2 Tentaranya Tewas, AS Luncurkan Serangan Baru untuk Menghukum Iran dengan Cepat
Minggu, 19 Juli 2026 - 07:48 WIB
loading...
Amerika Serikat luncurkan serangan baru terhadap Iran setelah 2 tentara Amerika tewas dalam serangan rudal Iran di Yordania. Foto/US Department of War
A
A
A
TEHERAN - Militer Amerika Serikat (AS) mulai melancarkan serangan udara baru terhadap Iran pada Minggu (19/7/2026) dini hari. Serangan ini diklaim untuk "menghukum dengan cepat" Iran karena telah membunuh dua anggota militer Amerika dengan serangan rudal dan drone di Yordania.
“Serangan-serangan ini dirancang untuk semakin melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz dan dengan cepat menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota militer Amerika di Yordania," tulis Komando Pusat AS (CENTCOM) di X.
Baca Juga: Pentagon: Serangan Rudal Iran Tewaskan 2 Tentara AS, 1 Lainnya Hilang
CENTCOM tidak merinci target-target serangan terbaru ini. CENTCOM sebelumnya mengumumkan pada hari Sabtu bahwa dua anggota militer AS tewas dan satu lainnya hilang dalam serangan rudal dan drone kamikaze Iran di Yordania. Ini menandai korban jiwa militer Amerika pertama akibat serangan Iran sejak Maret.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kematian dua anggota militer AS dalam serangan Iran di Yordania pada hari Jumat adalah hal yang sangat menyedihkan.
“Kami sangat menyesalkan hal itu terjadi. Itu adalah pengabdian kepada negara kita,” kata Trump kepada NewsNation. Trump juga mengatakan bahwa AS tidak akan pernah mengizinkan Iran untuk memperoleh senjata nuklir.
Menteri Perang AS Pete Hegseth juga telah bereaksi terhadap kematian dua anggota militer AS di Yordania. “Pengorbanan mereka hanya memperkuat tekad kita,” kata Hegseth dalam sebuah unggahan di X.
Menurut data resmi terbaru yang diterbitkan oleh Sistem Analisis Korban Pertahanan (DCAS) Pentagon, total tentara AS yang tewas dalam perang melawan Iran sejak akhir Februari mencapai 16 personel. Lebih dari 430 personel lainnya terluka.
Angka-angka berbasis data yang diperbarui ini menyoroti kerugian yang terus-menerus dan besar yang diderita pasukan AS yang beroperasi di seluruh Timur Tengah saat konflik multi-domain memasuki bulan kelima.
Sebelum data terbaru diumumkan, penghitungan resmi Pentagon berada di angka 14 kematian, termasuk 13 anggota militer yang tewas selama minggu-minggu awal perang dan seorang pilot Angkatan Laut AS yang tewas dalam kecelakaan helikopter di Laut Arab.
Menurut pernyataan yang dirilis oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) pada hari Sabtu, dua korban jiwa di pihak militer Amerika terjadi pada hari Jumat ketika pasukan Amerika dan pasukan mitra mempertahankan diri dari serangan rudal balistik dan drone Iran.
"Selain itu, empat tentara AS lainnya dievakuasi secara medis ke rumah sakit Yordania, tetapi kemudian dipulangkan," kata CENTCOM.
Sementara itu, media Iran telah menerbitkan rekaman yang menunjukkan kebakaran besar di Pangkalan Udara Al-Muwaqqar yang dioperasikan AS di Yordania setelah serangan rudal dan drone Iran.
Sebelumnya pada hari Sabtu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa pasukannya telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap tempat perlindungan jet tempur dan landasan parkir besar di pangkalan AS di Al-Azraq, Yordania, yang menghancurkan setidaknya dua jet tempur Amerika dan tiga pesawat lainnya, dan menyebabkan kerusakan signifikan pada pesawat lainnya.
Iran telah menyerang fasilitas militer AS di seluruh Timur Tengah, termasuk instalasi di Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, Irak, dan Suriah, selama seminggu terakhir sebagai balasan atas serangan AS yang kembali terjadi di wilayah Iran setelah runtuhnya gencatan senjata awal bulan ini.
Pada hari Jumat, IRGC mengeklaim telah menargetkan peluncur rudal HIMARS di Kuwait, menyebabkan korban dan kerusakan yang signifikan, dan juga diduga menewaskan banyak personel pasukan khusus Amerika yang ditempatkan di negara tersebut.
Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada hari Sabtu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa tanda tangan Presiden AS Donald Trump pada Memorandum Kesepahaman Islamabad 14 poin, yang ditandatangani Washington dan Teheran pada 17 Juni sama sekali tidak berharga dan tidak memiliki kredibilitas.
"Serangan Amerika yang diperbarui di wilayah Iran merupakan bukti tak terbantahkan lainnya tentang ketidakjujuran, irasionalitas, ketidakandalan, dan sifat jahat AS," katanya.
