Islam Melarang Pembalseman, Bagaimana Iran Mangawetkan Jenazah Khamenei sejak Februari?

Jum'at, 03 Juli 2026 - 07:49 WIB
loading...
Islam Melarang Pembalseman,...
Jenazah mantan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akan dimakamkan pada 9 Juli mendatang. Foto/The New York Times
A A A
TEHERAN - Jenazah Ayatollah Ali Khamenei, mantan pemimpin tertinggi Iran, akan dimakamkan pada 9 Juli mendatang. Dia meninggal pada hari pertama agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Menjelang pemakaman jenazahnya, Iran sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk menghindari terulangnya bencana kerumunan yang mematikan yang menodai pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Jenderal Qasem Soleimani sebelumnya.

Baca Juga: Jenazah Ayatollah Khamenei Akan Dimakamkan pada 9 Juli

Khamenei akan dimakamkan pada 9 Juli setelah lima hari upacara di seluruh Iran dan Irak. Jenazah akan disemayamkan selama tiga hari di kompleks doa Mosalla di Teheran sebelum prosesi pemakaman melewati ibu kota.

Menurut laporan Iran International, Jumat (3/7/2026), jenazah Khamenei kemudian akan dibawa ke kota-kota suci Syiah; Najaf dan Karbala di Irak, sebelum kembali ke Iran untuk upacara di Qom dan pemakaman di Mashhad, tempat kelahiran Khamenei—di makam Imam Reza, Imam Kedelapan Islam Syiah.

Namun, pihak berwenang belum mengumumkan siapa yang akan memimpin salat jenazah, yang secara tradisional merupakan salah satu momen paling simbolis dalam upacara tersebut.

Jika Mojtaba Khamenei—putra Khamenei yang juga Pemimpin Tertinggi Iran—yang belum muncul di depan umum sejak kematian ayahnya, hadir, beberapa pengamat percaya bahwa dia dapat memimpin salat itu sendiri, meskipun para pejabat belum memberikan indikasi bahwa hal itu akan terjadi.

Rencana Keamanan


Para pejabat Iran mengatakan pengendalian massa dan keamanan akan menjadi prioritas utama mereka selama pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.

Gholamhossein Mozaffari, gubernur Provinsi Razavi Khorasan, tempat Khamenei akan dimakamkan, mengatakan helikopter dapat dikerahkan selama sebagian prosesi untuk membantu mengelola kerumunan dan memastikan pergerakan peti mati yang aman. Masih belum jelas apakah tindakan tersebut akan terbatas pada Mashhad atau diperluas ke seluruh upacara di beberapa kota.

Melindungi para pemimpin senior, mengelola jutaan pelayat, dan mengangkut peti mati melintasi beberapa kota di dua negara diperkirakan akan membutuhkan salah satu operasi keamanan terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran.

Awal pekan ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengunjungi Baghdad untuk berkoordinasi dengan pejabat Irak mengenai pengaturan untuk prosesi lintas perbatasan.

Bayang-bayang Pemakaman Khomeini


Perencanaan Iran yang ekstensif sebagian besar dibentuk oleh pemakaman pendiri Republik Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kacau setelah kematiannya pada 3 Juni 1989.

Jenazah Khomeini pertama kali disemayamkan di Mosalla, Teheran, di mana salat jenazah dipimpin oleh Grand Ayatollah Mohammad Reza Golpayegani. Namun, keesokan harinya, ratusan ribu pelayat menyerbu peti mati saat diangkut ke tempat pemakaman.

Pasukan keamanan kewalahan ketika orang-orang mencoba menyentuh peti mati, merusaknya dan merobek kain kafan. Pihak berwenang akhirnya mengevakuasi jenazah dengan helikopter, mengembalikannya ke Jamaran untuk dibungkus kembali, dan menunda pemakaman hingga keesokan harinya.

Media pemerintah Iran mengeklaim bahwa sekitar 10 juta orang menghadiri pemakaman tersebut. Puluhan orang terluka dalam insiden tersebut dan beberapa diyakini telah meninggal, tetapi tidak ada angka korban resmi yang pernah dirilis.

Khomeini awalnya dimakamkan di kuburan sederhana dekat pemakaman Behesht-e Zahra di Teheran, yang kemudian diubah menjadi kompleks mausoleum yang luas.

Tragedi Desak-desakan saat Pemakaman Soleimani


Pemakaman Jenderal Qasem Soleimani, yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS di dekat bandara Baghdad pada 3 Januari 2020, menjadi pemakaman kenegaraan terbesar di Iran sejak pemakaman Khomeini.

