Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Senin, 29 Juni 2026 - 11:13 WIB
loading...
Presiden Vladimir Putin akui Rusia krisis bahan bakar akibat serangan berulang militer Ukraina. Namun, skala krisis ini tidak pada level kritis. Foto/Sputniknews
A
A
A
MOSKOW - Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bahwa negaranya menderita "kekurangan tertentu" bahan bakar setelah serangan berulang militer Ukraina. Pengakuan langka Putin ini disampaikan dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh Kremlin pada hari Minggu.
Kyiv menyebut serangan militernya sebagai pembalasan yang adil atas gempuran hampir setiap hari oleh Rusia terhadap warga sipil dan infrastruktur energi Ukraina sejak perang pecah Februari 2022.
Baca Juga: Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
"Mengenai serangan terhadap infrastruktur penting secara umum, dan infrastruktur energi khususnya, tentu saja serangan terhadap fasilitas infrastruktur kami ini menimbulkan masalah, itu jelas," kata Putin.
"Saat ini kami mengamati kekurangan tertentu, tetapi tidak kritis," lanjut Putin, yang dikutip AFP, Senin (29/6/2026).
Tugas utama sekarang, kata Putin, adalah meningkatkan kapasitas pertahanan anti-pesawat Rusia dan memastikan pasokan bahan bakar, khususnya ke Crimea.
Dalam wawancara tersebut, Putin juga mengharapkan tim negosiator Amerika Serikat (AS) datang ke Moskow untuk membahas pengakhiran perang Ukraina setelah Washington tidak lagi terlalu sibuk dengan Iran dan konflik Timur Tengah.
Pihak berwenang di Crimea—wilayah Ukraina yang sekarang dikuasai Rusia—pada Jumat pekan lalu menyatakan "situasi darurat" atas kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik yang dipicu oleh serangan Ukraina terhadap rantai logistik dan fasilitas minyaknya.
Rusia mencaplok wilayah tersebut dari Ukraina pada tahun 2014, sebuah langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional. Namun Moskow menolak narasi aneksasi, mengeklaim bahwa Crimea memilih bergabung ke Rusia melalui referendum.
Beberapa jam sebelumnya, dalam pidato di kongres Partai Rusia Bersatu, Putin berjanji untuk memastikan keamanan dan mengatasi tantangan saat Ukraina meningkatkan serangan balasan di dalam Rusia.
"Ya, kami melihat masalahnya, kami menyadarinya dan sedang meresponsnya, tetapi kami pasti akan memastikan keamanan negara dan warga negara kami, serta keutuhan perbatasan Rusia," kata Putin kepada anggota partai.
"Kami pasti akan mengatasi semua tantangan yang kami hadapi saat ini, termasuk serangan teroris di wilayah dan fasilitas infrastruktur kami," imbuh dia.
Pidato Putin disampaikan beberapa jam setelah serangan pesawat tak berawak Ukraina menewaskan satu orang di wilayah Krasnodar selatan Rusia dan memicu kebakaran di sebuah kilang minyak, menurut gubernur regional Veniamin Kondratyev.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut serangan itu sebagai bagian dari "operasi yang melemahkan kemampuan Rusia untuk melancarkan perang ini".
"Kilang minyak Slavyansk di wilayah Krasnodar terkena serangan—sekitar 300 kilometer dari garis depan. Kami juga mencapai kilang di wilayah Yaroslavl, sekitar 700 kilometer dari perbatasan kami," kata Zelensky pada hari Minggu.
Pekan lalu, serangan Ukraina lainnya menyebabkan kebakaran besar di kilang di tenggara Moskow, menyelimuti pinggiran ibu kota dengan kepulan asap hitam tebal.
Beralih ke kemungkinan perundingan untuk mengakhiri perang dengan Ukraina, Putin mengatakan: "Kami berharap setelah semua peristiwa berakhir, setelah fase aktif di jalur Iran berlalu, kami akan melihat kedatangan perwakilan pemerintahan AS yang telah berulang kali kami temui di Moskow."
Bagian wawancaranya ini—dengan jurnalis Rusia Pavel Zarubin—tidak dipublikasikan oleh Kremlin tetapi dikutip oleh media Rusia. Zarubin juga mempublikasikannya di platform Telegram.
"Kami siap untuk melanjutkan negosiasi dan siap untuk membahas semua detailnya," imbuh Putin.
Putin menjawab pertanyaan tentang keadaan hubungan Rusia-AS setelah KTT G7 di Prancis, ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan Rusia harus membuat kesepakatan dengan Ukraina.
Pada hari Rabu, Trump mengatakan Zelensky berkinerja baik dalam perang melawan Rusia, setelah sebelumnya mengatakan dia kekurangan "kartu" untuk menang.
