Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Senin, 29 Juni 2026 - 14:40 WIB
loading...
A
A
A
Mamedov melanjutkan: "Sebagian dari kampanye ini berfokus pada isu-isu minoritas—Kurdi, yang dituduhkan Netanyahu kepada Erdogan telah diperlakukan tidak adil, dan sekarang Armenia."
Mamedov lebih lanjut memperingatkan bahwa keputusan tersebut kemungkinan akan memperdalam keretakan hubungan antara Israel dan Turki, terutama karena Turki telah mengecam Israel atas perang di Gaza sejak 2023.
"Tentu saja itu adalah teguran yang disengaja yang dirancang untuk memicu ketegangan dengan Turki yang sekarang dianggap Israel sebagai 'ancaman' barunya," katanya kepada The New Arab.
"Turki akan merespons secara diplomatis, tetapi masih harus dilihat apakah Ankara akhirnya akan menghentikan aliran minyak Azerbaijan ke Israel melalui pelabuhan Ceyhan—yang tidak pernah berhenti bahkan pada puncak genosida. Ankara dan Baku adalah sekutu dekat, tetapi mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang Israel," imbuh dia.
Dia menambahkan: "Sejauh ini mereka berhasil mengatasi perbedaan ini, tetapi karena Israel semakin memperlakukan Turki sebagai musuh, hubungan tersebut, dalam aspek ini, mungkin akan tertekan."
Turki kemudian mengkritik langkah tersebut, menggambarkan pengakuan Israel atas genosida Armenia sebagai keputusan "politik" yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian dari dugaan tindakan mereka sendiri.
“Pemerintah Israel, yang secara sistematis menganiaya rakyat Palestina di depan mata seluruh dunia dan sedang diadili di Mahkamah Internasional atas tuduhan melakukan genosida terhadap rakyat Gaza, berupaya menutupi kejahatan mereka sendiri melalui keputusan politik yang telah mereka ambil terkait peristiwa tahun 1915,” kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan.
"Turki akan terus bekerja dengan tegas untuk mengakhiri kebijakan ekspansionis dan destabilisasi Israel di kawasan ini," paparnya.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menjadi kritikus vokal terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bahkan kadang-kadang membandingkannya dengan pejabat Nazi.
Kedua negara juga berselisih di Suriah, di mana Israel telah berupaya melemahkan pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa yang didukung oleh Turki.
Langkah rezim Zionis Israel ini juga dikecam sebagai ironis oleh para komentator di media sosial, yang mencatat bahwa perang brutal Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, dengan para pejabat Zionis menyerukan penghancuran lebih lanjut di wilayah tersebut.
Mamedov lebih lanjut memperingatkan bahwa keputusan tersebut kemungkinan akan memperdalam keretakan hubungan antara Israel dan Turki, terutama karena Turki telah mengecam Israel atas perang di Gaza sejak 2023.
"Tentu saja itu adalah teguran yang disengaja yang dirancang untuk memicu ketegangan dengan Turki yang sekarang dianggap Israel sebagai 'ancaman' barunya," katanya kepada The New Arab.
"Turki akan merespons secara diplomatis, tetapi masih harus dilihat apakah Ankara akhirnya akan menghentikan aliran minyak Azerbaijan ke Israel melalui pelabuhan Ceyhan—yang tidak pernah berhenti bahkan pada puncak genosida. Ankara dan Baku adalah sekutu dekat, tetapi mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang Israel," imbuh dia.
Dia menambahkan: "Sejauh ini mereka berhasil mengatasi perbedaan ini, tetapi karena Israel semakin memperlakukan Turki sebagai musuh, hubungan tersebut, dalam aspek ini, mungkin akan tertekan."
Turki kemudian mengkritik langkah tersebut, menggambarkan pengakuan Israel atas genosida Armenia sebagai keputusan "politik" yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian dari dugaan tindakan mereka sendiri.
“Pemerintah Israel, yang secara sistematis menganiaya rakyat Palestina di depan mata seluruh dunia dan sedang diadili di Mahkamah Internasional atas tuduhan melakukan genosida terhadap rakyat Gaza, berupaya menutupi kejahatan mereka sendiri melalui keputusan politik yang telah mereka ambil terkait peristiwa tahun 1915,” kata Kementerian Luar Negeri Turki dalam sebuah pernyataan.
"Turki akan terus bekerja dengan tegas untuk mengakhiri kebijakan ekspansionis dan destabilisasi Israel di kawasan ini," paparnya.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah menjadi kritikus vokal terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bahkan kadang-kadang membandingkannya dengan pejabat Nazi.
Kedua negara juga berselisih di Suriah, di mana Israel telah berupaya melemahkan pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa yang didukung oleh Turki.
Langkah Israel Ironis
Langkah rezim Zionis Israel ini juga dikecam sebagai ironis oleh para komentator di media sosial, yang mencatat bahwa perang brutal Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, dengan para pejabat Zionis menyerukan penghancuran lebih lanjut di wilayah tersebut.
Lihat Juga :