat, dan penentangan kami terhadap Israel disebabkan oleh tirani mereka, penjajahan mereka, dan pembunuhan harian mereka," ujarnya.
Anwar juga bertanya bagaimana para anggota parlemen AS dapat menyangkal fakta dan tidak mengatakan apa pun tentang pembunuhan anak-anak, warga negara, dan perempuan, penghancuran rumah, dan pendudukan suatu negara.
“Malaysia adalah negara merdeka dan kami bebas menyuarakan pendapat kami. Oleh karena itu, meskipun hal itu tidak menghentikan mereka untuk membuat ancaman, saya akan dengan tegas membela hak-hak warga Malaysia dan keputusan yang dibuat oleh rakyat Malaysia untuk tetap teguh melarang kehadiran warga negara Israel di Malaysia,” katanya.
Anwar mengatakan Malaysia akan terus bersuara meskipun beberapa negara telah bersikap selektif, sepenuhnya bungkam, dan diam terhadap kekejaman Israel.
“Malaysia adalah negara merdeka dan kami menjalankan hak-hak kami dan bangga mengatakan bahwa warga Malaysia menghormati martabat pria dan wanita dan menghargai semangat kemanusiaan," paparnya.
"Kami akan terus melanjutkan kebijakan ini dan kami tidak akan mengizinkan warga negara Israel untuk menginjakkan kaki di Malaysia,” imbuh dia.
Ditanya tentang pernyataan para anggota parlemen AS bahwa tindakan juga harus diambil terhadap Malaysia karena mempertahankan hubungan dengan Hamas, Anwar mengatakan dia telah membahas hal ini selama pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump.
“Selama pertemuan kami, saya mengatakan kepadanya bahwa saya memang bertemu dengan pemimpin Hamas untuk menyampaikan simpati kepada keluarga mereka, yang baru saja menderita akibat pengeboman dan pembunuhan istri, anak-anak, dan keluarga mereka," paparnya, mengacu pada invasi brutal Israel.
“Jadi, ini bukan hal yang aneh,” imbuh Anwar.
Anwar mengatakan bahwa kejadian tersebut seharusnya tidak memengaruhi hubungan Malaysia dengan AS karena Malaysia masih menyambut warga negara AS serta bisnis dan investasi perdagangan.
“Kami menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat seperti halnya dengan negara-negara lain, tetapi tidak mungkin bagi kami untuk menjadi begitu lemah hati sehingga kami tidak berani mengutuk tindakan berlebihan dalam hal pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah, termasuk mereka yang berada di Palestina dan Gaza,” tegasnya.
(mas)
Lihat Juga :