Para analis mengatakan Ukraina semakin mampu bertahan di medan perang, tetapi kota-kotanya masih menjadi target serangan mematikan Rusia dalam konflik yang kini telah berlangsung lebih lama daripada Perang Dunia I.
Kyiv menyebut serangan militernya sebagai pembalasan yang adil atas gempuran hampir setiap hari oleh Rusia terhadap warga sipil dan infrastruktur energi Ukraina sejak perang pecah Februari 2022.
Baca Juga: Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
"Mengenai serangan terhadap infrastruktur penting secara umum, dan infrastruktur energi khususnya, tentu saja serangan terhadap fasilitas infrastruktur kami ini menimbulkan masalah, itu jelas," kata Putin.
"Saat ini kami mengamati kekurangan tertentu, tetapi tidak kritis," lanjut Putin, yang dikutip AFP, Senin (29/6/2026).
Tugas utama sekarang, kata Putin, adalah meningkatkan kapasitas pertahanan anti-pesawat Rusia dan memastikan pasokan bahan bakar, khususnya ke Crimea.
Dalam wawancara tersebut, Putin juga mengharapkan tim negosiator Amerika Serikat (AS) datang ke Moskow untuk membahas pengakhiran perang Ukraina setelah Washington tidak lagi terlalu sibuk dengan Iran dan konflik Timur Tengah.
Pihak berwenang di Crimea—wilayah Ukraina yang sekarang dikuasai Rusia—pada Jumat pekan lalu menyatakan "situasi darurat" atas kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik yang dipicu oleh serangan Ukraina terhadap rantai logistik dan fasilitas minyaknya.
Rusia mencaplok wilayah tersebut dari Ukraina pada tahun 2014, sebuah langkah yang tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional. Namun Moskow menolak narasi aneksasi, mengeklaim bahwa Crimea memilih bergabung ke Rusia melalui referendum.
Beberapa jam sebelumnya, dalam pidato di kongres Partai Rusia Bersatu, Putin berjanji untuk memastikan keamanan dan mengatasi tantangan saat Ukraina meningkatkan serangan balasan di dalam Rusia.
"Ya, kami melihat masalahnya, kami menyadarinya dan sedang meresponsnya, tetapi kami pasti akan memastikan keamanan negara dan warga negara kami, serta keutuhan perbatasan Rusia," kata Putin kepada anggota partai.
"Kami pasti akan mengatasi semua tantangan yang kami hadapi saat ini, termasuk serangan teroris di wilayah dan fasilitas infrastruktur kami," imbuh dia.
Pidato Putin disampaikan beberapa jam setelah serangan pesawat tak berawak Ukraina menewaskan satu orang di wilayah Krasnodar selatan Rusia dan memicu kebakaran di sebuah kilang minyak, menurut gubernur regional Veniamin Kondratyev.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut serangan itu sebagai bagian dari "operasi yang melemahkan kemampuan Rusia untuk melancarkan perang ini".
"Kilang minyak Slavyansk di wilayah Krasnodar terkena serangan—sekitar 300 kilometer dari garis depan. Kami juga mencapai kilang di wilayah Yaroslavl, sekitar 700 kilometer dari perbatasan kami," kata Zelensky pada hari Minggu.
Pekan lalu, serangan Ukraina lainnya menyebabkan kebakaran besar di kilang di tenggara Moskow, menyelimuti pinggiran ibu kota dengan kepulan asap hitam tebal.
Siap untuk Berunding
Beralih ke kemungkinan perundingan untuk mengakhiri perang dengan Ukraina, Putin mengatakan: "Kami berharap setelah semua peristiwa berakhir, setelah fase aktif di jalur Iran berlalu, kami akan melihat kedatangan perwakilan pemerintahan AS yang telah berulang kali kami temui di Moskow."
Bagian wawancaranya ini—dengan jurnalis Rusia Pavel Zarubin—tidak dipublikasikan oleh Kremlin tetapi dikutip oleh media Rusia. Zarubin juga mempublikasikannya di platform Telegram.
"Kami siap untuk melanjutkan negosiasi dan siap untuk membahas semua detailnya," imbuh Putin.
Putin menjawab pertanyaan tentang keadaan hubungan Rusia-AS setelah KTT G7 di Prancis, ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan Rusia harus membuat kesepakatan dengan Ukraina.
Pada hari Rabu, Trump mengatakan Zelensky berkinerja baik dalam perang melawan Rusia, setelah sebelumnya mengatakan dia kekurangan "kartu" untuk menang.
Para analis mengatakan Ukraina semakin mampu bertahan di medan perang, tetapi kota-kotanya masih menjadi target serangan mematikan Rusia dalam konflik yang kini telah berlangsung lebih lama daripada Perang Dunia I.
(mas)
Lihat Juga :