Setelah prosesi melewati beberapa kota di Irak dan Iran, jenazah Soleimani tiba di kota kelahirannya di Kerman, di mana desak-desakan massa dan runtuhnya penghalang menewaskan sedikitnya 56 orang dan melukai lebih dari 200 orang. Pemakaman pun harus ditunda.

Tragedi ganda pada pemakaman Khomeini dan Soleimani terus membentuk perencanaan Iran untuk upacara kenegaraan besar.

Dengan menempatkan manajemen kerumunan, prosesi yang diatur dengan cermat, dan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya sebagai pusat persiapan, otoritas Iran tampaknya bertekad untuk memastikan pemakaman Khamenei dikenang bukan karena kekacauan, tetapi sebagai demonstrasi kemampuan negara untuk mengelola salah satu peristiwa paling signifikan dalam sejarah Republik Islam.

Bagaimana Iran Mengawetkan Jenazah Khamenei?


Sementara itu, penundaan pemakaman telah menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana jenazah Khamenei diawetkan.

Islam umumnya menyerukan penguburan segera dan melarang pembalseman kimia. Namun, kondisi perang dan kekhawatiran keamanan menunda pemakaman pemimpin tertinggi Republik Islam yang paling lama menjabat selama empat bulan.

"Mekanismenya hampir pasti adalah penyimpanan dingin berpendingin, bukan pembalseman, karena Islam melarang pembalseman kimia," kata pakar kontra-terorisme Dr Mohammed Omar kepada Fox News Digital.

"Hukum Syiah mengizinkan penundaan penguburan dan pengawetan dengan suhu dingin dalam kasus-kasus luar biasa, dan pengecualian ulama untuk Pemimpin Tertinggi mudah didapatkan," imbuh dia.

"Kamar mayat forensik Iran sudah menyimpan jenazah selama berbulan-bulan, jadi empat bulan dalam kondisi beku bukanlah hal yang aneh. Itulah yang tercakup dalam 'standar agama dan hukum'," kata Mohammed.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Peringatkan AS...
Iran Peringatkan AS dan Israel Jangan Serang Prosesi Pemakaman Khamenei!
5 Pemimpin Muslim yang...
5 Pemimpin Muslim yang Jenazahnya Diawetkan sebelum Dimakamkan, Ali Khamenei Paling Lama
Mojtaba Disebut Tak...
Mojtaba Disebut Tak Akan Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Ini Alasannya
Jerman Berani Menolak...
Jerman Berani Menolak Loyal pada AS: 'Sesama Anggota NATO Jangan Mendikte!'
PBB Perkirakan Pembersihan...
PBB Perkirakan Pembersihan Puing-puing Gaza Perlu Waktu Lebih dari 140 Tahun
Iran Tegaskan Inspektur...
Iran Tegaskan Inspektur IAEA Tak akan Diberi Akses Apa pun ke Lokasi Nuklir yang Dibom
Nekat Melenceng dari...
Nekat Melenceng dari Jalur Bakal Disikat! Iran Ultimatum Keras soal Selat Hormuz
Bawa Pikap Ayahnya,...
Bawa Pikap Ayahnya, Bocah 11 Tahun Tabrak Iringan Peziarah dan Tewaskan 8 Orang
Keajaiban Gempa Venezuela,...
Keajaiban Gempa Venezuela, Pria Ini Selamat Setelah Terkubur 8 Hari di Reruntuhan Gedung 9 Lantai
Rekomendasi
DPR Soroti Penggunaan...
DPR Soroti Penggunaan Helikopter KPU, Harap Bisa Dapat Sanksi Tegas
Muncul Siklon Tropis...
Muncul Siklon Tropis Maysak, BMKG: Waspada Gelombang Tinggi di Sejumlah Perairan
Swiss Unggul 1-0 atas...
Swiss Unggul 1-0 atas Aljazair di Babak Pertama Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Tuntut Kemerdekaan dari...
Tuntut Kemerdekaan dari China, Pria Tibet Tewas Bakar Diri di Luar Markas PBB
Iran Peringatkan AS...
Iran Peringatkan AS dan Israel Jangan Serang Prosesi Pemakaman Khamenei!
Jadi Anak Presiden dan...
Jadi Anak Presiden dan Jabat Panglima Militer, Jenderal Ini Seenaknya Menutup Media
5 Pemimpin Muslim yang...
5 Pemimpin Muslim yang Jenazahnya Diawetkan sebelum Dimakamkan, Ali Khamenei Paling Lama
Ketika Uang Negara Rp35.914...
Ketika Uang Negara Rp35.914 Triliun Lenyap Dikorupsi sejak 2003
Mojtaba Disebut Tak...
Mojtaba Disebut Tak Akan Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Ini Alasannya
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved