Mengapa Yordania Jadi Bulan-bulanan Serangan Iran, Termasuk Tewaskan 2 Tentara AS?
Minggu, 19 Juli 2026 - 13:10 WIB
loading...
Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Azraq, Yordania, tempat 2 tentara AS tewas akibat serangan rudal dan drone Iran pada hari Jumat. Foto/Instagram/northernprovisions
A
A
A
AMMAN - Para pejabat Amerika Serikat (AS) mengatakan empat serangan Iran dalam lima hari terakhir telah menargetkan pasukan Amerika di Yordania. Ini termasuk satu serangan pada hari Jumat yang menewaskan dua tentara Amerika dan menyebabkan satu personel lainnya hilang.
Secara keseluruhan, serangan-serangan tersebut telah melukai puluhan anggota pasukan AS dan merusak sejumlah helikopter.
Baca Juga: Pentagon: Serangan Rudal Iran Tewaskan 2 Tentara AS, 1 Lainnya Hilang
Serangkaian serangan dan kerugian yang ditimbulkannya merupakan pertanda bahwa pasukan Iran tidak hanya masih memiliki persediaan rudal yang cukup, tetapi juga telah menjadi lebih mahir dalam menghindari sistem pertahanan udara AS. Demikian diungkap para pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah operasional, sebagaimana dikutip The New York Times, Minggu (19/7/2026).
Yordania, yang menjadi tuan rumah pangkalan udara utama AS, semakin penting menjelang dan pada awal perang, karena Pentagon memindahkan sejumlah pasukan dari Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar ke lokasi yang relatif lebih aman di Yordania dan Israel.
Peran negara Arab itu dalam operasi AS semakin meningkat karena sekutu Amerika lainnya di kawasan tersebut telah membatasi kemampuan Washington untuk menempatkan pasukan dan menerbangkan pesawat di atas wilayah mereka, kata para pejabat Amerika.
Pada awal Juli, Iran memperluas serangannya di kawasan itu, termasuk Yordania untuk pertama kalinya sejak Teheran dan Washington menandatangani perjanjian gencatan senjata pada bulan Juni.
Para pejabat AS memberikan uraian tentang lima hari terakhir serangan Iran terhadap Yordania, yang belum dibahas secara rinci oleh Pentagon secara publik.
Serangan pertama yang menghantam pasukan AS di Yordania terjadi di fasilitas perumahan di Pangkalan Udara King Faisal, melukai hingga lima anggota militer AS.
Serangan kedua menghantam pangkalan di Yordania timur tempat helikopter Blackhawk AS beroperasi, merusak sejumlah besar helikopter tersebut.
Kemudian rudal Iran menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Azraq, Yordania, yang merupakan pangkalan yang sama tempat pasukan AS tewas pada hari Jumat, kata para pejabat Amerika.
Serangan Iran sebelumnya melukai sekitar 20 tentara AS yang bergegas berlindung di bunker. Tidak ada yang tewas dalam serangan itu. Tetapi pada hari Jumat, ketika Iran menyerang pangkalan itu lagi, dua tentara AS tewas dan empat anggota militer lainnya terluka. Para personel lainnya diperiksa karena luka ringan dan kembali bertugas.
Pentagon menolak berkomentar. Pada hari Jumat, Angkatan Darat Iran mengatakan telah meluncurkan serangan drone yang menargetkan tangki bahan bakar di pangkalan AS di Azraq.
Korps Garda Revolusi Islam juga mengatakan telah menggunakan rudal dan drone untuk menargetkan tempat perlindungan pesawat di pangkalan tersebut, menurut Fars News Agency, sebuah media yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran.
"Lokasi Yordania memungkinkan Amerika Serikat untuk melakukan operasi udara yang lebih efisien di Suriah, Irak, dan wilayah yang lebih luas,” kata David Deptula, seorang pensiunan letnan jenderal Angkatan Udara yang merupakan arsitek utama perang udara Teluk Persia tahun 1991.
“Oleh karena itu, serangan hari Jumat bukan hanya serangan terhadap pangkalan,” katanya dalam sebuah email pada hari Sabtu. “Itu adalah serangan terhadap koalisi regional AS dan upaya untuk membuat biaya politik dari menampung pasukan Amerika lebih besar daripada manfaat keamanannya.”
Militer AS mengumumkan pada Sabtu malam bahwa mereka telah melancarkan serangan balasan untuk mengurangi ancaman Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz. "Dan untuk dengan cepat menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota militer Amerika di Yordania," kata Komando Pusat AS atau CENTCOM.
