Kronologi Venezuela Simpan 31 Ton Emas di Bank of England tapi Tak Bisa Diambil
Kamis, 16 Juli 2026 - 10:59 WIB
loading...
A
A
A
Pada Januari 2019, tokoh oposisi Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Venezuela.
Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara Barat mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela. Sebaliknya, Rusia, China, Iran, Kuba, dan sejumlah negara lain tetap mengakui Nicolas Maduro sebagai presiden sah.
Persoalan pun berubah bukan lagi mengenai emas, melainkan siapa yang berhak mewakili negara Venezuela.
Bank of England menghadapi dua kubu yang sama-sama mengeklaim mewakili Bank Sentral Venezuela.
Karena Inggris mengakui Guaido, Bank of England menolak menyerahkan emas kepada pejabat yang ditunjuk Maduro, seperti dikutip dari The Guardian.
Kasus kemudian masuk ke pengadilan Inggris. Selama bertahun-tahun kedua kubu saling menggugat.
Pengadilan harus menentukan siapa pengurus sah Bank Sentral Venezuela, siapa yang memiliki kewenangan mengambil emas, dan apakah pengakuan diplomatik Inggris otomatis menentukan kepemilikan aset.
Perkara naik hingga Mahkamah Agung Inggris. Meski berbagai putusan telah dikeluarkan, sengketa mengenai penguasaan aset terus berlangsung karena menyangkut hubungan diplomatik yang sangat kompleks.
Pada 2020, Bank Sentral Venezuela meminta sebagian emas dijual melalui Program Pembangunan PBB (UNDP). Dana hasil penjualan diklaim akan digunakan membeli obat-obatan, alat kesehatan, dan kebutuhan penanganan pandemi Covid-19.
Namun permintaan tersebut juga tidak berhasil karena sengketa hukum belum selesai.
Kasus ini kemudian memicu kritik dari berbagai organisasi internasional yang menilai sengketa aset tidak seharusnya menghambat bantuan kemanusiaan.
Bank of England menyatakan bahwa pihaknya harus mengikuti ketentuan hukum Inggris mengenai siapa otoritas yang sah mewakili Venezuela.
Dengan kata lain, persoalan bukan terletak pada kepemilikan emas, melainkan kepada siapa emas tersebut secara hukum boleh diserahkan.
Drama itu belum berakhir. Setelah gempa kembar mengguncang Venezuela pada Juni 2026, pemerintah sementara Venezuela yang dipimpin Delcy Rodriguez mengirim surat kepada Raja Charles III.
Isi permohonannya sederhana: lepaskan sekitar 31 ton emas Venezuela agar dapat digunakan membiayai rekonstruksi pascabencana.
Menurut Rodriguez, emas tersebut adalah milik rakyat Venezuela sehingga seharusnya dipakai membantu korban gempa, membangun kembali sekolah, rumah sakit, serta memulihkan ekonomi nasional.
Namun, apakah Raja Charles bisa memerintahkan pengembalian emas Venezuela? Secara konstitusional, jawabannya hampir pasti tidak.
Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara Barat mengakui Guaido sebagai pemimpin sah Venezuela. Sebaliknya, Rusia, China, Iran, Kuba, dan sejumlah negara lain tetap mengakui Nicolas Maduro sebagai presiden sah.
Persoalan pun berubah bukan lagi mengenai emas, melainkan siapa yang berhak mewakili negara Venezuela.
Bank of England menghadapi dua kubu yang sama-sama mengeklaim mewakili Bank Sentral Venezuela.
Karena Inggris mengakui Guaido, Bank of England menolak menyerahkan emas kepada pejabat yang ditunjuk Maduro, seperti dikutip dari The Guardian.
Pertarungan di Pengadilan Inggris
Kasus kemudian masuk ke pengadilan Inggris. Selama bertahun-tahun kedua kubu saling menggugat.
Pengadilan harus menentukan siapa pengurus sah Bank Sentral Venezuela, siapa yang memiliki kewenangan mengambil emas, dan apakah pengakuan diplomatik Inggris otomatis menentukan kepemilikan aset.
Perkara naik hingga Mahkamah Agung Inggris. Meski berbagai putusan telah dikeluarkan, sengketa mengenai penguasaan aset terus berlangsung karena menyangkut hubungan diplomatik yang sangat kompleks.
Pada 2020, Bank Sentral Venezuela meminta sebagian emas dijual melalui Program Pembangunan PBB (UNDP). Dana hasil penjualan diklaim akan digunakan membeli obat-obatan, alat kesehatan, dan kebutuhan penanganan pandemi Covid-19.
Namun permintaan tersebut juga tidak berhasil karena sengketa hukum belum selesai.
Kasus ini kemudian memicu kritik dari berbagai organisasi internasional yang menilai sengketa aset tidak seharusnya menghambat bantuan kemanusiaan.
Bank of England menyatakan bahwa pihaknya harus mengikuti ketentuan hukum Inggris mengenai siapa otoritas yang sah mewakili Venezuela.
Dengan kata lain, persoalan bukan terletak pada kepemilikan emas, melainkan kepada siapa emas tersebut secara hukum boleh diserahkan.
Venezuela Memohon kepada Raja Charles III
Drama itu belum berakhir. Setelah gempa kembar mengguncang Venezuela pada Juni 2026, pemerintah sementara Venezuela yang dipimpin Delcy Rodriguez mengirim surat kepada Raja Charles III.
Isi permohonannya sederhana: lepaskan sekitar 31 ton emas Venezuela agar dapat digunakan membiayai rekonstruksi pascabencana.
Menurut Rodriguez, emas tersebut adalah milik rakyat Venezuela sehingga seharusnya dipakai membantu korban gempa, membangun kembali sekolah, rumah sakit, serta memulihkan ekonomi nasional.
Namun, apakah Raja Charles bisa memerintahkan pengembalian emas Venezuela? Secara konstitusional, jawabannya hampir pasti tidak.
Lihat Juga :