Mojtaba juga memperingatkan akan adanya serangan balasan Iran di masa mendatang.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi sebelumnya mengumumkan bahwa Teheran telah menangguhkan komitmennya berdasarkan perjanjian gencatan senjata 60 hari dengan Washington.
“Serangan-serangan ini dirancang untuk semakin melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz dan dengan cepat menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota militer Amerika di Yordania," tulis Komando Pusat AS (CENTCOM) di X.
Baca Juga: Pentagon: Serangan Rudal Iran Tewaskan 2 Tentara AS, 1 Lainnya Hilang
CENTCOM tidak merinci target-target serangan terbaru ini. CENTCOM sebelumnya mengumumkan pada hari Sabtu bahwa dua anggota militer AS tewas dan satu lainnya hilang dalam serangan rudal dan drone kamikaze Iran di Yordania. Ini menandai korban jiwa militer Amerika pertama akibat serangan Iran sejak Maret.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kematian dua anggota militer AS dalam serangan Iran di Yordania pada hari Jumat adalah hal yang sangat menyedihkan.
“Kami sangat menyesalkan hal itu terjadi. Itu adalah pengabdian kepada negara kita,” kata Trump kepada NewsNation. Trump juga mengatakan bahwa AS tidak akan pernah mengizinkan Iran untuk memperoleh senjata nuklir.
Menteri Perang AS Pete Hegseth juga telah bereaksi terhadap kematian dua anggota militer AS di Yordania. “Pengorbanan mereka hanya memperkuat tekad kita,” kata Hegseth dalam sebuah unggahan di X.
Menurut data resmi terbaru yang diterbitkan oleh Sistem Analisis Korban Pertahanan (DCAS) Pentagon, total tentara AS yang tewas dalam perang melawan Iran sejak akhir Februari mencapai 16 personel. Lebih dari 430 personel lainnya terluka.
Angka-angka berbasis data yang diperbarui ini menyoroti kerugian yang terus-menerus dan besar yang diderita pasukan AS yang beroperasi di seluruh Timur Tengah saat konflik multi-domain memasuki bulan kelima.
Sebelum data terbaru diumumkan, penghitungan resmi Pentagon berada di angka 14 kematian, termasuk 13 anggota militer yang tewas selama minggu-minggu awal perang dan seorang pilot Angkatan Laut AS yang tewas dalam kecelakaan helikopter di Laut Arab.
Menurut pernyataan yang dirilis oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) pada hari Sabtu, dua korban jiwa di pihak militer Amerika terjadi pada hari Jumat ketika pasukan Amerika dan pasukan mitra mempertahankan diri dari serangan rudal balistik dan drone Iran.
"Selain itu, empat tentara AS lainnya dievakuasi secara medis ke rumah sakit Yordania, tetapi kemudian dipulangkan," kata CENTCOM.
Sementara itu, media Iran telah menerbitkan rekaman yang menunjukkan kebakaran besar di Pangkalan Udara Al-Muwaqqar yang dioperasikan AS di Yordania setelah serangan rudal dan drone Iran.
Sebelumnya pada hari Sabtu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa pasukannya telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap tempat perlindungan jet tempur dan landasan parkir besar di pangkalan AS di Al-Azraq, Yordania, yang menghancurkan setidaknya dua jet tempur Amerika dan tiga pesawat lainnya, dan menyebabkan kerusakan signifikan pada pesawat lainnya.
Iran telah menyerang fasilitas militer AS di seluruh Timur Tengah, termasuk instalasi di Kuwait, Bahrain, Qatar, Oman, Irak, dan Suriah, selama seminggu terakhir sebagai balasan atas serangan AS yang kembali terjadi di wilayah Iran setelah runtuhnya gencatan senjata awal bulan ini.
Pada hari Jumat, IRGC mengeklaim telah menargetkan peluncur rudal HIMARS di Kuwait, menyebabkan korban dan kerusakan yang signifikan, dan juga diduga menewaskan banyak personel pasukan khusus Amerika yang ditempatkan di negara tersebut.
Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada hari Sabtu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan bahwa tanda tangan Presiden AS Donald Trump pada Memorandum Kesepahaman Islamabad 14 poin, yang ditandatangani Washington dan Teheran pada 17 Juni sama sekali tidak berharga dan tidak memiliki kredibilitas.
"Serangan Amerika yang diperbarui di wilayah Iran merupakan bukti tak terbantahkan lainnya tentang ketidakjujuran, irasionalitas, ketidakandalan, dan sifat jahat AS," katanya.
Mojtaba juga memperingatkan akan adanya serangan balasan Iran di masa mendatang.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi sebelumnya mengumumkan bahwa Teheran telah menangguhkan komitmennya berdasarkan perjanjian gencatan senjata 60 hari dengan Washington.
(mas)
Lihat Juga :