Bahkan sebelum serangan terbaru AS tersebut, Presiden Donald Trump memberi sinyal bahwa dia berencana untuk meningkatkan serangan terhadap Iran dalam minggu depan dan bermaksud untuk menyerang lebih banyak infrastruktur Iran, termasuk jembatan, pembangkit listrik, dan sistem distribusi.
Secara keseluruhan, serangan-serangan tersebut telah melukai puluhan anggota pasukan AS dan merusak sejumlah helikopter.
Baca Juga: Pentagon: Serangan Rudal Iran Tewaskan 2 Tentara AS, 1 Lainnya Hilang
Serangkaian serangan dan kerugian yang ditimbulkannya merupakan pertanda bahwa pasukan Iran tidak hanya masih memiliki persediaan rudal yang cukup, tetapi juga telah menjadi lebih mahir dalam menghindari sistem pertahanan udara AS. Demikian diungkap para pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah operasional, sebagaimana dikutip The New York Times, Minggu (19/7/2026).
Yordania, yang menjadi tuan rumah pangkalan udara utama AS, semakin penting menjelang dan pada awal perang, karena Pentagon memindahkan sejumlah pasukan dari Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar ke lokasi yang relatif lebih aman di Yordania dan Israel.
Peran negara Arab itu dalam operasi AS semakin meningkat karena sekutu Amerika lainnya di kawasan tersebut telah membatasi kemampuan Washington untuk menempatkan pasukan dan menerbangkan pesawat di atas wilayah mereka, kata para pejabat Amerika.
Pada awal Juli, Iran memperluas serangannya di kawasan itu, termasuk Yordania untuk pertama kalinya sejak Teheran dan Washington menandatangani perjanjian gencatan senjata pada bulan Juni.
Para pejabat AS memberikan uraian tentang lima hari terakhir serangan Iran terhadap Yordania, yang belum dibahas secara rinci oleh Pentagon secara publik.
Serangan pertama yang menghantam pasukan AS di Yordania terjadi di fasilitas perumahan di Pangkalan Udara King Faisal, melukai hingga lima anggota militer AS.
Serangan kedua menghantam pangkalan di Yordania timur tempat helikopter Blackhawk AS beroperasi, merusak sejumlah besar helikopter tersebut.
Kemudian rudal Iran menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Azraq, Yordania, yang merupakan pangkalan yang sama tempat pasukan AS tewas pada hari Jumat, kata para pejabat Amerika.
Serangan Iran sebelumnya melukai sekitar 20 tentara AS yang bergegas berlindung di bunker. Tidak ada yang tewas dalam serangan itu. Tetapi pada hari Jumat, ketika Iran menyerang pangkalan itu lagi, dua tentara AS tewas dan empat anggota militer lainnya terluka. Para personel lainnya diperiksa karena luka ringan dan kembali bertugas.
Pentagon menolak berkomentar. Pada hari Jumat, Angkatan Darat Iran mengatakan telah meluncurkan serangan drone yang menargetkan tangki bahan bakar di pangkalan AS di Azraq.
Korps Garda Revolusi Islam juga mengatakan telah menggunakan rudal dan drone untuk menargetkan tempat perlindungan pesawat di pangkalan tersebut, menurut Fars News Agency, sebuah media yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran.
"Lokasi Yordania memungkinkan Amerika Serikat untuk melakukan operasi udara yang lebih efisien di Suriah, Irak, dan wilayah yang lebih luas,” kata David Deptula, seorang pensiunan letnan jenderal Angkatan Udara yang merupakan arsitek utama perang udara Teluk Persia tahun 1991.
“Oleh karena itu, serangan hari Jumat bukan hanya serangan terhadap pangkalan,” katanya dalam sebuah email pada hari Sabtu. “Itu adalah serangan terhadap koalisi regional AS dan upaya untuk membuat biaya politik dari menampung pasukan Amerika lebih besar daripada manfaat keamanannya.”
Militer AS mengumumkan pada Sabtu malam bahwa mereka telah melancarkan serangan balasan untuk mengurangi ancaman Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz. "Dan untuk dengan cepat menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota militer Amerika di Yordania," kata Komando Pusat AS atau CENTCOM.
Bahkan sebelum serangan terbaru AS tersebut, Presiden Donald Trump memberi sinyal bahwa dia berencana untuk meningkatkan serangan terhadap Iran dalam minggu depan dan bermaksud untuk menyerang lebih banyak infrastruktur Iran, termasuk jembatan, pembangkit listrik, dan sistem distribusi.
(mas)
Lihat Juga :